Diposkan pada Cerpen

Kamar VIP 101

menunggu

Rian berjalan memasuki sebuah rumah sakit dengan langkah tegap. Jas putih kebanggaannya sudah melekat rapi di tubuhnya yang proporsional. Sesekali ia memegangi gagang kacamatanya sembari tersenyum ramah kepada siapa saja yang ia temui.

Lanjutkan membaca “Kamar VIP 101”

Iklan
Diposkan pada Cerpen

Rinjani, Selamat Tinggal

rinjani

“Ada yang bisa kami bantu Bu?”

Seorang wanita usia 20 tahunan menyapaku dengan ramah. Aku menatapnya sembari tersenyum. Garis-garis wajahku tertarik ke kanan dan kiri pipiku menciptakan keriput berlapis-lapis di sana.

Lanjutkan membaca “Rinjani, Selamat Tinggal”

Diposkan pada Akhlak dan Nasehat, My Diary, Sosok

Hijrah, Bukan Hanya Niat Tapi Juga Aksi

Hijrah

Kisah hijrah seseorang memang berbeda, namun setiap kisah punya kesan dan pesan tersendiri di dalamnya. Kali ini aku akan menceritakan kisah hijrah seorang muslimah yang kukenal di sekitar pertengahan tahun 2013 lalu. Pertama kali bertemu dan berkenalan dengannya saat aku dan Mega memutuskan kos di daerah Jombor, Sleman, Yogyakarta.

Lanjutkan membaca “Hijrah, Bukan Hanya Niat Tapi Juga Aksi”

Diposkan pada My Diary

Cerita Remeh Temeh – Sahabat 13 ½ Tahun

sahabat

Tepat tanggal 1 Januari kemarin aku menghubungi dua orang yang istimewa. Yang satu sedang berada di pulau Jawa sana, menuntaskan apa yang harus dituntaskan dengan cita-cita mulia; setelahnya bisa segera menikah > sebut saja namanya Mega 😀 Sementara yang satu lagi berada di kamarnya dengan perasaan nelangsa karena pesonanya yang dulu begitu kuat semasa SMA kini perlahan mulai luntur dan hilang > sebut saja namanya Fera 😀

Lanjutkan membaca “Cerita Remeh Temeh – Sahabat 13 ½ Tahun”

Diposkan pada My Diary

Nostalgia Masa Kuliah

Karena status salah seorang sahabat jaman kuliah dulu (sampai sekarang juga masih sahabat, insya Allah), saya jadi teringat dengan masa-masa itu, masa-masa kuliah, masa akhir remaja yang penuh dengan cerita.

Dulu, delapan tahun lalu saya menjadi mahasiswa baru di Jurusan Biologi Universitas Negeri Makassar bersama seratusan mahasiswa yang lain. Kala itu saya belum mengenal siapapun kecuali teman-teman dari SMA yang sama, yang kesemuanya adalah lelaki 😀

Namun seiring berjalannya waktu, yang awalnya saling malu-malu karena masih baru dan lugu, lama-kelamaan akhirnya ‘tidak tahu malu’ 😀 Kami mengenal satu sama lain, menjadi dekat, menjadi akrab, menjadi kompak. Khususnya kami yang berada dalam satu kelas, yakni kelas B, kelas yang tentu saja istimewa dan menyimpan banyak kenangan indah untuk kami semua.

Lanjutkan membaca “Nostalgia Masa Kuliah”

Diposkan pada My Diary

Hari Kesatu Tahun

Jogja, 16 Agustus 2014

Saya sedang berfikir bagaimana saya mengawali catatan kali ini. Banyak hal yang ingin saya tuliskan, banyak kabar gembira yang datang bertandang. Allah sungguh Maha Baik, tak satu pun apa yang saya miliki saat ini kecuali karena izin-Nya, karena keberkahan-Nya. Sebut saja tentang pekerjaan yang bisa dikatakan mudah saya dapatkan, lalu kemudian kabar gembira bahwa satu-persatu orang terdekat saya kini mau berjilbab syar’i dan mau belajar Islam lebih dalam. Subhanallah, Alhamdulillah sungguh semua adalah kemurahan Allah.

Dan hari ini, di hari tepat satu tahun saya tinggal di Jogja, saya mendapat hadiah dari sahabat-sahabat dan orang-orang yang mencintai saya, insyaAllah. Mungkin masih ada yang ingat cerita tentang sepeda (bukan punya) saya yang menghilang di Maskam UGM dan sekarang entah berada di mana. Sepeda yang menjadi sahabat saya dalam kondisi cuaca apapun beberapa saat lalu. Hari ini, ya hari ini, saya mendapatkan penggantinya. Alhamdulillah.

Lanjutkan membaca “Hari Kesatu Tahun”

Diposkan pada Cerpen, My Diary

Kagum (Sore Terindah)

Rasa kagum biasanya menjadi awal dari rasa suka kita pada seseorang. Seperti rasa suka gue ma sahabat gue, Eya. Awalnya, gue kagum ma tuh makhluk berwujud perempuan, kemudian suka, dan akhirnya sampai sekarang kami sahabatan. Gue kagum dengan kecuekannya yang belakangan gue tahu dia bukan cuek tapi dasar polos banget. Kagum ma style dia waktu pertama kali lihat dia di sekolah pas pendaftaran ulang siswa baru; rambut pendek, baju kaos, celana jeans, dan tas punggung yang setia menempel di pundaknya, yang gue yakin saat itu bukan cuman gue aja yang terpana dengan kharisma sahabat gue itu. Dan memang benar, ternyata Gea diam-diam juga mengagumi Eya saat itu. Yah saat itu aja, soalnya sekarang kita-kita udah tahu ‘ancur’nya tuh anak yang mengakibatkan kekaguman kita-kita luntur seketika, xixixi 😀

Sama seperti kekaguman gue ma Eya, gue juga kagum ma seorang pria yang tak lain teman kelas gue sendiri saat kelas 2 SMU. Dia tampan, berkulit putih, tinggi, dan terlihat atletis. Tapi bukan itu yang buat gue kagum ma Bagas. Ada satu hal yang cuman dimiliki oleh Bagas dan nggak dimiliki oleh teman gue yang lain, yaitu ketulusan hatinya. Sangat tulus.

Lanjutkan membaca “Kagum (Sore Terindah)”