Diposkan pada Akhlak dan Nasehat

Dahsyatnya Sakit Dihianati

brokenheart

Seorang wanita seperti saya, yang belum menikah, belum memiliki anak dan sedikit cuek, ketika (dulu) mendapati seorang wanita merasa begitu sakit hati karena dihianati suami, maka saya akan menilainya berlebihan. Saya selalu berfikir sederhana, bahwa kekecewaan pada manusia pasti akan selalu ada. Jika bentuk kesalahannya sangat besar, maka gampang saja, tinggalkan, begitu solusi saya.

Saya tidak akan fokus pada solusi, tapi pada perasaan tersakiti seorang wanita yang dulu saya rasa sangat berlebihan. Saya menganggap, itulah sebab jika kita terlalu mencintai seseorang, dihianati, dilukai, maka akan terasa sakit yang sangat. Karenanya, jangan terlalu mencintai bahkan kepada lelaki yang telah berjanji sehidup semati.

Tapi ternyata pendapat saya salah. Alasannya bukan karena terlalu mencintai. Hal ini saya ketahui sejak mendampingi dan menemani adik saya melalui proses persalinannya beberapa saat lalu. Saya berdiri di depan pintu bersalin. Saya pasang baik-baik telinga saya. Saya ingin mendengar dengan pasti suara adik saya. Kuatkah ia? Bisakah ia?

Setelah dua tarikan nafas yang panjang dibarengi teriakan yang lebih kencang dari biasanya, akhirnya dengan pertolongan Allah adik saya berhasil melewati masa-masa sakitnya, sakit yang entah bagaimana rasanya karena jangankan melahirkan, menikah saja saya belum pernah.

Ketika suasana sudah kondusif, saya memberanikan diri bertanya pada adik saya, bagaimana rasanya melahirkan seorang anak? Apakah amat sakit?

Lalu adik saya menjawab: Sungguh, jika bukan karena pertolongan Allah, ibu manapun tidak akan mampu melahirkan seorang anak. Rasanya luar biasa. Sampai-sampai saya sudah tidak bisa menggambarkan rasanya. Saya hanya pasrah kepada Allah. Bahkan di puncak kesakitan itu, saya rasa saya sudah tidak benyawa.

Mendengar jawaban adik saya, saya semakin tak mampu menggambarkan rasa sakit yang ia rasakan. Tapi, tunggu dulu. Tiba-tiba saja saya teringat tentang sakitnya dihianati oleh suami. Dan saat itu pula saya menyadari dengan benar, mengapa seorang isteri begitu sakit ketika suaminya berselingkuh. Dan sakitnya lebih sakit dari sakitnya melahirkan. Bisa kalian bayangkan?

Mengapa lebih sakit? Bayangkan saja, seorang wanita yang telah menikah denganmu, mengabdikan seluruh hidupnya untukmu, rela berpisah dari kedua orang tua yang selama ini merawatnya, menjaganya, menyekolahkannya demi mengikutimu, seorang pria asing yang baru saja dikenalnya.

Dia wanita yang setiap hari menyiapkan seluruh keperluanmu, menyetrika bajumu, memasak, menyiapkan sarapanmu, membersihkan rumah, memijatmu, menghiburmu, membahagiakan keluargamu.

Dia wanita yang mengandung anakmu, membawanya selama 9 bulan dalam perutnya yang semakin terasa berat. Susah tidurnya dan sakit punggungnya. Lalu ketika akan melahirkan anakmu, ia seperti merelakan hidupnya demi anak yang sudah kau nantikan sejak dulu. Ia melawan sakit luar biasa, sakit yang tak bisa lagi digambarkan lewat kata-kata.

Nah, sekarang coba kau hitung berapa banyak pengorbanan yang telah ia persembahkan untukmu. Berapa banyak sakit yang telah ia lalui? Lalu, kau menghianatinya dengan berselingkuh dengan wanita lain? Oh, aku saja yang belum menikah rasa-rasanya ingin (maaf) mencekik setiap suami yang melakukan hal itu.

Tapi, sebesar apapun marah saya kepada para suami yang selingkuh, ternyata belum seberapa dengan besar marah saya kepada wanita yang jadi selingkuhannya. Hanya wanita yang kejam, yang tega bersenang-senang di atas derita wanita yang lain!

-Huda- (16/05/2017)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s