My Diary

Hari Kesatu Tahun

Jogja, 16 Agustus 2014

Saya sedang berfikir bagaimana saya mengawali catatan kali ini. Banyak hal yang ingin saya tuliskan, banyak kabar gembira yang datang bertandang. Allah sungguh Maha Baik, tak satu pun apa yang saya miliki saat ini kecuali karena izin-Nya, karena keberkahan-Nya. Sebut saja tentang pekerjaan yang bisa dikatakan mudah saya dapatkan, lalu kemudian kabar gembira bahwa satu-persatu orang terdekat saya kini mau berjilbab syar’i dan mau belajar Islam lebih dalam. Subhanallah, Alhamdulillah sungguh semua adalah kemurahan Allah.

Dan hari ini, di hari tepat satu tahun saya tinggal di Jogja, saya mendapat hadiah dari sahabat-sahabat dan orang-orang yang mencintai saya, insyaAllah. Mungkin masih ada yang ingat cerita tentang sepeda (bukan punya) saya yang menghilang di Maskam UGM dan sekarang entah berada di mana. Sepeda yang menjadi sahabat saya dalam kondisi cuaca apapun beberapa saat lalu. Hari ini, ya hari ini, saya mendapatkan penggantinya. Alhamdulillah.

Tak ada firasat apapun, tak ada kupu-kupu yang hinggap di jendela kamar seperti dalam sinetron. Saya pergi tarbiyah seperti biasa. Nisa dengan tabah merelakan motornya kami (saya dan Mega) bajak, sementara ia kami tinggalkan di kosan mempersiapkan sepeda Mega yang akan ia kayuh sepenuh hati; itung-itung olahraga, katanya.

Waktu pun berlalu. Tarbiyah hari ini (seperti biasa) diisi dengan tadarrus dan melanjutkan materi yang sempat terhenti karena libur puasa kemarin. Tarbiyah kali ini juga dihiasi adegan tusuk-menusuk kepala Mega😀

Mungkin ada yang bertanya-tanya, tarbiyah macam apa ini ada adegan tusuk-menusuk? Ets, sabar. Sebelum lebih jauh saya akan memeperkenalkan dulu murabbiyah kami yang seorang alumni UGM dan sekarang lebih dikenal sebagai herbalis. Yah, beliau yang sering kami panggil dengan sebutan Umi (kadang-kadang juga Mbak), adalah seorang wanita yang bisa akupuntur, bekam, rukkiyah, dan jenis pengobatan non medis lainnya. Jadi bagi kalian yang berada di daerah Jogja dan ingin melakukan pengobatan alami, silakan datang ke Jogja Asri. Ets, promosi😀

Nah, hari ini Mega mendapat kesempatan emas merasakan jarum akupuntur yng ditancapkan tepat di atas kepalanya. Maklum beberapa saat lalu bahkan sampai detik ini, sahabat saya yang satu itu batuk dan sakit kepala tiada henti.

Biasanya sebelum benar-benar mengakhiri tarbiyah, kami selalu menyetorkan hafalan. Tapi karena Mega dan Nisa ada keperluan mendesak, akhirnya kami menundanya hingga minggu depan. Kami bertiga pamit pulang ke Umi. Saya melangkah menuruni tangga terlebih dahulu, menyusul Nisa dan kemudian Umi. Sementara Mega sudah berdiri di tempat parkir menunggu kedatangan kami.

Sebelum tiba di tempat parkir, tidak seperti biasanya Nisa menyuruh saya untuk sedikit memelankan langkah dan membiarkan Umi berjalan lebih di depan. Saya bertanya-tanya melihat raut wajah Nisa yang setengah mati menahan tawa. Saya mulai panik dan berfikir apakah saya baru saja tembus? Maklum minggu ini jadwal datang tamu bulanan saya yang sejak kemarin saya nantikan tapi belum datang juga hingga hari ini.

Nisa menggeleng tak berdaya. Saya memandangnya keheranan. Ada yang ia sembunyikan, begitu lah terlihat dari ekspresi wajahnya. Tiba di tempat parkir Nisa lalu memberikan saya sebuah kunci.

“Kak ini kuncinya. Silakan dibuka.” Saya melongo. Kunci apa ini? Rumah siapa yang harus saya buka pintunya?

“Ini kunci sepeda baru kakak.” Nisa menunjuk sebuah sepeda warna ungu yang terlihat masih sangat berkilau. Saking silaunya, saya tidak benar-benar mendengar kata-kata Nisa yang terakhir.

“Cieee, sepeda baru…” Saya menimpali sembari tersenyum pada Nisa.

“Silakan dibuka kak. Itu untuk kakak.” Sambung Nisa. Sementara Umi dan Mega terlihat tersenyum gembira.

“Hah? Buat saya? Loh bukannya ini sepeda baru kamu Nis?” Balasku terkejut.

“Bukan. Ini hadiah buat kakak.”

“Oh. MasyaAllah, Alhamdulillah…” Saya terharu. Beruntung cadar menutupi pipi. Jika tidak, mereka pasti sudah melihat rona merah di wajah saya yang malu bercambur haru. “Dari siapa?”

“Dari kita semua kak. Dari anak-anak Fatimah, MSC juga.” Jawab Nisa lagi.

“Syukran…” Saya menjabat tangan mereka masing-masing.

“Tapi ada syaratnya. Sepedanya dipakai untuk dakwah.” Umi menyahut.

“Siap Umi. InsyaAllah.”

Ah, rasanya benar-benar bahagia. Bukan karena diberikan hadiah. Bukan. Tapi karena persaudaraan ini begitu indah meski bukan ikatan darah. Mungkin inilah jawaban doa Dede ketika kabar kehilangan sepadanya yang kemarin. Dede sempat mengatakan; Nggak apa-apa Mbak. Semoga digantikan dengan yang lebih baik ^_^

Ah, saya masih bahagia. Karena itu, teruntuk teman-teman liqa Fatimah, teruntuk murabbiyah saya, teruntuk akhwat MSC, teruntuk Dek Febri yang diam-diam juga ikut terlibat, lalu teruntuk seluruh orang-orang yang telah memberikan berjuta cintanya kepada saya; keluarga saya tersayang, sahabat, dan kawan sekalian, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Tanpa cinta kalian apalah arti hidup saya *eh ini kenapa kayak pidato artis yang menang award?😀

Well, saya bersyukur memiliki kalian (keluarga dan sahabat). Semoga Allah membalas semua kebaikan kalian dengan balasan amal yang berlimpah. Dan semoga Allah kembali mengumpulkan kita di Surga-Nya kelak. Aamiin ^_^

NB:

Oh ya, satu tahun saya tinggal di Jogja saya dapat sepeda. Mungkin kalau sudah 3 atau 5 tahun saya bakal dapat mobil.

Terus, kapan saya dapat calon ayah dari anak-anak saya kelak? Eh,😀

_Nurhudayanti Saleh_

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s