Diposkan pada Akhlak dan Nasehat, My Diary

Semoga Lekas Pulih

cepat pulih

Beberapa tahun yang lalu aku pernah menulis kisah tentang seorang wanita yang Allah pilih dan akhirnya berhijrah. Dari yang tidak berjilbab menjadi berjilbab syar’i, dari yang kerja kantoran akhirnya memilih menjadi ibu rumah tangga fokus mendidik anak-anaknya dan memberikan pelayanan terbaik kepada suami. Saat menuliskannya dulu, aku menuliskannya dengan penuh kegembiraan dan hati bahagia.

Namun kali ini berbeda. Aku akan menuliskan tentang wanita yang sama tapi dengan perasaan sedih teramat dalam.

Setelah ia mantap berhijrah ternyata kenyataan tak seindah yang ia harapkan. Dulu ia bermimpi, ia akan hidup bahagia bersama keluarga kecilnya hingga ke Surga tapi takdir Allah berkata berbeda. Allah terus memberikan ujian lewat suaminya yang seorang pengusaha sukses dengan penghasilan cukup besar. Yah, inilah ujiannya, suamianya akhirnya menikah lagi tanpa sepengetahuannya. Kepedihan itu pun dimulai.

Semula, jauh sebelum suaminya menikah lagi, dia memang kerap mendapatkan kabar bahkan foto suaminya bersama wanita lain. Ketika kabar itu datang ia selalu menanyakan kepada sang suami dan jawaban sang suami ‘cuma teman’ dan dia memilih untuk percaya pada laki-laki yang ia cintai. Waktu pun berlalu dan fakta terungkap satu demi satu bahkan si ‘cuma teman’ berani mengumbar kemesraan mereka di sosial media.

Ia tentu tidak tinggal diam. Ia menanyakan hal itu kepada suaminya dan suaminya mengaku bahwa ya memang dulu mereka memiliki hubungan tapi sudah ia putuskan dan semua gambar serta video yang tersebar adalah jebakan. Sekali lagi ia memilih bersabar dan percaya. Sampai pada suatu hari, setelah masalah ‘cuma teman’ itu berlalu, ketika kehidupan keluarga mereka kembali bahagia, ia kembali mendapatkan foto-foto suaminya bersama seorang wanita lain, wanita cantik dengan penampilan ‘masa kini’, baju ketat dan celana jins, sebuah penampilan yang sangat kontras dengan dirinya yang sudah berhijrah, jilbab lebar dan gamis (rok).

Kala itu suaminya sedang berada di luar kota sehingga ia tidak bisa menanyakan langsung perihal foto tersebut. Karena itu ia pun mengirimkan foto-foto tersebut via wa dan meminta penjelasan sang suami. Lama ia menunggu balasan itu, dan ketika balasan itu tiba, seketika waktu seperti berhenti sejenak, seperti ada halilintar keras yang baru saja menyambar, suaminya dengan enteng mengatakan bahwa wanita itu adalah isterinya, isteri barunya, isteri keduanya.

Isteri mana yang tak luka hatinya, ia telah melakukan segalanya bagi sang suami, menutup aurat dengan sempurna agar kecantikan itu hanya ditujukan untuk laki-laki yang telah menikahinya. Ia juga telah melepaskan pekerjaannya demi merawat dua buah hati mereka agar tumbuh dan besar menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah. Ia telah memfokuskan diri di rumah demi melayani suaminya dengan pelayanan yang prima, memasakkannya, mencucikan bajunya, memijatnya, menjaga rumahnya dan semuanya. Lalu hati isteri mana yang tak patah?

Namun sekali lagi ia bersabar. Ia menanyakan kepada sang suami apa alasan ia menikah lagi. Suaminya beralasan bahwa wanita cantik dan muda itu adalah seorang janda beranak dua. Ia berniat untuk membantunya. Mendengar alasan itu, ia coba menerima takdir yang telah Allah gariskan. Ia coba menjalani berbagi suami dengan wanita lain. Ia coba untuk lebih bersabar. Tapi sabar tentu tidak berarti pasrah. Demi kebaikan sang suami, dia pun mulai mencari tahu seperti apa isteri baru suaminya.

Setelah ia mencari tahu, ia pun kembali merasa sedih. Bagaimana tidak jika sang isteri baru ternyata memiliki teman-teman yang ‘tidak sehat’. Di akun sosial milik sang isteri kedua ia menemukan sebuah video yang memperlihatkan sang isteri kedua sedang berkaroke dengan teman bancinya sambil membicarakan tentang club dan berbagai jenis minuman keras. Lebih parah lagi teman bancinya adalah seorang homo. Tsumma naudzubillah.

Dia ternyata mulai tidak tahan. Isteri mana yang ingin melihat suaminya hancur? Meski sang suami mengatakan itu hanya masa lalu sang isteri kedua, ia tetap saja cemas. Akhirnya setelah ia berfikir panjang dan demi menjaga hatinya agar tidak terus terasa tersiksa, ia menyuruh sang suami untuk memilih, memilih dia dan kedua anaknya atau memilih isteri barunya.

Dan inilah akhir dari perjalanan cinta itu, akhir perjalanan mahligai yang ia bangun selama 13 tahun lamanya. Sang suami tidak bisa memilih. Ia ingin tetap seperti ini, poligami. Sampai akhirnya wanita inilah, wanita yang selama 13 tahun mendampinginya dari susah, yang akhirnya memilih untuk berpisah. Ia jauh sangat kecewa dengan sang suami yang tak mampu memilih bersamanya dan anak-anak, tak mampu melepaskan sang wanita kedua yang belum berapa lama ia kenal tentu saja. Dengan demikian sang suami telah > menikahi janda beranak dua sementara ia sukses membuat isteri pertamanya menjadi janda beranak dua. Astaghfirullah.

***

Catatan:

Jika seorang suami menikah lagi hanya karena isterinya memiliki kekurangan, maka seumur hidup laki-laki itu tidak akan pernah berhenti untuk menikah lagi dan lagi, sebab setiap wanita yang ia nikahi pastilah memiliki kekurangan.

Jika ia ternyata mampu bertahan pada isteri kedua atas kekurangan yang dimilikinya, maka pertanyaannya: mengapa engkau tak mampu bertahan pada kekurangan isteri pertamamu? Apakah kekurangannya begitu fatal? Apakah kekurangannya menarikmu ke dalam neraka? Atau apakah kelebihan isteri keduamu mampu menarikmu ke Surga? Jika jawabannya tidak, maka jelas kau menikah hanya karena hawa nafsu bukan niat untuk membantu!

-Huda- (08/07/2017. Ketika air mataku harus menetes lagi dan hatiku patah berkali-kali. Semoga yang sakit lekas pulih)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s