Diposkan pada Akhlak dan Nasehat

Peluk dan Cium Ukhuwah

ukhuwah

Entah bagaimana aku menjelaskan rasa ini. Ini terasa berbeda dari biasanya, sepertinya. Ada banyak rasa yang bercampur jadi satu dalam tiap pelukan dan ciuman sore ini. Di dalamnya kutemukan cinta, rindu, haru, sedih, terima kasih, sayang, bangga, ah sungguh sulit diungkap lewat kata.

Salah satu dari mereka datang menghampiri ketika acara sudah berakhir. Ia datang dengan mata berkaca sambil menyebutkan namanya sebelum aku bertanya: Nama saya Ibu Siti, Nak. Saya tinggal seorang diri. Suami saya sudah meninggal > katanya masih mendekap telapak tanganku erat setelah sebelumnya ia memelukku dan menciumku syahdu.

Seorang lagi datang dan mengatakan: Beliau ini adalah salah satu orang tua kami di Bunepute Nak > Aku mengerti maksudnya, bahwa wanita yang sudah tidak muda lagi ini adalah orang yang dihormati di tengah-tengah masyarakat Bunepute. Aku tersenyum sembari mendoakan kesehatannya.

Lalu semua yang datang, yang berjumlah kurang lebih 43 orang menunggu dan mengantri untuk memeluk dan mencium. Ah, di dalam hati aku berbisik; Ya Allah sungguh aku bukanlah ahli ilmu, aku masih banyak keliru, aku tak pantas mendapatkan ini semua. Aku bukanlah siapa-siapa.

Namun, tentu kumaknai semua perlakuan ini sebagai bentuk cinta karena Allah yang memang seharusnya dimiliki oleh setiap muslim dimana pun berada, karena setiap muslim itu bersaudara.

Di antara mereka, ada yang sudah sangat aku kenali. Mereka adalah para ummahat yang aku bina halaqah tarbiyahnya. Mereka sudah seperti ibuku sendiri. Dan aku merasa memiliki banyak ibu. Bukankah satu ibu saja cintanya berlimpah? Nah, apakah engkau sudah bisa menakar bagaimana perasaanku kawan?

Setiap kali mereka memelukku dan mencium pipi kanan dan kiriku, mereka berkata; Aku mencintaimu karena Allah ukhty > mereka mengungkapkannya sambil tertawa sumringah. Kenapa? Karena itulah materi tarbiyah mereka minggu lalu. Mereka masih ingat betul ketika minggu lalu aku mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda yang kurang lebih konteksnya demikian: ketika engkau mencintai saudaramu, maka datangilah rumahnya dan sampaikan padanya bahwa engkau mencintainya karena Allah > Maka mereka pun mengamalkannya sore ini sebelum kami benar-benar meninggalkan masjid.

Mungkin rasanya berbeda, bukan karena aku tak pernah merasakan pelukan dan ciuman ukhuwah, hanya saja dulu kebanyakan aku terima dari mereka yang sejawat atau adik-adik yang lebih muda, sementara sekarang aku mendapatkannya dari mereka para ummahat, para wanita yang keriput telah menghiasi wajah tapi tetap semangat untuk menuntut ilmu agama. Ah, sepertinya haru itu berasal dari sana, dari semangat mereka meski usia telah senja ^^

-Huda- (23/04/2017. Sepotong kisah yang lahir sore ini di Kajian Masjid Raya Bunepute)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s