Akhlak dan Nasehat · My Diary

Yang Perlu Kita Lakukan

Dalam hidup ada saja yang membuat kita ingin menyerah dan behenti berharap. Ada saja yang membuat kita ingin berteriak sekeras-kerasnya. Ada saja yang membuat hati kita terasa sesak. Ada saja yang membuat kita menitikkan air mata.

Tidak jarang ada yang akhirnya memilih benar-benar menyerah dan pulang tanpa hasil kecuali kegagalan, ada yang memilih menjadi seseorang yang mengemis kemurahan hati orang lain, ada yang mengambil jalan pintas menghalalkan segala cara termasuk dengan mengakhiri hidupnya sendiri.

Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan? Jalan apa yang seharusnya kita tempuh jika dihadapkan pada sebuah pilihan yang sulit? Apa yang bisa membuat kita bertahan?

Jawabannya adalah melihat ke luar. Luangkan waktu dan lihatlah di sekitar kita. Betapa banyak hal yang bisa membuat kita kembali kuat. Betapa banyak hal yang bisa membuat kita kembali tersenyum. Betapa banyak hal yang dapat menenangkan hati.

Tidak bisakah kita melihat seorang yang lumpuh, dengan bermodalkan tongkatnya ia menawarkan dagangannya ke sana dan ke mari? Tidak bisakah kita melihat sepasang kakek dan nenek, di usianya yang sudah renta, mereka masih begitu terlihat romantis duduk di pinggir jalan menunggu orang lain membeli dagangan mereka? Lalu tidak bisakah kita melihat mereka yang lebih menderita dari kita namun memilih tetap berjuang dan malu untuk menyerah?

Aku mengenal seorang wanita. Dia seorang isteri, ibu, dan juga pendidik. Beberapa waktu lalu dokter memberitahukan kabar yang cukup mengguncang jiwanya. Dia mengalami gangguan di otak. Aku lupa persisnya, apakah pendarahan di otak kecil atau yang lain. Yang aku tahu, penyakitnya bukan penyakit biasa dan sangat serius.

Namun, tak pernah sekalipun aku mendengar dan melihatnya mengeluh hingga putus asa. Tak pernah sekalipun kudapati murung menghinggapi wajahnya yang mulai menua. Yang kudapati adalah sebaliknya. Dia begitu bersemangat, ceria, dan selalu berusaha menebarkan kebahagiaan di sekitarnya. Terlihat jelas bahwa ia melawan penyakitnya begitu kuat. Ia tak ingin orang-orang di sekitarnya merasa cemas akan diri dan keadaannya. Karena itu, orang-orang di sekitarnya bahkan dirinya sendiri seolah melupakan penyakit yang bersarang di otak itu. Pagi ini saja, aku dan dia masih bisa berlomba lari di depan anak-anak TK. Tahukah, di usianya yang sudah tak muda lagi ditambah penyakit yang dideritanya, dia tak kalah semangat dan kuat oleh kami-kami yang masih muda. Dia berlari sekuat-kuantnya bahkan mampu memimpin ‘perlombaan’ pagi tadi.

Mungkin yang kita alami hari ini, saat ini, dan detik ini belum sama beratnya dengan yang dialami oleh mereka yang ada di luar sana. Mungkin, Allah belum mengambil kaki-kaki kita, belum mengambil tempat tinggal kita, belum mengambil kesehatan kita. Lalu, mengapa kita begitu berputus asa? Mengapa kita begitu lemah? Mengapa kita begitu mudah menyerah dan ingin mundur? Lupakah kita pada janji Allah bahwa ujian yang kita terima hari ini tidak akan pernah melampaui batas kemamuan kita? Lupakah pada janji Allah bahwa di setiap kesulitan ada kemudahan?

Yah, yang perlu kita lakukan sederhana yaitu bertahan, bersabar, tersenyum, dan terus berdoa pada Allah. Minta pada-Nya kekuatan yang berlipat ganda karena hanya Allah lah satu-satunya tempat kita meminta. Dia yang memberikan masalah, maka Dia pulalah yang menyediakan jalan keluarnya. Dia yang memberi sakit, maka tentulah Dia pula yang menyediakan obatnya.

_Nurhudayanti Saleh_ (26 April 2014)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s