Diposkan pada Cerpen

Kamar VIP 101

menunggu

Rian berjalan memasuki sebuah rumah sakit dengan langkah tegap. Jas putih kebanggaannya sudah melekat rapi di tubuhnya yang proporsional. Sesekali ia memegangi gagang kacamatanya sembari tersenyum ramah kepada siapa saja yang ia temui.

“Widih…, ada dokter baru nih…” Seorang pria berperut buncit menghampiri Rian sembari menepuk pundaknya. “Apa kabar bro?” lanjutnya memeluk sang sahabat.

“Alhamdulillah baik.” Rian menjawab santai sembari balas memeluk erat. Ia meletakkan tas hitamnya di atas sebuah meja. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja di sebuah rumah sakit jiwa. Rian baru saja menyelesaikan S2 kedokteran spesialis penyakit jiwa di salah satu universitas di Jepang.

“Ah, baik apanya. Masih jomblo begini. Berarti ada yang sakit. Sakitnya di sini…” Akbar sang dokter berperut buncit menunjuk dada Rian tepat di jantung laki-laki tinggi itu. Rian hanya tertawa. “Jangan-jangan kamu belum bisa move on ya? Itulah akibatnya kalau cinta tapi cuma dipendam. Akhirnya malah disambar orang lain kan? Bung saya kasih tau, kalau cinta utarakan. Meski ditolak paling tidak hati terasa lega.”

“Hahaha…, isi pidato kamu belum berubah ya, masih sama aja. Ini udah empat tahun berlalu.” Rian mengingatkan sang sahabat agar tak mengungkit-ungkit masa lalu.

Rian dan Akbar sudah bersahabat sejak 10 tahun yang lalu. Mereka pernah menempuh perkuliahan di kampus yang sama ketika masih strata satu. Akbar tahu betul kisah cinta tak berbalas yang dirasakan oleh sang sahabat.

***

Rian berjalan mengelilingi rumah sakit. Sebagai dokter baru, ia harus tahu seluk beluk tempat ia bekerja. Beberapa ruangan ia lewati termasuk kamar para pasien. Rian memperhatikan seluruh kamar, dekorasi kamar-kamar yang ia lewati nampak sama sampai akhirnya ia melihat satu kamar yang berbeda dari kamar pasien yang lain. Kamar yang satu ini tak memiliki tempat tidur, sebagai gantinya ada sebuah sova panjang yang terletak pada salah satu sisi ruangan. Rian mengerutkan keningnya sambil menduga-duga mengapa kamar itu berbeda.

Masih melanjutkan berkeliling, Rian kini menatap ke arah taman belakang rumah sakit. Di sana terlihat beberapa pasien. Ada yang terlihat melamun seorang diri, ada yang duduk bersama dengan pasien yang lain, ada juga yang ditemani keluarga mereka. Lalu, tatapan Rian terpaku pada seseorang yang sedang duduk sendiri di sebuah bangku panjang. Laki-laki itu menebak jika yang satu itu pastilah bukan seorang pasien karena wanita itu memakai jas putih sepertinya. Tapi apa yang dilakukannya seorang diri di sana? Apakah ia baru saja menemui seorang pasien? Baru saja akan melangkah untuk mendekat dan menyapa, seorang dokter lain memanggil Rian untuk menemaninya memeriksa seorang pasien yang baru saja tiba.

“Kamu tahu pasien di kamar VIP 101?” Rian membuka-buka file beberapa pasien yang baru saja diterimanya dan akan menjadi tanggungjawabnya mulai saat ini.

“Tidak. Sejak bergabung sebulan yang lalu di rumah sakit ini aku belum pernah menangani pasien di VIP. Setauku itu wilayah kekuasaan dokter Risma sekarang. Kenapa?” Akbar memasukkan roti ke dalam mulutnya.

“Tidak apa-apa. Hanya ingin tahu. Nantilah aku tanya langsung ke dokter Risma.”

***

Akhirnya Rian tahu mengapa kamar yang satu itu berbeda. Ia sudah mendengar penjelasan dokter Risma, salah seorang dokter senior di rumah sakit tersebut. Pasien yang menghuni kamar itu adalah seorang pasien yang mengidap PTSD alias post traumatic stress disorder (gangguan pasca trauma). Sang pasien yang Rian lupa tanyakan namanya adalah korban kekerasan termasuk kekerasan seksual, sehingga ia akan diserang kepanikan jika melihat sesuatu yang mengingatkannya dengan kejadian nahas yang ia alami.

Tak terasa langkah kaki Rian menuntunnya kembali ke kamar itu, kamar VIP 101. Lagi-lagi kamar itu nampak sepi. Rian tak mendapati seorang pun di dalamnya. Ketika akan pergi, Rian melihat sebuah gelang tergeletak di atas meja di dalam kamar tersebut, sebuah gelang yang seketika itu juga mengingatkan Rian pada peristiwa di masa lalu.

Rian, ketika masih menempuh perkuliahan strata satu, ia diam-diam menyukai seorang wanita, teman kuliahnya. Benar kata orang tua dulu, cinta bisa tumbuh seiring kebersamaan dan berjalannya waktu. Dinar, dialah wanita yang mampu membuat hati Rian tergerak. Wanita itu memiliki sifat yang periang dan suka bercanda, namun hati wanita itu juga amatlah peka.

Tidak jarang Rian mendapati Dinar diam-diam menyeka kedua mata dengan ujung jilbabnya tatkala mereka sedang menangani pasien karena setiap pasien pasti punya ceritanya masing-masing. Perasaan Dinar terlalau halus, sedikit saja tersentuh, maka ia akan langsung menangis baik karena sedih maupun karena merasa bahagia.

Suatu ketika Rian mendapati Dinar sedang mengobati seorang anak kecil. Ketika sedang memeriksa, sang anak sedikit menolak karena takut disuntik. Dinar memperhatikan sang anak perempuan dengan seksama. Ia tahu sang anak sejak tadi memperhatikan pergelangan kiri Dinar. Dinar seketika itu melepas gelang yang dipakainya dan memberikan kepada sang anak dengan syarat anak perempuan itu tidak menolak untuk disuntik. Anak itu pun mengangguk setuju.

Rian terus menyimpan perasaannya dalam hati selama 6 tahun. Ketika masa-masa akhir di kampus, Rian mulai mengumpulkan keberanian untuk menyatakan perasaannya. Ia ingin menikahi wanita itu dan mengajaknya ke Jepang bersama-sama, wanita yang Rian tahu tak pernah menjalin hubungan dengan laki-laki manapun. Tapi di hari ketika ia akan menyatakan perasaannya, di saat itu pula Dinar datang dengan wajah riang gembira, membawa setumpuk undangan yang ia bagikan kepada teman-teman sekelas. Rian juga mendapatkan undangan berwarna merah marun itu, undangan pernikahan Dinar.

***

Bukan tidak ada wanita yang menarik perhatian Rian selama empat tahun terakhir. Ketika ia di Jepang ada seorang wanita yang nampak begitu jelas menyukainya. Wanita itu memberinya perhatian lebih dibanding teman-teman Indonesia yang lain yang sama-sama melanjutkan kuliah di negeri sakura. Tapi, entah mengapa, perhatian yang diberika wanita itu belum mampu menghapus bayang-bayang Dinar di dalam hatinya. Laki-laki itu masih saja menyimpan kenangan tentang wanita berparas manis itu. Benar kata Akbar, ia belum bisa melupakan Dinar seutuhnya meski ia terus membantah berkali-kali.

Langkah kaki Rian terhenti ketika melihat seorang wanita yang ia kenal baru saja berjalan meninggalkan rumah sakit. Rian segera menyusul wanita berambut sebahu itu. Ia yakin ia tidak salah mengenali.

“Silvi?” Rian menyapa wanita itu. Wanita itu pun menoleh dan cukup terkejut menatap Rian berdiri di hadapannya.

“Rian? Kamu kerja di sini? Sejak kapan?” Silvi menatap Rian yang masih mengenakan jas putihnya. Keterkejutan masih tergambar di wajah wanita itu.

“Iya. Aku baru di sini, belum seminggu. Kamu sendiri?” Rian tersenyum ramah. Melihat Silvi bayangan Dinar kembali bermain-main dalam kepalanya. Ia tahu, Silvi adalah sahabat dekat dari Dinar semasa kuliah dulu.

“Aku ke sini menemui seseorang.” Silvi balas tersenyum meski terlihat tidak benar-benar utuh. “Oh ya, maaf aku lagi buru-buru jadi harus pergi sekarang.” Lanjutnya kikuk.

“Oh ya.” Rian membalas singkat. Ia jadi salah tingkah dengan sikap Silvi yang menurutnya tak biasa, tak bersahabat seperti dulu.

Silvi langsung membalikkan badan dan melangkah meninggalkan Rian, tapi baru berjalan dua langkah sebuah buku tak sengaja jatuh dari genggaman Silvi ketika wanita itu berusaha memasukkannya ke dalam tas dengan tergesa.

Rian yang masih berada dekat dengannya spontan membantu Silvi memungut buku bersampul biru itu. Silvi buru-buru menghampiri Rian dan merebut buku itu dari tangan Rian dengan panik.

“Terima kasih.” Kata Silvi langsung memasukkan buku itu ke dalam tasnya. Ia tidak menunggu Rian mengatakan apapun, ia langsung berjalan pergi.

“Tunggu…” Rian memanggil wanita itu. “Kamu meninggalkan sesuatu…” Rian melangkah menyusul Silvi yang berdiri mematung menatap laki-laki itu. Silvi melihat Rian menggenggam sebuah foto, foto yang terjatuh dari sela-sela halaman buku tadi.

Silvi meraik nafas dalam ketika Rian mengulurkan foto itu di hadapannya, bukan untuk memberikannya tapi untuk meminta penjelasan mengapa Silvi memiliki foto itu, foto koas mereka dulu yang sengaja digunting dan hanya menyisakan gambar Rian dan Dinar di sana.

“Ambillah…” Silvi mengeluarkan kembali buku bersampul biru itu dan menyerahkannya kepada Rian. “Cepat atau lambat kamu pasti akan tahu. Tak ada gunanya aku menutup-nutupinya. Bacalah dan temui dia…” Mata Silvi terasa panas. Ia tak sanggup menahan air mata yang kini terasa menggantung dan akan jatuh membasahi pipinya. Silvi menatap keluar jendela rumah sakit ke arah taman belakang. Ia menatap dari jauh seorang wanita berjilbab dengan jas putih kebanggaannya sedang duduk bersama seorang perawat. Rian mengikuti arah tatapan Silvi dan tertegunlah ia melihat siapa wanita itu.

“Dinar…”

***

Hampir satu jam Rian menghabiskan waktu membaca buku bersampul biru itu yang tak lain adalah buku harian milik Dinar. Silvi masih berada di sampingnya, menyempurnakan potongan-potongan cerita dalam buku itu.

Hati laki-laki itu terasa sesak. Ia merasa bersalah dan amat menyesal. Ia menyesal mengapa dulu ia tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya dan mengajak menikah wanita yang ia cintai. Ia menggenggam erat buku bersampul biru itu. Ada kemarahan di dalam dadanya. Rian bertekad akan memperbaiki kesalahannya yang dulu mulai saat ini.

“Aku titip Dinar. Kurasa, yang ia tunggu selama ini adalah kamu Rian.” Silvi bangkit dari duduknya. Ia masih menatap Dinar dari balik kaca.

“Aku akan melakukan yang terbaik. Terima kasih telah menceritakan semuanya.” Rian ikut berdiri. Setelah berpamitan, Silvi meninggalkan laki-laki berkacamata itu seorang diri.

Rian menatap Dinar dengan perasaan penuh iba. Ia memperhatikan Dinar yang kini berdiri dari dudukya dan berjalan menuju sebuah kamar pasien ditemani oleh seorang perawat. Rian kembali mengingat kenyataan yang baru saja ia ketahui dari buku harian Dinar dan cerita Silvi.

Empat tahun lalu Dinar menikah atas perjodohan kedua orang tuanya. Awalnya Dinar menolak dengan dalih masih ingin fokus melanjutkan kuliah ke jenjang S2, tapi dalih itu langsung dibantah oleh kedua orang tuanya bahwa menikah tidak akan menghambat apapun.

Karena terus terdesak akhirnya Dinar mengaku bahwa ia tidak ingin menikah karena ia telah menyukai laki-laki lain. Orang tua Dinar menantang anaknya untuk membuktikan kata-kata sang anak dengan membawa laki-laki itu ke hadapan mereka. Tapi di hari Dinar akan mengutarakan perasaannya kepada laki-laki itu, di hari yang sama pula laki-laki itu mengungkapkan dengan rasa bangga bahwa ia akan melanjutkan kuliahnya di Jepang dan akan fokus di sana. Dinar seketika mengurungkan niatnya. Ia sadar ternyata ia tidak punya kesempatan apapun pada laki-laki itu, laki-laki berkacamata itu, Rian.

Akhirnya Dinar menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya yang ternyata setelah menikah barulah Dinar tahu bahwa laki-laki itu juga terpaksa menikah dengannya. Bahkan laki-laki itu diam-diam masih berhubungan dengan kekasihnya setelah mereka menikah. Dinar yang sejak awal tidak mencintai dan tahu perselingkuhan laki-laki itu menolak untuk melayani laki-laki itu layaknya seorang isteri kepada suaminya.

Dinar meminta agar laki-laki itu menceraikannya saja. Tapi laki-laki itu menolak dengan alasan orang tua mereka ingin mereka seperti layaknya suami isteri yang lain, terus hidup bersama dan memiliki anak. Tapi Dinar menolak dan karena penolakan itulah laki-laki itu memaksa Dinar untuk melayani keinginannya. Ia diperkosa oleh suaminya sendiri ditambah setelahnya ia terus mendapatkan perlakuan kasar. Tidak jarang Dinar dipukul, ditampar, bahkan ditendang hanya karena kesalahan kecil.

Dinar tidak tinggal diam, ia melaporkan semua kelakuan suaminya itu pada orang tuanya. Malangnya orang tuanya malah menyalahkannya, menuduh penolakan Dinar sebagai sebab atas sikap kasar laki-laki itu. Orang tuanya memaksanya untuk menerima dan bersabar apalagi saat itu Dinar tengah mengandung. Orang tuanya berpendapat bahwa suaminya pasti akan melembut ketika ia tahu Dinar mengandung anak mereka.

Dinar mulai putus asa. Sikap lembut yang diharapkan dari sang suami tak kunjung muncul juga. Laki-laki itu malah tak peduli atas kehamilan Dinar. Ia terus melakukan kekerasan apalagi ketika ingin dilayani. Laki-laki itu telah menghancurkan semua harapan yang diimpikan oleh wanita malang itu. Ia tidak meneruskan kuliahnya karena kekerasan yang ia alami, ia pun tidak bisa bertemu dengan sahabatnya karena larangan dari sang suami. Sejak saat itu ia diam-diam menulis semua derita yang ia rasakan di dalam buku hariannya dan harapan-harapan yang ia pendam selama ini. Harapan hidup bahagia bersama laki-laki yang ia cintai.

Puncaknya, Dinar tak sadarkan diri ketika laki-laki itu lagi-lagi memukulinya. Darah begitu banyak keluar melewati kedua pahanya. Ketika sadar, ia telah di rumah sakit dengan badan penuh lebam, tulangnya terasa remuk dan yang paling terasa sakit adalah kenyataan bahwa ia telah kehilangan anak yang dikandungnya. Dinar berteriak histeris. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia membuka paksa infus di lengannya lalu berlari menuju meja dan melempar vas bunga hingga pecah berkeping-keping. Ia mengambil salah satu pecahan kaca itu dan menggoreskan ke pergelangan tangannya berkali-kali. Sekali lagi darah keluar dan mengalir deras. Ia lalu tak sadarkan diri. Ketika sadar, ia telah berada di ruangan yang baru, kamar VIP 101.

***

Rian mengikuti Dinar dan sang perawat dari belakang dengan sangat pelan. Ia ingat perkataan Silvi bahwa sejak tiga tahun di rawat di rumah sakit jiwa, kondisi Dinar hari ini sudah sangat membaik. Bahkan dari luar ia terlihat seperti orang sehat pada umumnya tapi tidak, ia masih seorang yang sakit. Ia masih belum bisa atau tepatnya menolak bertemu dengan orang tuanya, ia juga masih sangat takut untuk pulang ke rumah. Bahkan menatap tempat tidur masih selalu membuat dadanya sesak mengingat perlakuan kasar laki-laki itu yang kini telah mendekam dipenjara.

Rian menghentikan langkahnya ketika sang perawat baru saja keluar dari kamar Dinar dan berpapasan dengannya di depan pintu. Segera sang perawat pamit untuk pergi mengerjakan tugas yang lain. Rian menatap dari luar pintu, ia melihat Dinar duduk di sova panjang dengan masih menggunakan jas putih kebanggaannya. Dinar menatap keluar jendela seperti sedang menunggu sesuatu.

Perlahan Rian mengetuk pintu itu, pintu kamar VIP 101. Dinar menoleh dan menatap laki-laki berkecamata itu. Dinar tersenyum bahagia.

“Kau sudah datang? Aku sudah lama menunggumu. Duduklah.” Dinar masih tersenyum dan mempersilahkan Rian duduk di sebelahnya. Rian menurut saja. “Kau tahu, mengapa aku ingin sekali menjadi dokter?” Lanjut wanita itu.

“Tidak. Mengapa?” Rian menimpali.

“Karena di negeri ini terlalu banyak orang yang sakit. Bukan fisiknya, tapi jiwanya…” Dinar menatap keluar jendela masih dengan tersenyum.

Rian yang mendengar perkataan Dinar sungguh tak bisa lagi menahan air mata yang sejak tadi ia tahan. Cepat-cepat ia menghapus air mata yang berhasil jatuh di pipinya.

“Hai…, kenapa menangis?” Dinar menegur Rian. Rian menggelengkan kepalanya, memaksakan senyum di bibirnya. “Bukankah seharusya wanita ini yang menangis? Dia sudah banyak melewati penderitaan.” Dinar meletakkan telapak tangan di dadanya. Rian berusaha sekuat tenaga untuk tegar. Laki-laki itu mengangguk empati. “Tapi mulai hari ini ia tidak akan menderita lagi, mulai hari ini ia akan bahagia karena seseorang yang sejak dulu ia tunggu, kini telah datang.” Sambungnya memperlihatkan senyum pada laki-laki berkecamata itu, laki-laki yang sejak lama ia tunggu, Rian.

-Tamat-

_Nurhudayanti Saleh a.k.a. Asya Ran_ (Kamar Tercinta, 27/1/2017. Ketika menunggu terasa begitu lambat).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s