Diposkan pada Akhlak dan Nasehat, My Diary

Drama Rumah Sakit Bagian 1 – Kamar Bersalin

kamar-bersalin

Saya tidak akan menuliskan kejadian ini terjadi di rumah sakit mana. Harapan saya semoga bisa menjadi evaluasi untuk pelayanan di rumah sakit manapun. Dan sebagai bentuk keobjektifitan, saya juga tentu akan menuliskan kebaikan dan kelebihan di rumah sakit tersebut.

Ceritanya begini, beberapa saat lalu saya tinggal dua malam di sebuah rumah sakit untuk menemani adik saya yang akan melahirkan. Dibawalah adik saya ke ruangan bersalin yang sudah dipenuhi oleh pasien lain. Antar satu pasien dengan pasien yang lain dipisahkan oleh tirai yang kala itu terbuka. Demi kenyamanan adik saya, kakak saya yang juga seorang perawat (tapi bukan di rs tersebut) menutup tirai khusus untuk area adik saya tapi tidak lama berselang seorang bidan datang membuka tirai tersebut dengan agak kasar dan berkata: tirainya jangan ditutup, nanti bidannya nggak bisa lihat, nggak bisa mantau.

Saya yang orang awam aja jadi bertanya-tanya heran: trus apa gunanya ada tirai kalau bukan untuk dipakai?

Apalagi dua kakak saya yang juga berkecimpung di dunia kesehatan (yang satu perawat dan yang satu bidan) pasti sangat mengerti dan paham betul kegunaan tirai tersebut bahwa setiap pasien berhak atas privasinya. Kalau hanya alasan tidak bisa dipantau, kakak saya mengatakan kondisi adik saya saat itu bukan keadaan yang kritis yang harus selalu dipantau, dan lagi bukankah setiap pasien didampingi keluarganya, sehingga keluarga inilah yang nanti bisa mengabari ke bidan yang sedang bertugas – yang jaraknya hanya beberapa langkah- jika pasien ada sesuatu.

Ditambah lagi ketika saya membaca ‘hak dan kewajiban’ pasien yang tertempel di salah satu dinding ruang bersalin, saya mendapatkan di poin 8 tertulis bahwa pasien berhak mendapatkan privasinya. Berarti tidak salah jika tirai tersebut ditutup dan memang begitulah fungsinya bukan?

Baiknya, dua di antara bidan yang bertugas saat itu adalah teman saya dan teman kakak saya. Walhasil teman kakak saya inilah yang menyarankan kami pindah tempat saja. Ia menyarankan pindah di tempat yang paling ujung berhadapan tepat dengan pintu, sehingga menutup tirai akan sangat kuat alasannya ^^

Pesan saya:

  • Jika memang tirai tersebut tidak berfungsi untuk perlindungan privasi pasien silakan dijelaskan dengan baik kepada pasien, bukan dengan membuka tirai tanpa izin atau permisi. Bagaimana jika sang pasien sedang membuka baju atau hal lainnya, pasti akan sangat merugikan pasien.
  • Jika memang tirainya tidak berfungsi untuk perlindungan privasi, maka dengan apa pihak rumah sakit memberikan hak pasien yang tercantum di poin 8?
  • Bahwa rumah sakit adalah instansi pelayanan, maka seharusnya bisa melayani dengan ramah, sopan serta santun. Saya tidak mengatakan semua bidannya berwajah masam, tapi sayangnya tidak semua berwajah cerah dan ramah. Yah, mungkin mereka kelelahan menghadapi banyakanya pasien yang datang silih berganti sehingga berdampak pada pelayanan yang kurang maksimal ^^

-Huda- (24/5/2017)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s