Diposkan pada Akhlak dan Nasehat, Cerpen, My Diary

Mengejar Koran

560240_10204059610276606_8795847156539294400_n

Nggiiikkk…

Mungkin begitulah bunyi suara rem si Ungu. Meski ini tanggal 14 Februari, aku sama sekali tak berniat merubah si Ungu menjadi Merah Jambu. Dan karena hari ini tanggal 14, aku memutuskan untuk berhenti di depan sebuah gardu kecil. Kutatap barisan Koran yang terpajang di depan gardu. Kubaca nama korannya satu per satu.

Haria Jogja, Harian Jogja…

Lanjutkan membaca “Mengejar Koran”

Iklan
Diposkan pada Cerpen, My Diary

Jodoh, Putar Haluan

Dia mengenalnya sejak dulu, sejak masih sama-sama ingusan duduk di bangku sekolah dasar. Mereka dua orang murid yang berprestasi dan dikenal sebagai anak yang supel. Meninggalkan sekolah dasar, mereka kembali dipertemukan di sekolah yang sama. Tak ada yang berubah, semua masih sama, mereka masih menjadi siswa dan siswi yang berprestasi, banyak disukai orang karena keramahan masing-masing.

Lalu tiga tahun pun berlalu, keduanya memilih jalan masing-masing. Tak ada komunikasi yang berarti di antara keduanya. Layaknya teman kebanyakan, mereka hanya bertemu setahun sekali ketika acara reuni sekolah di hari lebaran.

Lanjutkan membaca “Jodoh, Putar Haluan”

Diposkan pada Akhlak dan Nasehat, My Diary

Yang Perlu Kita Lakukan

Dalam hidup ada saja yang membuat kita ingin menyerah dan behenti berharap. Ada saja yang membuat kita ingin berteriak sekeras-kerasnya. Ada saja yang membuat hati kita terasa sesak. Ada saja yang membuat kita menitikkan air mata.

Tidak jarang ada yang akhirnya memilih benar-benar menyerah dan pulang tanpa hasil kecuali kegagalan, ada yang memilih menjadi seseorang yang mengemis kemurahan hati orang lain, ada yang mengambil jalan pintas menghalalkan segala cara termasuk dengan mengakhiri hidupnya sendiri.

Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan? Jalan apa yang seharusnya kita tempuh jika dihadapkan pada sebuah pilihan yang sulit? Apa yang bisa membuat kita bertahan?

Lanjutkan membaca “Yang Perlu Kita Lakukan”

Diposkan pada Akhlak dan Nasehat, Serba-serbi

Coba Saja Sendiri

Apa nggak panas? Nggak gerah? Nggak ribet? Nggak ganggu aktivitas? Nggak takut keserimpet? Nggak takut nggak dapat kerja?

Dan lain sebagainya. Begitulah kurang lebih pertanyaan yang muncul di kepala orang-orang ataupun yang terlontar dari mereka yang masih menatap aneh seorang wanita yang berjilbab syar’i.

Tidak salah, pertanyaan tersebut wajar-wajar saja karena mereka tidak tahu, tidak pernah mencoba sehingga tidak pernah merasakan. Hanya saja, yang sedikit salah adalah ketika kita menjudge dan menghakimi padahal kita sendiri belum pernah mencoba untuk memakai jilbab syar’i.

Saya bisa menjawab semua pertanyaan itu karena saya sudah mengenakan jilbab syar’i sejak 8 tahun lalu. Selama itu saya sama sekali belum pernah mengeluh kepanasan kecuali di awal-awal memakai jilbab, setelahnya saya merasa adem-adem saja, bahkan dengan berjilbab syar’i saya cuukup terlindung dari sengatan matahari yang memanggang.

Lanjutkan membaca “Coba Saja Sendiri”

Diposkan pada My Diary

Memaklumi

Beberapa minggu yang lalu saat kuliah, seorang dosen ‘tertangkap basah’ mengakui ketidaksukaannya terhadap wanita yang berjilbab panjang atau yang bercadar. Menurutnya berjilbab syar’i bisa mengurangi kinerja seorang pendidik. Hal tersebut ia katakan saat membawakan perkuliahan. Dia tidak tahu, ternyata satu dari semua peserta kuliah yang hadir ada yang berjilbab panjang, yaitu saya.

Saya hanya tersenyum datar dan mulai tidak simpatik terhadap sang dosen. Saya tahu sang dosen berani berpendapat demikian karena tidak menyadari keberadaan saya. Karena itulah, sang dosen nampak begitu terkejut saat saya berdiri dari tempat duduk untuk meminta izin shalat ashar. Jilbab panjang saya terlihat jelas saat itu. Sang Dosen benar-benar kaget dan cukup malu mengingat ‘cerita belakang’nya tadi yang sedikit banyak ‘menyinggung’ saya 🙂


Nah, kemarin saya kembali bertemu dengan sang dosen dalam kuliah yang sama. Perasaan saya masih belum berubah, saya masih tidak sesimpatik sebelumnya. Lama sang dosen menerangkan, sampai akhirnya dia mengungkapkan sebuah ‘pengakuan’.

Lanjutkan membaca “Memaklumi”

Diposkan pada My Diary

Sudah Biasa

ways-to-make-someone-smile

Lagi-lagi aku hanya bisa membentuk garis melengkung di bibirku. Tak banyak yang bisa terucap dan memang tak ada yang harus kujelaskan penjang lebar. Aku sudah biasa mendengar pertanyaan senada bahkan sindiran yang biasa pula. Di saat seperti itu aku selalu merindukan teman-teman akhwatku, mereka yang selalu menuntut ilmu agama (tarbiyah) karena betul sekali bahwa orang yang berilmu (agama) dan yang tidak, sangat jauh berbeda. Berbeda pola pikir, berbeda cara menghadapi dan menanggapi sesuatu hal.

Kenapa berhenti kuliah?

Kamu bego kali?

Kamu lebih mengedepankan organisasi ya?

Dan masih banyak pertanyaan lainnya, pertanyaan yang menggores hatiku dulu tapi kini aku sudah terbiasa.

Saat SMA, aku pernah membaca sebuah kutipan di sebuah kelender kenang-kenangan dari penerbit Grafindo. Di kutipan itu tertulis kurang lebih seperti ini; Dalam sebuah kapal tidak semua orang menjadi kapten, ada yang menjadi koki, tukang bersih-bersih, dan lain sebagainya. Begitu pun dengan kehidupan ini.  Tidak semua orang menjadi Presiden, tidak semua orang menjadi dokter, guru, pilot, dan sebagainya. Selalu ada yang berperan ‘kecil’ seperti tukang sapu jalanan, penjual asongan, pengamen, dan kawan-kawannya karena jika tidak ada yang berperan demikian akan jadi apa dunia ini? Pastilah akan begitu kacau balau.

Lanjutkan membaca “Sudah Biasa”

Diposkan pada Akhlak dan Nasehat

Obat ‘Kecil Hati’

keep-calm-and-terus-berusaha

Kadang saya merasa kecil hati saat tahu salah seorang teman saya berhasil menerbitkan bukunya di penerbit mayor atau berhasil memenangkan sebuah lomba menulis bergengsi. Saya merasa kemampuan saya sangat jauh berbeda dengan mereka. Saya kemudian bertanya di dalam hati, apa yang salah? Ah, pasti ada yang tidak saya lakukan dan mereka lakukan.

Mungkin saya kurang fokus, kurang belajar, kurang kerja keras. Mungkin juga tulisan saya terlalu monoton, terlalu to the point, terlalu sederhana. Mungkin juga tulisan saya kurang indah, kurang nyastra, dan kurang-kurang lainnya. Ya, tentu tulisan saya memiliki kekurangan sehingga tidak jarang mengalami penolakan dan kegagalan.

Lanjutkan membaca “Obat ‘Kecil Hati’”