Diposkan pada Cerpen

Pertemuan

pertemuan

Dari sekian banyak wanita yang duduk dan lalu lalang sejak tadi, tak ada satupun yang menarik perhatian Adam. Semua wanita terlihat sama di matanya, sama-sama berpakaian masa kini dengan dandanan ala artis Korea. Cantik. Adam bergumam. Ia tidak menyangkal hal itu. Sebagai pria normal ia tentu menyukai kecantikan yang sudah menjadi hak paten setiap wanita. Tapi baginya cantik belum cukup untuk membuatnya tertarik.

Adam kembali fokus pada tabnya sambil sesekali mengintip waktu. Hari ini ia akan pulang ke kampung halamannya di Jogja. Sudah cukup lama ia tidak pulang. Sejak peristiwa itu ia enggan menginjakkan kakinya lagi. Tapi kali ini ia berusaha keras untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Berusaha menghapus satu-persatu kenangan buruk yang datang silih berganti. Menggantinya dengan kenangan-kenangan indah yang pernah ada.

“Permisi…” suara seorang wanita mengejutkan Adam yang masih larut dalam kenangan. Adam buru-buru menggeser satu kakinya yang menghalangi jalan wanita itu menuju bangku panjang yang berada tepat di hadapannya. Sepintas Adam melihat ke arah wanita itu. Wanita yang akhirnya diam-diam berhasil mencuri perhatiannya.

***

Lana mengeluarkan sebuah buku dari dalam tas ranselnya. Ia sedikit mendesah ketika mendengar pengumuman jadwal penerbangan pesawat yang ia tumpangi akan delay selama satu jam. Beberapa penumpang yang satu pesawat dengannya mulai berdiri untuk mengantri mengambil nasi kotak yang disiapkan oleh pihak pesawat tersebut sebagai bentuk tanggungjawab atas keterlambatan yang dialami para penumpang.

Lana tetap setia di bangkunya menelan kata demi kata dari buku yang dibacanya. Sepintas ia melihat pemandangan di hadapannya, seorang pria tengah serius menatap tab sementara di samping pria itu ada seorang anak kecil dan ibunya yang sedang asyik menikmati makan siang mereka.

“Ya ampun…” ibu yang tadi asyik menikmati makanannya terlihat panik melihat pakaian laki-laki yang duduk di sampingnya basah karena tumpahan air minum dari sang anak. Sang ibu berulang kali meminta maaf sambil memarahi sang anak yang terlihat menahan tangis.

“Tidak apa-apa Bu.” Kata laki-laki itu berdiri mengibas-ibaskan tangannya di atas tumpahan yang mengenai kemeja dan celananya. Sang ibu cepat-cepat mencari tissue di dalam tas. Namun ia semakin memarahi sang anak ketika ia tidak menemukan satupun tissue di sana.

“Permisi…” Lana menyodorkan tissue ke arah pria itu. Pria itu diam sejenak lalu mengambil beberapa lembar tissue dari Lana kemudian tersenyum dan mengucapkan terima kasih.

***

Adam masih melihat wanita itu, wanita yang diam-diam mencuri perhatiannya, wanita yang baru saja menyodorkan tissue kepadanya. Wanita itu belum kembali ke tempat duduknya. Ia berjongkok dan menatap anak kecil yang tidak sengaja menumpahkan air di kemeja dan celana Adam.

“Udah, nggak apa-apa kok. Omnya nggak marah. Iya kan om?” Wanita itu menyentuh kedua tangan anak kecil itu sambil mengusapnya dengan lembut. Ia menoleh ke arah Adam untuk meminta persetujuan Adam.

“Iya. Om nggak marah kok.” Adam membalas cepat sambil mengusap kepala anak laki-laki itu. Ia tersenyum menatap anak kecil itu kemudian berganti menatap wanita itu lama. Entah mengapa sejak pertama melihat wanita itu, ia merasa ada sesuatu pada diri wanita itu yang menarik hatinya.

***

Lana menatap punggung pria itu yang berjalan ke arah toilet, punggung yang mengingatkannya dengan seseorang di masa lalu dan entah mengapa membuatnya tiba-tiba saja merasa rindu. Pria itu baru saja menitipkan tasnya kepada Lana dan ibu tadi sementara ia ke kamar mandi untuk berganti baju.

“Sepertinya dia orang kaya. Kemeja dan celananya pasti mahal.” Ibu anak laki-laki itu menatap Lana meminta persetujuan.

“Em…, mungkin…” Lana hanya membalas pendek.

“Untung orangnya baik.” Lanjut ibu itu. Kali ini Lana hanya membalas dengan senyum. Dalam hati Lana membenarkan perkataan ibu itu. Laki-laki yang namanya entah siapa itu cukup baik karena ia masih bisa tersenyum bahkan mengusap kepala anak laki-laki itu sementara kemeja dan celananya yang sepertinya memang mahal basah kuyup dan jadi pusat perhatian orang-orang di ruang tunggu bandara.

Tidak lama pria itu telah kembali. Kali ini ia terlihat lebih santai dengan baju kaos dan celana pendek di bawah lutut. Ia lagi-lagi tersenyum pada Lana ketika akan duduk di bangkunya. Lana membalas dengan senyuman pendek kemudian kembali mengambil bukunya yang terlupakan beberapa saat.

***

Baru saja Adam ingin mengajak wanita itu mengobrol atau paling tidak menanyakan nama wanita itu tiba-tiba wanita itu kembali mengambil bukunya seolah memberikan sinyal bahwa ia tidak ingin diganggu oleh siapapun. Tapi Adam tidak menyerah. Ia bertekad mengetahui nama wanita itu. Huff…, Adam menghembuskan nafas. Ia sudah bersiap-siap membuka mulut tapi sayang lagi-lagi niatnya harus terhalang oleh pengumuman yang menyatakan bahwa ia dan penumpang tujuan Yogyakarta dipersilahkan untuk menaiki pesawat.

Dalam hati Adam berharap wanita itu juga akan ke Jogja dan satu pesawat dengannya. Tapi ia lagi-lagi harus kecewa karena wanita itu terlihat masih saja santai di kursinya tak bergerak sama sekali. Adam berdiri dari kursinya. Ia tersenyum pada wanita itu yang membalas senyumnya seperti sebelumnya, hanya sekedarnya. Adam sudah berada dalam antrian menuju pintu keluar. Hatinya masih saja gelisah. Ia merasa tidak tenang jika ia belum mengetahui siapa nama wanita itu. Ketika sudah dekat dengan pintu keluar, Adam tiba-tiba meninggalkan antrian dan kembali ke bangkunya. Ia berdiri di hadapan wanita itu. Wanita itu cukup terkejut.

“Saya Adam. Bolehkah saya tahu nama Anda?”

***

“Saya Adam. Bolehkah saya tahu nama Anda?”

Lana terkejut. Baru saja ia melihat laki-laki itu dalam antrian, kini malah sudah berdiri di hadapannya.

“Lana. Nama saya Lana…” Lana tersenyum bahkan ia sedikit menahan tawa. Benarkah Adam meninggalkan antrian hanya untuk mengetahui siapa namanya? Dia pikir adegan seperti ini hanya ada di film-film atau drama roamantis yang dulu sering ia nonton.

“Lucu ya…” Adam bergumam sambil tertawa kecil dan mengusap rambutnya yang sejak awal terlihat rapi.

“Tidak. Hanya saja tidak pernah terlintas di dalam pikiran saya.” Lana tersenyum. Ia mengenakan tas ranselya dan segera berdiri dari tempat duduknya.

“Kamu sudah mau berangkat? Tujuan mana?” Adam penasaran.

“Saya pikir kita akan ketinggalan pesawat jika terus berdiri di sini, hehehe…” Lana tertawa kecil sambil menunjuk pintu keluar tempat Adam mengantri sebelumnya.

“Ya ampun…, ini benar-benar memalukan.” Adam semakin malu saja. Lana ikut tertawa kecil. Wanita berjilbab itu bahkan sampai menutup mulutnya dengan tiket yang ia genggam.

***

“Nomor berapa?” Adam melirik Lana yang masih berdiri menatap calon tempat duduknya sementara Adam sudah tiba di bangkunya, bangku nomor 1B.

“5A. Tapi sepertinya sudah diduduki seseorang.” Lana menjawab santai sambil mengecek kembali tiket yang dipegangnya. Adam berdiri dari duduknya dan melihat ke bangku 5A yang saat ini sudah tidak kosong lagi. Beberapa penumpang melihat ke arah mereka atau tepatnya ke arah Adam yang penampilannya memang good looking bagi setiap mata apalagi mata wanita.

“Permisi mbak!” Adam langsung memanggil seorang pramugari yang berdiri tidak jauh dari bangkunya. Lana tersenyum. Ia juga baru saja ingin melakukan hal yang sama tapi Adam mendahuluinya.

“Iya, ada yang bisa kami bantu bapak, ibu?” Seorang pramugari menghampiri mereka dengan setelan warna biru cerah dengan rambut disanggul kecil.

“Di tiket saya tertulis kursi 5A, tapi kebetulan sudah ada yang menempati. Baiknya gimana ya mbak?” Lana memperlihatkan tiket yang dipegangnya.

“Boleh saya pinjam sebentar tiketnya ibu?”

“Boleh, silakan.” Lana memberikan tiketnya kepada pramugari berkulit putih itu. Sang pramugari melangkah dengan tegap menuju kursi 5A. Lana dan Adam melihat pramugari tersebut mengecek tiket penumpang yang telah menempati bangku itu lebih dulu dan berdiskusi pendek. Pramugari itu lalu kembali berjalan menuju Lana yang masih berdiri menunggu sementara penumpang lain sudah duduk dengan tenang di kursi masing-masing.

“Maaf ibu, kalau kami pindahkan ke bangku yang lain yang masih kosong apa tidak masalah?” Tanya pramugari itu dengan sopan.

“Tidak masalah mbak.” Lana membalas cepat.

“Kalau begitu tunggu sebentar ibu, kami cek dulu.” Pramugari itu cepat berjalan menemui seorang pramugari yang lain. Mereka sedikit berdiskusi lalu pramugari itu segera kembali menemui Lana.

“Ibu, silakan duduk di sebelah sini. Mohon maaf atas kekurangan pelayanan kami.” Pramugari tersebut dengan sedikit membungkuk menunjukkan Lana tempat duduk barunya yang tepat bersebelahan dengan Adam, bangku 1C. Pramugari itu membantu Lana memasukkan tas ranselnya di kabin dan pergi setelah Lana duduk dengan nyaman di kursinya.

“Hai, bukankah ini sebuah kebetulan yang istimewa, hehehe…” Adam tertawa kecil. Dalam hati ia merasa sangat beruntung.

“Hem, tapi bukankah tidak ada yang kebetulan di dunia ini? Hehehe…” Lana menimpali.

“Tepat. Jawaban itu yang ingin saya dengar. Berarti ini adalah rencana Allah yang istimewa.” Sambung Adam penuh arti.

***

Pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Adi Sucipto. Selama perjalan kurang lebih satu jam, Adam banyak mengajak Lana mengobrol tentang apa saja. Laki-laki itu ingin mengukur seberapa cocok ia dengan wanita yang duduk di sampingnya. Lana tidak keberatan sama sekali karena ia wanita yang memang senang berdiskusi dan bertukar pikiran dengan siapa saja.

Adam sekarang tahu jika Lana ternyata adalah seorang dokter spesialis anak. Dan Lana sekarang tahu jika Adam ternyata seorang arsitek. Usia mereka juga tidak terpaut jauh. Lana lebih muda 2 tahun dari laki-laki tinggi itu. Tapi sampai detik ini Adam masih menyimpan satu pertanyaan di dalam kepalanya yang sulit ia utarakan. Ia penasaran dengan status Lana, apakah dia wanita yang sudah berkeluarga atau belum. Jika belum, maka ia berniat untuk mengenal Lana lebih jauh dan melamar wanita itu. Adam tidak khawatir tentang kekasih. Salaman saja Lana tak mau apalagi memiliki seorang kekasih.

***

“Ah…,” Adam mengangguk-angguk ketika sesuatu baru saja melintas di kepalanya.

“Kenapa?” tanya Lana yang berjalan santai di sampingnya sambil menarik tas travel yang tidak terlalu besar.

“Saya sudah tahu kenapa tadi kamu terlihat begitu nyaman dengan anak itu dan begitupun sebaliknya. Ternyata karena profesimu tidak jauh dari anak-anak, hehehe…” Adam tertawa kecil sembari menarik tas travel hitamnya.

“Bukan. Bukan karena itu…”

“Lalu?” Adam sedikit terkejut dan penasaran.

“Karena saya seorang ibu, saya punya seorang putri.” Jawab Lana santai. Mendengar jawaban itu Adam tiba-tiba terdiam tak tahu harus berkata apa-apa. Sesuatu yang sejak tadi ia tanyakan akhirnya terjawab sudah dengan sebuah jawaban yang paling tidak ingin ia dengar. “Kenapa?” Lana mengerutkan kening mendapati Adam kehilangan kata-kata.

“Em, tidak…” Adam memaksakan senyum di bibirnya.

“Saya nggak ada potongan ibu-ibu ya? Hehehe…” Lana tertawa kecil. Adam ikut tertawa meski hambar.

Tidak. Hanya saja saya yang terlalu berharap. Bisik Adam dalam hati.

***

“Baru tiba?” Seorang dokter berkerudung biru menyambut kedatangan Lana di salah satu rumah sakit swasta di Jogja. Lana tersenyum sembari menghampiri sang sahabat dengan senyuman.

“Sejam yang lalu. Aku menemui putri cantikku dulu baru ke sini.” Lana tersenyum sambil mengambil tempat duduk di samping sang sahabat.

“Kirana.., hem, pasti dia cantik.” Sang sahabat menyahut sambil menatap kosong ke depan.

“Tentu saja, dia pasti secantik ibunya, hehehe…”

“Iya deh, ibunya yang cantik plus narsis, hehehe…” Berdua mereka tertawa kecil.

“Hem, kalau Kirana masih hidup, mungkin dia sudah sebesar anak itu. Iya kan?” Lana menatap seorang anak kecil berumur sekitar 6 tahun yang sedang bermain-main di sebuah bangku tunggu rumah sakit.

“Iya,” sang sahabat menjawab singkat sembari menggenggam tangan Lana erat. Meski peristiwa itu sudah 5 tahun yang lalu, sang sahabat tahu persis bahwa Lana belum benar-benar bisa melupakan.

“Oh ya, tentang yang aku tanyakan tempo hari, apa sudah ketemu?” Tanya Lana dengan sangat antusias.

***

Adam menatap batu nisan yang tertancap kokoh di atas sebuah pusara. Raya Wulandari, begitulah nama yang tertulis di sana. Seorang wanita yang dulu ia cintai. Dulu sekali, lima tahun yang lalu. Dulu, ketika pusara itu masih merah, Adam datang diam-diam. Ia menghindari keluarga Raya yang tidak ingin melihat kemunculannya di proses pemakaman itu. Bagi mereka Adam lah sebab kepergian Raya untuk selamanya. Dan sejak saat itu Adam memilih pindah ke Jakarta untuk bisa melupakan apa yang terus mengganggu pikirannya.

“Maafkan aku. Harusnya waktu aku tidak mengatakan jangan kembali.” Adam meletakkan sebatang bunga lili di sana. Bunga kesukaan Raya. Laki-laki itu dengan mantap melangkahkan kaki dan pergi.

***

Lana menatap selembar kertas yang baru saja diberikan sang sahabat. Di depannya sudah tertera data seorang korban kecelakaan lima tahun yang lalu. Ia membaca dengan saksama, nama itu, Raya Wulandari. Nama yang sama yang ia baca lima tahun lalu di undangan pernikahan sang mantan suami. Lana menarik nafas berat. Ternyata ia tidak salah ingat. Tiba-tiba ia merasa kasihan.

“Kenapa kamu ingin tahu detailnya?” sang sahabat meletakkan secangkir teh di atas meja.

“Tidak apa, aku hanya penasaran dengan sesuatu.” Lana tersenyum datar sembari meletakkan kertas itu di atas meja. Ia menyeruput teh yang ada di hadapannya.

“Hem, tapi kok bisa sama gini ya…” sang sahabat ikut menikmati teh buatannya sendiri.

“Maksud kamu?”

“Kemarin juga ada yang minta tolong dicarikan data kecalakaan lalu lintas yang kalian alami lima tahun yang lalu. Rencananya hari ini dia juga akan ke sini untuk melihat data-data itu.” sang sahabat menjelaskan.

“Oh ya? Siapa? Untuk apa?” Lana penasaran.

***

Adam berkali-kali membaca data-data yang baru saja ia perolah. Ia membaca lagi dan lagi dengan rasa tak percaya. Ia mengenal nama yang tertera di sana. Ia tidak mungkin salah. Adam kembali membaca data itu untuk meyakinkan dirinya.

“Nama wali; Lana Iskandar. Pekerjaan; dokter spesialis anak. Nama anak; Kirana Hendrawan.” Adam tertegun.

***

Lima tahun yang lalu…

Adam dan Raya terlibat pertengkaran. Adam tidak terima dengan keputusan sepihak Raya yang memutuskan pertunangan di antara mereka dan memilih menikah dengan laki-laki lain, laki-laki yang tak lain bos Raya di kantor.

Sementara di tempat berbeda, Lana baru saja menjemput Kirana dari rumah orang tuanya. Lana baru saja bercerai dengan suaminya yang kabarnya sebentar lagi akan menikah dengan sekretarisnya sendiri. Sudah lama Lana mendengar gosip itu, gosip hubungan istimewa antara suaminya dan sang sekretaris tapi Lana tidak ingin tertalu peduli.

“Kenapa Ra? Apa yang salah dari hubungan kita? Kupikir selama ini kita baik-baik saja.” Adam menggenggam lengan Raya dengan sangat erat.

“Maaf Dam. Aku hanya sudah tidak mencintaimu lagi. Aku mencintai orang lain. Tolong lepaskan aku.”

“Tapi aku mencintaimu Ra. Tidak cukupkah?”

“Tidak Dam. Tolong mengertilah.” Raya mencoba melepaskan diri dari Adam.

“Bagaimana bisa aku mengerti? Bagaiamana bisa kau begitu cepat berubah?” Adam masih tidak bisa menerima. Ia sekuat tenaga menahan Raya tetap bersamanya.

“Tolong lepaskan aku Dam atau kalau tidak aku akan berteriak!” Raya mengancam. Beberapa orang terlihat memperhatikan mereka yang sedang beridri di pinggir jalan di depan sebuah cafe.

“Baiklah jika itu yang kau inginkan. Mungkin aku memang tidak pantas untukmu. Pergilah dan jangan pernah kembali lagi!” Adam melepaskan tangan Raya dan melangkah pergi meninggalkan Raya seorang diri.

Sementara Lana yang sedang konsentrasi menyetir harus terganggu ketika Kirana mulai menangis kencang ketika mainannya jatuh ke dekat kaki ibunya. Lana mencoba meraba-raba mainan itu sambil menurunkan kecepatan mobilnya. Lana tersenyum ketika ia berhasil mendapatkan mainan itu dan cepat memberikan kepada Kirana yang secara otomatis berhenti menangis. Lana tersenyum menatap Kirana yang berada di sampingnya dan mengusap pipinya sekilas. Tapi, baru saja Lana menambah kecepatannya, seorang wanita tiba-tiba saja muncul ingin menyeberang. Lana bingung sekaligus panik, ia mencoba menghindar sekuat yang ia bisa. Wanita itu terlalu dekat dan terjadilah sebuah tabrakan hebat.

Bug…!!!

Suara itu terlalu keras. Adam yang belum terlalu jauh berbalik dan segera berlari ketika melihat tubuh Raya sudah tergeletak di tengah jalan dan sebuah mobil menabrak torotoar dengan sangat keras. Adam memeluk Raya dengan perasaan hancur. Ia menyesal, sangat menyesal telah melepaskan tangan Raya dan menyuruhnya tidak kembali lagi. Raya benar-benar menepatinya. Raya tidak pernah kembali.

Satu jam kemudian…

Lana berbaring di atas tempat tidur pasien. Ia terlihat begitu lemah. Terdapat beberapa luka di wajahnya. Lana tidak berdaya. Ia seperti kehilangan tenanga. Lututnya lemas begitu juga dengan kakinya. Sementara keluarga wanita yang tertabrak itu belum juga berhenti mendatangi Lana. Mereka satu-persatu datang menemui Lana hanya untuk memaki wanita itu dengan kata-kata yang kasar dan tajam. Mereka menyalahkan Lana atas meninggalnya wanita itu, Raya.

“Maafkan saya…” hanya kata itu yang selalu keluar dari bibir Lana dan air mata yang sejak tadi tak berhenti mengalir.

“Kamu pikir kata maaf bisa mengembalikkan Raya kami, begitu?!” Seorang wanita paruh baya memaki Lana. Lana tidak membalas apapun. Ia sudah sangat lelah.

“Maaf ibu, silakan keluar dari kamar ini. Pasien kami butuh istirahat.” Sang sahabat yang sejak tadi menangani Lana datang menjadi pelindung.    

“Dokter tidak tahu, wanita itu telah membunuh anak saya. Anak saya satu-satunya!” Sang wanita berteriak histeris, beberapa keluarganya menopang sang wanita karena seperti akan pingsan.

“Saya mengerti perasaan ibu. Tapi mungkin ibu tidak tahu jika wanita yang sejak tadi ibu teriaki, yang sejak tadi terus meminta maaf kepada ibu, juga baru saja kehilangan anaknya dalam kecelakaan ini. Anak satu-satunya dan masih berumur satu tahun. Saya harap ibu bisa lebih menahan diri. Kita semua merasakan hal yang sama. Sama-sama kehilangan orang yang dicintai.”

Adam yang berdiri tidak jauh ikut mendengar perkataan sang dokter. Perasaan bersalah di hatinya semakin menumpuk. Bukan hanya kehilangan Raya, ia juga merasa bersalah telah membuat orang lain harus kehilangan seseorang yang dicintainya.

Ketika suasana mulai sepi, Adam mendekati tempat tidur Lana. Lana berbaring membelakangi pintu. Air mata masih terus mengalir di kedua pipinya dan punggungnya juga masih bergetar. Adam tak tega melihat kesedihan itu. Tadinya ia mengira, dialah yang paling kehilangan tapi ia salah, ada seseorang yang lebih kehilangan daripada dirinya, Lana.

“Maafkan aku…” Adam meletakkan sesuatu di atas tempat tidur dan berlalu pergi. Lana pelan-pelan berbalik dan menatap punggung tegap itu. Punggung yang membuatnya tiba-tiba rindu, rindu menyandarkan kepalanya di sana kala sedang merasa duka dan payah. Lana menyentuh sapu tangan biru yang tergeletak di salah satu sisi tempat tidur. Lana mengambilnya dan menggenggamnya erat.

“Terima kasih.” Lana menyeka kedua pipinya.

Flashback off

***

“Maafkan aku.” Adam menatap Lana yang duduk di hadapannya. Adam segera menelpon wanita itu untuk bertemu setelah membaca data-data yang ia peroleh dari pihak rumah sakit. Laki-laki itu marasa beruntung karena sebelum berpisah di Bandara beberapa jam lalu, Adam mengambil nomor Lana dengan alasan ponakannya mungkin akan butuh berobat ke dokter spesialis anak.

“Karena aku kau menanggung beban yang berat. Kau kehilangan Kirana, kau juga harus menerima banyak kata-kata pahit, kau juga harus membayar ganti rugi, dan kau juga harus pindah dari rumah sakit tempatmu bekerja. Maafkan aku. Aku merasa sangat bersalah.”

Lana tersenyum. “Aku tidak pernah menyalahkan siapapun dalam peristiwa itu. Semua sudah digariskan. Kita hanya perlu menjalani. Bukankah setiap manusia akan pergi sementara yang tinggal akan belajar untuk melepaskan, ikhlas. Jadi, jangan merasa bersalah atas apapun. Jika dulu tidak terjadi pertengkaran itu, tidak terjadi kecelakaan itu, yakinlah akan ada peristiwa lain yang akan membuat kita tetap kehilangan mereka.”

“Ya, kau benar.” Mendengar kata-kata Lana, hati Adam menadi jauh lebih tenang.

“Lagi pula, waktu itu kau sudah meminta maaf bukan?” Lana tersenyum sembari mengambil sesuatu dari dalam sakunya. “Mungkin inilah alasan mengapa kita dipertemukan kembali, agar aku bisa mengembalikan sapu tangan ini kepada pemilik aslinya.” Lana tersenyum. Ia menyodorkan sapu tangan biru ke arah Adam. Sapu tangan yang berhasil menghapus duka dan menyemangatinya dulu.

“Bagaimana kau tahu itu aku?” Adam terpana, ia tidak menyangka Lana masih menyimpan sapu tangan itu.

“Punggung itu. Entah mengapa aku masih saja mengingatnya. Hem…, takdir memang sangat istimewa ya…” Lana tertawa kecil. Adam ikut teratawa sambil menyeruput kopi di depannya.

Takdir memang istimewa karenanya aku tahu mengapa aku belum juga menemukan seorang wanita dan menikah, karena aku harus sampai di hari ini, menemui wanita yang tepat untukku, Lana.

-Tamat-

_Nurhudayanti Saleh_ (Kamar tercinta, 14/2/2017. Ketika malam semakin tua)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s