Cerpen · My Diary

Kagum (Sore Terindah)

Rasa kagum biasanya menjadi awal dari rasa suka kita pada seseorang. Seperti rasa suka gue ma sahabat gue, Eya. Awalnya, gue kagum ma tuh makhluk berwujud perempuan, kemudian suka, dan akhirnya sampai sekarang kami sahabatan. Gue kagum dengan kecuekannya yang belakangan gue tahu dia bukan cuek tapi dasar polos banget. Kagum ma style dia waktu pertama kali lihat dia di sekolah pas pendaftaran ulang siswa baru; rambut pendek, baju kaos, celana jeans, dan tas punggung yang setia menempel di pundaknya, yang gue yakin saat itu bukan cuman gue aja yang terpana dengan kharisma sahabat gue itu. Dan memang benar, ternyata Gea diam-diam juga mengagumi Eya saat itu. Yah saat itu aja, soalnya sekarang kita-kita udah tahu ‘ancur’nya tuh anak yang mengakibatkan kekaguman kita-kita luntur seketika, xixixi😀

Sama seperti kekaguman gue ma Eya, gue juga kagum ma seorang pria yang tak lain teman kelas gue sendiri saat kelas 2 SMU. Dia tampan, berkulit putih, tinggi, dan terlihat atletis. Tapi bukan itu yang buat gue kagum ma Bagas. Ada satu hal yang cuman dimiliki oleh Bagas dan nggak dimiliki oleh teman gue yang lain, yaitu ketulusan hatinya. Sangat tulus.

Dulu, seorang pria rela basah kuyup di atas motor demi nganterin gue pulang. Selidik punya selidik ternyata dia naksir kakak gue. Glek. Pernah juga ada yang muji-muji gue, cek-percek dia Cuma mau jadiin gue ‘kacungnya’ buat nyemprotin farpum ke badannya. Gue nggak terima dong, gue semprot aja pas di matanya biar tahu rasa. Punya tangan kok nggak dipakai. Dan masih banyak lagi orang lain yang ternyata nggak benar-benar tulus.

Beda dengan Bagas. Dia salah satu contoh spesies Homo sapiens yang berakhlak baik lagi santun. Setiap kali ia melakukan sesuatu pastilah selalu disertai dengan ketulusan tanpa embel-embel ‘selidik punya selidik’ atau ‘cek-percek’.

Suatu ketika, Eya datang ke kelas gue pengin minjam penggaris. Sayangnya penggaris gue cuman satu dan pengin gue pakai juga. Alhasil dia nggak dapat pinjaman dari gue. Dia berjalan gontai menuju pintu. Tapi belum sepenuhnya meninggalkan kelas, tiba-tiba Bagas manggil dia…

“Mau minjam penggaris ya?” Tanya Bagas basa basi.

“Iya Gas, tapi Eda cuman punya satu dan dia juga mau pakai sekarang.” Jawab Eya lesu.

“Aku ada kok…” Jawab Bagas sambil tersenyum dan meruntuhkan kebuntuan Eya. “Tunggu ya…” sambungnya sambil mengeluarkan sebuah mistar panjang 30 cm. Dan dengan gagahnya ia mematah mistar itu menjadi dua bagian. Eya melongo, gue pun begitu. “Nih…” lanjut Bagas memberikan salah satu potongan mistar itu pada Eya. Eya menatap Bagas tak percaya. Gue, meleleh di tempat.

“Tapi…,” Eya sampai nggak bisa ngomong apa-apa. Dan gue diam-diam menjelma jadi air lalu masuk melalui pori-pori Bagas, memeriksa hati pria itu. Terbuat dari apakah?

“Nggak papa kok. Udah pakai aja…” Kata Bagas tersenyum tulus, sangat tulus. Gue bisa lihat itu dari kedua bola matanya yang bening.

Tadinya gue mengira, itulah adegan yang paling sweet yang bakal gue lihat sepanjang sisa waktu gue di SMU, tapi gue salah. Karena ternyata masih ada adegan yang sangat mengagumkan dari seorang Bagas yang semakin buat gue terkagum-kagum. Dan kali ini gue lah wanita beruntung itu *klepek-klepek kayak ikan 😀

Saat itu hanya ada gue dan Bagas. Kami menyusuri jalan menuju halte tempat gue biasanya nunggu angkutan umum. Di tengah perjalanan yang hanya diisi dengan obrolan ringan tentang sekolah dan pelajaran, hujan tiba-tiba aja turun. Gue yang rumahnya jauh banget dari sekolah nggak ada niat sedikitpun untuk menepi. Gue memilih bersahabat dengan hujan sore itu karena menunggunya berhenti hanyalah perbuatan yang buang-buang waktu sedang hari semakin gelap. Gue nggak mau kemalaman ampe rumah.

Tanpa dinyanah, Bagas dengan sigap mencopot almamater yang sedang melekat di tubuhnya. Cepat-cepat diberikannya almamater itu ke gue yang mulai basah. “Nih, pakai aja…” katanya tersenyum memberikan almamater berwarna biru, sebiru hati gue sore itu. Hangat. Bukan karena almamater yang gue pakai tapi karena lebih kepada sikap Bagas yang begitu hangat pada semua orang.

Oh My God, ini benar-benar nyata kan? Adegan yang biasanya hanya ada di film-film beneran kejadian di gue kan? Tahukah kalian semua, untuk beberapa saat gue berasa jadi Anjali dan dia jadi Rahul di dalam film Kuch Kuch Hota Hai. Dan elu tahu Gaes, itulah sore terindah yang pernah gue alami sepanjang sejarah di SMU. Yihaa.

Seperti sebuah kalimat bijak yang udah sering wara-wiri, bahwa apa pun yang asalnya dari hati, maka akan sampai pula di hati. Dan itulah yang dirasakan oleh kami semua. Kehilangan orang paling baik yang pernah kami kenal begitu terasa saat Bagas mutusin pindah sekolah. Bahkan guru-guru pun ikut menangis saat Bagas berpamitan dan menyalami kami satu-persatu.

Dia berjalan mendekati gue dengan mata berkaca. Mengulurkan tangan kanannya sebagai salam perpisahan. Gue sempat menatap telapak tangannya, betapa besar dibanding telapak tangan gue. Ini telapak tangan apa mangkok ya? *ditimpuk mangkok. Yang lain pada nangis, gue malah sempat-sempatnya mikirin hal lain, xixixi.

Akhirnya Bagas pergi ninggalin gue dan teman-teman. Semuanya menangis kecuali gue. Gue nggak nangis. Gue mutusin nggak nangis di depan teman-teman yang lain. Gue cuman nggak mau yang lain ngira gue patah hati banget ampe tujuhpuluh lima patahan dan seratus jahitan karena keputusan Bagas ninggalin gue dan kita semua. Gue milih menghindar dan nangis berjamaah bersama Eya dan Gea di belakang kelas biar pahalanya berlipat ganda. Kami nangis kehilangan Bagas, kehilangan sosok yang diam-diam kami kagumi bersama. Kami nangis karena Bagas udah ninggalin kita-kita untuk selamanya… *Bagasnya asah golok, hehehe😀

Well, rasa kagum itu wajar karena beberapa orang memang diciptakan layak untuk kita kagumi. Tapi jangan lupa Gaes, rasa kagum kadang bisa menjerat hati kita kepada hal yang sia-sia bahkan kepada maksiat. Ketika elu mengagumi seseorang cukuplah ia elu tempatkan di permukaan hati, karena di dalam hati hanya boleh ada Allah dan Rasulullah.

Yup, idola kita yang pertama adalah Rasulullah, orang pertama yang harusnya kita jatuhi rasa kagum adalah Rasulullah. Dialah pria terbaik sepanjang sejarah, bahkan kebaikan beliau masih kita rasakan hingga sekarang, yakni indahnya Islam. Orang seperti Bagas tentu tidak akan pernah ada ketika Islam juga tidak pernah ada.

Lagipula kelak di akhirat, kita-kita bakal dikumpulin ama orang yang kita cintai, yang kita idolai, yang kita kagumi. So Gaes, jangan salah mengagumi seseorang. Kagumilah yang jelas-jelas sudah dijamin masuk Surga oleh Allah dan dialah baginda Rasulullah Sallallahu’alai Wa Sallam. Bukan para artis Korea –_-

_Nurhudayanti Saleh_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s