Diposkan pada Akhlak dan Nasehat

Ta’aruf Kok Gitu

cinta-dalam-diam-21

Jaman sekarang siapa sih yang tidak kenal dengan istilah ta’aruf. Dulu, istilah ini hanya populer di kalangan orang-orang yang rajin ikut kajian, namun belakangan istilah ini sudah terkenal dari kalangan anak ABG sampai kalangan selebriti, sampai-sampai makna ta’aruf sudah melenceng jauh dari seharusnya > pokoknya kalau antara laki-laki dan wanita saling mengenal lebih jauh tapi tidak pacaran, disebutnya ta’aruf, fiuf…*geleng-geleng kepala.

Bicara tentang ta’aruf, entah sudah berapa banyak pesan dari teman-teman yang masuk baik lewat inbox FB, Wa, maupun sms yang bertanya tentang bagaimana sesungguhnya ta’aruf itu, ada juga beberapa yang ingin menjadi wasilah ta’aruf 😀 dan beberapa lagi mau ngajakin ta’aruf, eh yang terakhir nggak dink, maksudnya udah nggak ada lagi soalnya kalau pun ada tidak pernah saya gubris apalagi jika saya tidak mengenalnya sama sekali > ini nih cara ta’aruf yang salah.

Nah, tentang cara ta’aruf, tentu Islam sudah punya aturannya sendiri yang intinya tidak melanggar rambu-rambu pergaulan antara laki-laki dan wanita. Pertama, syarat mutlak bagi mereka yang ingin ta’aruf adalah ada keinginan untuk menikah dalam waktu dekat > jadi bukan hanya sekedar ingin, tapi sudah punya target waktu yang jelas misal tahun itu juga.

Lalu selanjutnya apa lagi? Selanjutnya ya ta’aruf. Caranya bukan cuma satu kok, caranya ada banyak, intinya tidak melanggar rambu-rambu. Salah satu rambu-rambunya adalah tidak berdua-duaan, baik secara nyata maupun maya, misal mengutarakan niat ta’aruf secara langsung pada si wanita, lalu setelah itu saling bertemu atau saling mengirim pesan tanpa wasilah. Wah, yang ini bahaya, mungkin awalnya masih sama-sama bisa menjaga hati tapi lama-kelamaan malah jatuh hati sebelum waktunya, ini sih namanya jebakan setan sukses berat.

Jadi, baiknya ta’aruf itu harus ada wasilahnya, wasilahnya pun harus yang terpercaya, baik agamanya, tahu rambu-rambu ta’aruf dan cara ta’aruf yang benar. Kalau sudah begini, in syaa Allah proses selanjutnya akan aman-aman saja.

Karena menikah itu adalah sesuatu yang mulia dan tentu saja menjadi penting bagi mereka yang akan melakukannya, maka tentu saja cara-caranya haruslah cara-cara yang baik dan mulia serta terhormat. Jangan asal-asalan, asal ada yang mau ta’aruf langsung iya aja. Seperti peristiwa beberapa saat lalu sebuah informasi tersebar yang berbunyi kurang lebih begini > Ada seorang laki-laki dengan kriteria berikut, mencari isteri dengan kriteria berikut dan berikut, lalu informasi tersebut sengaja disebarkan ke seantero nusantara, orang-orang dari Aceh sampai Papua jadi tahu semua. Nah, yang begini jangan langsung percaya, siapa yang jamin laki-lakinya benar-benar baik, shalih, sesuai yang dituliskan pada informasi tersebut. Itulah mengapa wasilah/perantara itu sangat penting, penting untuk diketahui bahkan dikenali dengan baik, agar tak ada keraguan tentang si laki-laki atau si wanita.

Jangan pula, ingin menikah, sudah punya wasilah, tapi mencari calon pasangan dengan cara ‘menipu’. Maksud saya menipu adalah tidak menerangkan keadaan sebenarnya sejak awal dengan niat mengtes si calon pasangan. Ia menerangkan dirinya dengan sebuah permisalan, contoh kasus: seorang wasilah menyampaikan kepada seorang wanita > Bagaimana tanggapanmu jika ada seorang laki-laki begini dan begini. Ketika si wanita merasa berat dengan permisalan tersebut, lalu menolak si laki-laki, si wasilah tiba-tiba mengungkapkan keadaan sebenarnya dari si laki-laki yang ternyata berbeda dengan kondisi permisalan tersebut. Nah, bukankah ini menipu? Mungkin niat si laki-laki dan si wasilah baik, ingin menemukan wanita yang benar-benar pas untuknya, tapi tetap saja caranya tidak benar karena ada unsur kebohongan di dalamnya.

Maka ketika ingin ta’aruf, ingin menikah, gambarkanlah dirimu sejelas-jelasnya, jangan ada kebohongan meski sedikit saja. Jika dalam proses ta’aruf sudah lancang berbohong, maka tidak menutup kemungkinan setelah menikah ia juga akan berbohong untuk beberapa hal. Sebaik apapun sebuah kebaikan, jika di dalamnya ada sedikit saja kebohongan, maka tetap saja akan menjadi buruk.

Terakhir, duhai para jomblo berdoalah, berusahalah, dan bersabarlah menjemput dan menanti jodohmu ^^

_Nurhudayanti Saleh_ (Kamar tercinta, 16/3/2017. Ketika aku tahu ternyata kau tidak benar-benar menganalku)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s