Diposkan pada Akhlak dan Nasehat, Cerpen

Aku Membenci Laki-laki Itu

aku-membenci-laki-laki-itu

Aku membenci laki-laki itu. Laki-laki berkulit gelap itu. Ia selalu diam-diam menatapku. Aku tidak suka dengan tatapan itu. Tatapan yang membuatku marah sekaligus takut. Entah sejak kapan tatapan itu berubah makna. Sepertinya semenjak wanita itu diterima bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik besar. Ia selalu pergi pagi, pulang sore. Atau pergi sore, pulang pagi.

Aku membenci laki-laki itu. Ia bekerja sebagai nelayan. Ia pergi sore, pulang pagi. Jika cuaca buruk, ia tidak akan ke mana-mana. Ia akan seharian tinggal di rumah sambil menonton tivi. Tapi itu dulu. Suatu hari semua berubah. Seorang teman sesama nelayan mengajaknya keluar menghabiskan waktu entah kemana. Waktu itu sang wanita bekerja sore pulang pagi.

Aku membenci laki-laki itu. Hari itu, ketika pulang ia terlihat sempoyongan. Matanya merah dan berair. Ia berteriak-teriak memanggil wanita itu tapi yang dipanggil tentu tak menyahut. Ia kemudian berjalan dengan bersiul-siul menuju kamar, tapi bukan kamar yang setiap kali ia mengantuk, ia akan tidur di sana. Ia menuju kamar yang selama ini ia benci, menatap pun ia tak sudi.

Laki-laki itu membuka pintu dengan keras. Ia mengagetkan seorang gadis kecil yang nampak begitu gembira melihat laki-laki itu datang menemuinya. Laki-laki yang ia rindukan sejak lama. Wanita kecil itu tertawa-tawa ketika laki-laki itu mendekati dan menggendongnya.

Aku membenci laki-laki itu. Ia tidak sampai hanya menggendong gadis kecil itu. Ia juga membuka pakaian gadis kecil itu. Gadis kecil itu mulai takut. Tawa riangnya telah menghilang. Gadis kecil itu meronta-ronta ingin lepas dari pelukan erat laki-laki itu tapi apa yang bisa ia lakukan. Ia hanya anak kecil yang tak punya kekuatan. Laki-laki itu nampak seperti hewan buas yang tengah mendapatkan santapan lezat di hari yang semakin gelap.

Aku membenci laki-laki itu. Hampir setiap kali cuaca buruk dan wanita itu bekerja sore pulang pagi, ia akan menghampiri kamar yang dulu ia benci namun kini tak lagi. Kini ia sangat sering menemui gadis kecil itu hanya untuk memuaskan apa yang ingin ia puaskan. Sementara gadis kecil itu tidak bisa berbuat apa-apa.

Aku membenci laki-laki itu dan sekarang aku membenci cuaca buruk hari ini. Wanita itu akan bekerja sore pulang pagi lagi. Ia sedang menyiapkan makanan untuk laki-laki biadab itu.

“Bang, bolehkah adek bertanya?”

“Apa yang ingin kau tanyakan?”

“Apakah Abang masih membenci Naya?”

Wanita itu tampak takut-takut. Sepuluh tahun lalu ia melahirkan seorang anak perempuan yang ia beri nama Naya. Anak perempuan itu berbeda dengan anak perempuan lainnya. Naya mengidap sindrom seribu wajah, sindrom down, matanya dan kepalanya nampak lebih kecil dari ukuran normal. Cara bicaranya pun tidak lancar, sangat terbata-bata.

Laki-laki itu tidak bisa menerima kenyataan. Ia malu dengan keadaan Naya. Baginya Naya adalah aib. Sejak gadis kecil itu bisa berjalan dan punya keinginan untuk bermain di luar bersama dengan yang lain, sejak saat itu ia dikurung di dalam kamar dan laki-laki berwatak keras itu tak pernah mengizinkan Naya keluar atau dibawa keluar oleh wanita itu.

“Hem…, bagaimana pun Naya adalah darah dagingku. Abang tentu tidak bisa terus-terusan membencinya. Lagi pula itu bukan salahnya.”

“Oh pantas saja akhir-akhir ini adek lihat Abang suka mengunjungi Naya. Naya juga suka menyebut-nyebut Abang. Mungkin dia ingin bercerita tapi tidak bisa. Adek senang Bang.” Wanita itu nampak bahagia. Sementara laki-laki itu tersenyum datar. Aku membencinya.

***

“Naya…, Naya sayang. Kau sembunyi di mana?”

Aku mendengar laki-laki itu membuka pintu dengan paksa. Usaha gadis kecil itu mengunci pintu dari dalam sia-sia. Gadis kecil itu bersembunyi di dalam lemari tua dengan perasaan ketakutan. Semakin lama aku mendengar langkah kaki laki-laki itu semakin dekat.

“Halo Naya sayang. Apa yang kau lakukan di situ? Sini! Waktu bermain dengan boneka itu sudah habis. Sekarang waktunya bermain dengan bapak!” Laki-laki itu menarik Naya keluar dari dalam lemari dan melemparkan aku jauh-jauh. Aku jatuh tepat di belakang pintu sementara laki-laki itu lagi-lagi merampas kebahagiaan gadis kecil itu. Aku membenci laki-laki itu tapi aku lebih membenci diriku sendiri yang tak bisa berbuat apa-apa.

Selesai

_Nurhudayanti Saleh_ (Wotu, 08/11/2016. Ketika kemaksiatan semakin merajalela)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s