Akhlak dan Nasehat · Cerpen · My Diary

Mengejar Koran

560240_10204059610276606_8795847156539294400_n

Nggiiikkk…

Mungkin begitulah bunyi suara rem si Ungu. Meski ini tanggal 14 Februari, aku sama sekali tak berniat merubah si Ungu menjadi Merah Jambu. Dan karena hari ini tanggal 14, aku memutuskan untuk berhenti di depan sebuah gardu kecil. Kutatap barisan Koran yang terpajang di depan gardu. Kubaca nama korannya satu per satu.

Haria Jogja, Harian Jogja…

Kataku dalam hati sambil meneliti setiap Koran di depan mataku.

Aha, itu dia.

Sorakku kegirangan namun lagi-lagi hanya di dalam hati. Aku masih ingat peristiwa kemarin. Seorang wartawati datang untuk meliput kajian kami. Tak ada yang mengundangnya sama sekali. Ya, mungkin ia sedang butuh berita.

Wanita berambut panjang itu menanyakan inti dari kajian yang kami laksanakan. Namun sebelum kami memberi jawaban, kami memberikannya pertanyaan terlebih dahulu. Kami tanyakan dari mana ia mengetahui acara kami.

“Oh, kemarin saya datang ke kampus untuk melihat-lihat. Lalu kebetulan melihat poster acara kajian ini di mading. Dan saya rasa ini kajian yang menarik.”

Begitulah jawabannya. Hem, bisa diterima. Meski sebenarnya kajian kami bukanlah satu-satunya kajian di hari itu yang membahas tanggal 14 Februari.

Kuambil Koran yang sedari tadi kuincar. Kuhempaskan ingatan tentang wartawati itu. Kubolak-balik dengan hati-hati sembari mencari artikel yang dijanjikan sang wartawati akan terbit hari ini. Nihil. Setelah kutelusuri, tak kudapati artikel tentang acara kami.

Kutarik nafas dan kuhembuskan perlahan. Aku coa berfikir realistis. Tidak mungkin artikel kami di letakkan di bagian paling atas. Mana mungkin? Sementara orang-orang masih pro dengan (katanya) hari peringatan kasih sanyang itu. Karena itu kubuka sekali lagi lembar demi lembar dan mencarinya di pojok bagian bawah.

Dan, aha. Dia benar-benar berada di sana. Di pojok bagian bawah dengan judul Remaja Jangan Latah. Baiklah, judulnya tidak melenceng. Sekarang giliran isinya. Kubaca setiap baris isi artikel pendek itu. sambil mengangguk-angguk kecil, aku menyetujui isi artikel yang ditulis wanita itu. Wanita yang tadinya ingin mengambil foto sang pemateri kajian, namun batal karena sang pemateri menolak karena saat itu ia menanggalkan cadarnya yang ia tinggalkan di dalam tas. Pemateri memberikan alternatif agar si wartawti mengambil gambar peserta saja, namun dari arah belakang.

Kulipat Koran itu dan kusodorkan uang kepada bapak penjual Koran. Seumur-umur, aku sangat jarang membeli Koran. Mungkin ini yang kedua kalinya atau bisa jadi yang pertama kalinya. Aku memisahkan halaman Koran yang ada artikel kegiatan kami dengan halaman yang lain lalu kutaruh begitu saja di dalam keranjang si Ungu.

Kukayuh kembali si Ungu dengan penuh semangat. Rasanya ingin sekali sampai di kosan dan memperlihatkan artikel itu pada sahabat. Maklum, ini pertama kalinya kegiatan kami diliput media. Mungkin terbaca norak, tapi inilah salah satu bentuk penghargaan kami kepada teman-teman yang sudah susah payah menyelenggarakan kajian ini, dengan ikut membaca artikel tersebut dan menyebarkannya.

Kukayuh lagi lebih kuat. Saking kuatnya, salah satu halaman koran yang bersandar di keranjang, terbang meninggalkanku jauh ke belakang. Dan kadar Allah, halaman yang terbang itu adalah halaman yang memuat artikel tentang kami😀

Ngiiiiiikkk….

Bunyi rem sekali lagi mememkikkan telinga. Aku menengok ke belakang dan memandang halaman Koran itu semakin menjauh tertiup angin kendaraan yang lalu lalang. Aku panik sekaligus cemas melihatnya semakin menjauh. Kuparkir si Ungu di dekat sebuah bengkel dan menitipkannya pada si bapak pemilik bengkel kemudian dengan bergegas menyeberangi jalan dan mengejar Koran.

Saat mengejar Koran dengan jilbab hitam berkibar-kibar, aku tiba-tiba teringat film komedi tempo dulu, Dono Kasino Indro. Saat ini, aku merasa seperti sedang syuting film komedi, si pemeran utama dengan konyolnya mengejar Koran yang sedang terbang menjauh darinya padahal di ujung Koran itu ada seutas benang yang menghubungkannya dengan seseorang yang menarik-narik Koran itu. Beruntung adegan itu hanya ada di dalam film komedi tempo dulu. Sekarang? Oh jangan ditanya, realitanya banyak orang yang rela ngos-ngosan asalkan korannya diganti dengan uang *ups😀

Happp….

Akhirnya kudapatkan kembali Koran itu. Segera aku kembali menyeberangi jalan dan…

Ngiiiikk…!!!!

Sebuah motor datang dari arah kiri, aku menoleh cepat dan…, tenang-tenang, ini bukan cerita sedih. Aku menatap si pengendara motor dan mengangguk sedikit sebagai perminta maaf karena tidak menengok ke arah kiri ketika akan menyeberang. Sejujurnya aku tidak merasa benar-benar bersalah. Wajar jika aku tidak menengok ke kiri karena jalan yang akan aku seberangi adalah jalan dua jalur sehingga aku merasa tidak perlu repot-repot menengok ke kiri.

Tapi, ya sudahlah mari kita lupakan adegan menahan nafas itu. Aku berlari kecil untuk segera kembali pada si Ungu yang sudah setia menanti sejak tadi. Sebelum pergi aku berterimakasih pada si bapak pemilik bengkel karena sudah menjaga si Ungu. Kali ini kutaruh Koran itu di dalam keranjang dan kutekan dengan plastik belanjaan.

Aku berdoa dalam hati semoga Koran itu tak terbang lagi sehingga aku tak perlu mengulang adegan mengejar Koran. Atau mungkin jika ia terbang lagi dan aku telah lelah, aku akan memutuskan untuk membiarkannya dan membeli Koran yang baru.

Lalu, apakah cinta pun begitu? Aku terus mengayuh si Ungu sembari memikirkan jawabaan pertanyaanku sendiri. Yang aku tahu, untuk mempertahankan sesuatu (milik kita), seseorang membutuhkan usaha dan doa. Ketika sesuatu itu pergi, maka buatlah ia kembali. Tapi ketika ia pergi lagi…, hem…, mungkin memang ia tidak lagi ditakirkan untukmu. Dan berdoa, semoga digantikan dengan yang lebih baik ^^

_Nurhudayanti Saleh_ (Jogja, 19-02-2015. Di antara hujan dan doa agar bapak cepat pulih kembali)     

2 thoughts on “Mengejar Koran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s