Diposkan pada Akhlak dan Nasehat, My Diary

Drama Rumah Sakit Bagian 2 – Tukang Bersih-bersih

tukang bersih bersih

Masih di rumah sakit yang sama. Jika kemarin saya bercerita tentang ruang bersalin dan yang ada di dalamnya, maka hari ini saya akan bercerita tentang satu sosok yang menurut saya seharusnya tidak berada di rumah sakit tersebut. Bahkan jika saya direktur rumah sakitnya, saya sudah memecat orang ini sejak dulu.

Jadi, seperti pada umumnya, di setiap rumah sakit pasti ada tim kebersihan. Setiap tempat atau area, orang yang ditugaskan berbeda. Karena saya dua hari di rumah sakit, maka itu artinya dua hari pula saya ‘bertemu’ dengan orang tersebut dan Subhanallah dua hari itu pula saya dan yang lain mendapatkan hal yang sama yakni bentakan dan suara pintu dibanting.

Tentu kita sepakat bahwa di instansi pelayanan seperti rumah sakit, yang harus memiliki sikap ramah santun bukan hanya dokternya tapi semua pihak yang ada di dalamnya, dari satpam, tukang sapu, tukang masak, apoteker, perawat, bidan, dan lainnya. Apalagi ini rumash sakit, tempat orang-orang sakit di rawat yang notabenenya membutuhkan kondisi yang tenang agar cepat pulih dan pulang.

Nah, ceritanya begini, ternyata tukang bersih-bersih di ruang nifas dan bayi banyak mendapat sorotan dari pasien maupun keluarga pasien, itu yang saya lihat dua hari berada di sana dan saya pun menjadi saksi bagaimana ‘kejamnya’ orang ini.

Para pasien dan keluarga pasien semua mengeluh bahwa orang tersebut sangatlah kasar. Bagaimana tidak setiap kali ada pasien atau keluarga pasien yang tidak sengaja menginjak lantai yang baru saja ia pel, maka ia akan menegur dengan kasar. Bahkan satu waktu saya sengaja ‘menontonnya’ memarahi seseorang (entah pasien atau keluarga pasien), saya ingin sekali mendengar kata-kata apa saja yang keluar dari mulutnya.

Dan Subhanallah kata-katanya bikin hati perih. Untung si ibu yang dimarah-marahi diam aja. Saya sudah tidak ingat persis apa saja yang ia ungkapkan, intinya ia ingin dihargai. Dan haga dirinya terluka jika ada orang yang menginjak lantai yang telah ia pel baik sengaja maupun tidak sengaja (bagian ini yang paling buruk, karena orang yang menginjaknya tidak sengaja pun mendapatkan perlakuan yang sama, sama-sama dimarahi dengan kata-kata keras. Padahal berkata baik masih bisa ia lakukan jika mau).

Belum lagi, ketika akan menutup pintu yang sering dilewati untuk lalu lintas rumah sakit, ia menutupnya dengan kasar. Suara pintu berdentum luar biasa. Saya yang duduk di luar bersama keluarga pasien yang lain kaget bukan main. Hai, ingat, dia bertugas di ruang nifas dan bayi yang tentu saja banyak bayi di sana. Jika orang dewasa saja terkejut bukan main dengan suara pintu dibanting apatahlagi dengan bayi yang baru berumur sehari dua hari.

Dan perlakuannya berlanjut ketika membersihkan kamar nifas yang kebetulan adik saya ada di dalamnya. Ia berkata kurang lebih seperti ini: Bu, jangan malas ya. Ini kamar mandinya dibersihin juga. Toh yang nempatinkan ibu-ibu sekalian bukan saya!

Wow mengetahui ia berkata seperti itu saya jadi terheran-heran. Orang ini kok bisa-bisanya terpilih jadi pegawai kebersihan di rumah sakit. Sama sekali tidak cocok! Seseorang, apapun tugasnya dan ia digaji karena hal tersebut, seharusnya menjalankan pekerjaannya dengan ikhlas bukan dengan keluhan apalagi kasar. Seolah-olah ia tak terima dipekerjakan di bidang tersebut. Ya kalau memang tidak suka, berhenti saja. Gitu aja kok repot!

Ini ibarat, kita pergi ke rumah tante kita, lalu tante kita itu punya pembantu yang digaji untuk membersihkan rumah. Kita yang baru datang di rumah tante kita, sopan, nggak ngapa-ngapain termasuk nggak merendahkan si pembatu bahkan membantunya dengan tetap menjaga kebersihan, tau-tau dapat kalimat ini dari pembantu tante kita: Kamu jangan malas ya. Ini kamar mandinya dibersihin juga dong. Toh yang nempatin kamar mandi ini kamu bukan saya!

Kira-kira kalau kayak gitu, pembantunya benar nggak? Sopan nggak?

Sampai kejadian ini saya jadi berfikir apakah tidak ada seorangpun baik pasien, keluarga pasien, bidan atau perawat yang melaporkan tingkah si tukang bersih-bersih tersebut? Atau jangan-jangan ada yang beralasan: Karakternya emang gitu, tapi dia aslinya baik kok.

Wah kalau begitu, seharusnya hal tersebut bisa jadi alasan tepat untuk memberhentikan si doi. Karena karakter susah diubah (jika tidak ada keinginan untuk mengubahnya). Kenapa harus mempertahankan orang yang punya karakter kasar sementara di luar sana ada yang ramah dan mau bekerja dengan baik.

Saya bahkan sampai berfikir: Jangan-jangan orang ini punya orang dalam sampai-sampai berbuat sekehendaknya. Ia tidak perlu takut dipecat! -,-

Well, harapan saya semoga dia satu-satunya petugas kebersihan yang galak di rumah sakit tersebut. Semoga pengalaman saya menjadi pelajaran bagi pihak rumah sakit manapun bahwa memperkerjakan seseorang butuh tahapan seleksi yang baik, bukan hanya karena ia rajin dan pekerja keras, tapi haruslah ia memiliki akhlak yang baik.

Dan saya pun sebenarnya orang yang galak, tapi kegalakan saya selalu berusaha saya tinggalkan di rumah ketika saya sudah akan bertemu dengan orang lain. Harusnya begitu pula dengan mereka yang bekerja di pelayanan, apapun posisi Anda!

-Huda- (25/05/2017)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s