Diposkan pada Akhlak dan Nasehat, Aqidah

Tidak Ada Persamaan Gender Dalam Islam!

ladies gentelman

Sebagai seorang hamba yang telah berikrar Laa ilaha Illallah, Muhammad rasulullah, maka salah satu kewajiban kita selanjutnya adalah meyakini wahyu Allah yakni Al-qur’an dan Sunnah Rasulullah sebagai pedoman yang paling benar dan paling baik. Tidak ada yang bisa mengalahkan kebenaran wahyu Allah serta tidak ada yang bisa menandingi paham yang terkandung dalam Al-qur’an dan sunnah.

Lalu, di zaman ini telah lahir begitu banyak paham, ada yang berasal dari timur seperti komunisme ada juga yang berasal dari barat seperti liberalisme. Salah satu paham yang berkembang saat ini dan terus mencoba menarik sebanyak-banyaknya massa adalah paham feminisme yang penganutnya begitu getol memperjuangkan persamaan Gender.

Saya tidak akan membahas panjang lebar tentang paham yang satu ini, namun secara garis besar dapat kita simpulkan bahwa paham ini memperjuangkan persamaan perlakuan antara laki-laki dan wanita. Jika laki-laki boleh bekerja di luar rumah, berkarir, maka wanita juga boleh, demikian kira-kira gambaran singkatnya. Bahkan dalam beberapa kesempatan mereka seolah menyuarakan bahwa seorang wanita tidak membutuhkan seorang laki-laki dalam hidupnya.

Nah, dengan pemahaman yang demikian, mereka menganggap bahwa aturan Islam tidaklah benar dan tidak adil pada wanita. Mereka menilai Islam telah mengekang dan merendahkan wanita dengan memerintahkannya tetap tinggal di rumah mereka, mengurus anak, mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan melayani suami. Singkatnya, menurut mereka Islam tidak membawa paham persamaan Gender.

Sampai di sini, saya ingin mengatakan bahwa benar, di dalam Islam tidak ada yang namanya persamaan Gender yang ada adalah MEMULIAKAN GENDER!

Mari kita mulai main hitung-hitungan. Misal ada dua orang yakni A dan B. A bekerja sangat keras, merasa lelah, keringat terkucur deras, sementara si B tidak bekerja sama sekali tapi keduanya mendapatkan penghasilan yang sama besarnya. Pertanyaannya, manakah yang diuntungkan? Jawabannya tentu saja si B. Kemudian, jika disuruh memilih, ingin menjadi siapakah kita? A atau B? Jawabannya tentu saja menjadi si B.

Duhai yang hatinya masih saja enggan menerima kebenaran, sesungguhnya begitulah syariat Allah. Dalam Islam, laki-laki diperintahkan wajib shalat berjamaah ke masjid sementara wanita tidak, tapi kedua-duanya mendapatkan pahala yang sama besarnya. Dalam Islam laki-laki wajib mencari nafkah sementara wanita tidak, tapi keduanya sama-sama mendapatkan rezki dari Allah, bahkan adakalanya rezki isteri lebih banyak daripada suami karena ada suami yang memberikan seluruh gajinya pada isterinya. Dalam Islam laki-laki diwajibkan berjihad di medan perang sementara wanita tidak, tapi kedua-duanya bisa mendapatkan pahala jihad di sisi Allah.

Karena itu sekali lagi saya tuliskan; di dalam Islam tidak ada persamaan Gender, jika yang kau maksud persamaan Gender adalah benar-benar sama! Di dalam Islam hanya ada memuliakan Gender, Allah memulikan wanita dengan semua syariat yang telah Allah tetapkan. Tak perlu bertanya buktinya apa, karena jika engkau masih bertanya itu artinya engkau masih ragu atas kebenaran Al-Quran dan Sunnah Rasulullah. Tugas kita adalah menjalankan syariat Allah. Jalankan, maka engkau akan tahu dan menemukan bukti itu.

Bagaimana bisa engkau mendapatkan bukti bahwa menutup aurat itu memuliakan wanita sementara engkau sendiri enggan berhijab. Bagaimana mungkin engkau merasakan nikmatnya menjadi seorang isteri yang tinggal di rumahnya, mendidik anak-anaknya jika engkau sendiri tak mau tinggal di rumahmu bahkan engkau enggan menikah.

Sebenarnya, jika seseorang telah yakin kepada Allah, syahadatnya benar-benar jujur, maka ia tidak akan terpengaruh dengan paham-paham apapun yag bertentangan atau yang menentang syariat Islam karena pastilah paham itu salah dan Allah lah yang Maha Benar.

Sebenarnya, jika seseorang telah yakin kepada Rasulullah, maka ia tak perlu lagi bukti, tak perlu lagi analogi. Yang ia butuhkan adalah melaksanakan apa yang memang seharusnya ia lakukan sebagai seorang hamba apapun titlenya.

Toh, nanti pasti ada saja yang tidak setuju dengan analogi yang saya gunakan, ada saja yang akan menentang dengan alasan yang (terkesan) ilmiah dan intelek, padahal saya tidak mengatakan analogi saya hebat karena sekali lagi sejatinya seorang hamba tidak memerlukan semua itu. SEORANG HAMBA HANYA BUTUH YAKIN LALU TAAT!

Wallahua’lam.

_Nurhudayanti Saleh_ (Wotu, 9/4/2017)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s