Diposkan pada Akhlak dan Nasehat, My Diary, Sosok

Bertemu Akhwat-akhwat Istimewa

kawan yang baik

Akan kuceritakan perjalananku hari ini. Seperti yang sudah aku rencanakan sebelumnya, Alhamdulillah hari ini Allah mengizinkanku menginjakkan kaki di Masjid Raya Makassar untuk mengikuti Tablik Akbar Safari 212. Sebelum menceritakan keharuan yang terjadi selama jalannya acara, akan aku ceritakan terlebih dahulu perjalananku menuju rumah Allah yang megah itu.

Dari Tidung, aku menumpang angkot berkode E. Tak berapa lama, di depan kampus salah satu universitas negeri di Makassar, seorang akhawat dan beberapa wanita lainnya menaiki angkot yang aku tumpangi. Ketika menaiki angkot, akhwat berjilbab selutut abu-abu itu tersenyum padaku dengan sangat ramah. Aku balas menganggukan kepala tanda aku balas tersenyum padanya di balik kain yang menutupi wajahku.

Dalam hati aku bertanya-tanya, apakah aku juga seperti akhwat tadi yang selalu memperlihatkan senyum ceria kepada akhwat yang lainnya? Atau jangan-jangan aku akhwat yang kerap berwajah datar bahkan cuek-cuek saja? Ah, besar harapanku, orang-orang yang mengenalku menjawab aku ada di pilihan yang pertama.

Rombongan wanita muda dan akhwat tadi turun di depan kampus Universitas Negeri Makassar yang terletak di jalan Pettarani. Aku menatap gedung tinggi yang dikenal dengan nama Pinisi itu. Kulihat pula banyak orang yang sedang berkumpul di sana. Mungkin mereka para calon mahasiswa baru. Hem, aku jadi teringat masa-masa menjadi mahasiswa baru. Ketika itu aku dan Mega mengantri bersama ratusan calon mahasiswa lainnya untuk melakukan pendaftaran ulang sebagai mahasiswa yang lulus tanpa harus mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Aku dan Mega kala itu benar-benar masih sangat lugu. Penampilan kami juga sangat jauh dari penampilan kami sekarang. Ah, jika mengenangnya kami jadi sangat malu tentu. Semoga Allah senantiasa mengistiqamahkan kami di atas jalan-Nya yang lurus. Aamiin ^^

Masjid Raya sudah hampir penuh ketika aku datang seorang diri. Bergegas aku masuk dan mengambil tempat di samping seorang akhwat yang tak kukenal. Meski tak saling kenal, kami tetap bersalaman, saling sapa dan saling berbalas senyum karena begitulah Islam mengajarkan, bahwa setiap muslim itu bersaudara.

Tablik akbar berlangsung begitu penuh semangat, penuh khidmat. Satu per satu ustadz memberi taujih. Isinya tentu saja masih tentang harapan umat Islam agar si penista agama segera ditangkap. Lebih dari itu inti yang paling utama adalah agar umat islam senantiasa mememlihara persatuan dan memegang teguh syariat yang ada dalam Al-Qur’an salah satunya menegakkan perintah Allah yang tertera dalam surah Al-Maidah ayat 51.

Entah berapa butir air hangat itu jatuh tanpa bisa dicegah. Ia membasahi kedua pipi. Beruntung aku memakai cadar, meski tak ada tissue paling tidak orang-orang tak perlu melihat mataku yang basah karena haru. Aku tahu, aku tidak sendiri mengalami itu. Banyak dari kami pelan-pelan meyeka mata dan pipi. Suara takbir menggemah di seluruh sudut masjid bercampur suara merdu hujan yang turun menambah syahdu. Aku tidak bisa memaparkan satu demi satu apa yang terekam dan terbingkai di hati, namun satu yang pasti seluruhnya adalah penyemangat agar siapapun yang hadir hari ini bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, pribadi yang mau berjuang demi agama ini, pribadi yang tak gentar meski banyak rintangan dan halangan yang menanti, pribadi yang tangguh dan berdiri di atas agama ini sampai ajal menjemput nanti.

Ketika acara berakhir dengan pengumpulan dana bantuan untuk saudara kita di Aleppo, aku sengaja mengedarkan pandangan ke segala arah berharap aku bisa menemukan seseorang yang aku kenal di antara ratusan orang yang memenuhi ruangan. Peluang itu memang kecil, namun jika Allah berkehendak tak satupun dapat menolak. Dari jauh aku melihat seseorang yang sepertinya familiar dalam kenangan. Kulangkahkan kaki mendekatinya dan menyapanya. Ia menoleh dengan raut bertanya-tanya. Aku tersenyum di balik cadarku. Sedikit bercanda kusuruh ia menebak siapa aku. Kukira dia telah lupa, ternyata tidak. Tebakannya benar.

Mami, begitu kami menggelarinya dulu atas sifatnya yang begitu keibuan dan masih saja terpancar hingga sekarang. Ia sangat terkejut bisa bertemu denganku setelah sekian lama tak bersua. Ya, sudah sekitar 6 tahun terhitung sejak tahun 2010 ketika aku meninggalkan kampus lebih dulu. Aku bertanya dengan siapa ia datang dan jawabannya membuatku pura-pura menyesal menanyakan hal itu. Aku lupa jika ia sudah menikah, aku mendapatkan kabar itu beberapa tahun lalu 😀

Selain Mami, aku juga bertemu dengan satu akhwat teman sejurusan bahkan sekelas ketika jaman kuliah dulu. Saking gembira bertemu dengannya aku memukul-mukul pundaknya gemas, tapi malangnya aku lagi-lagi lupa bahwa temanku yang satu ini adalah akhwat yang paling cool sejagat raya dan karena sifatnya itu pulalah, ia masuk ke dalam daftar akhwat dan mahasiswi yang sangat disegani. Lucunya, aku sudah heboh luar biasa dan dia tetap saja kalem seperti biasa bahkan terkesan cuek dan biasa-biasa saja atas pertemuan ini. Jika bukan karena sangat mengenali sifatnya, mungkin aku sudah merasa kecele dan juga kecewa ^^

Setelah bercerita amat singkat, kami akhirnya saling berpamitan. Mami sudah ditunggu oleh suaminya sementara aku akan setia menunggu…, angkot. Ah, masih seperti sebelumnya 😀

Di dalam angkot aku duduk di dekat seorang ibu yang juga baru saja menghadiri acara yang sama. Ibu itu kutaksir usianya lebih tua dari usia ibuku. Dia juga pulang seorang diri. Jika dilihat, ibu itu berwajah (maaf) jutek tapi setelah melihat sikapnya di dalam angkot membuat anggapanku salah besar. Wajahnya tidak menggambarkan sikapnya yang begitu perhatian. Yah, maka kalimat bijak; don’t judge a book by cover, berlaku dalam situasi ini 😀

Ketika seorang penumpang laki-laki naik dan duduk tepat di sampingku, ibu itu (yang berada di sisi lainnya) langsung menyentuh lututku untuk lebih mendekat kepadanya. Tadinya kukira hanya bentuk ketidaksengajaan, namun hal itu terulang ketika naik penumpang laki-laki dan lagi-lagi duduk di sampingku. Kali ini ibu itu dengan mantap menarik diriku agar mendekat kepadanya dan jauh-jauh dari laki-laki itu. Ibu itu sangat mengerti akan situasiku sehingga ia tidak keberatan harus berdempet-dempetan serta berhimpit-himpitan denganku, sesuatu yang tidak banyak penumpang angkot yang mau melakukannya dengan alasan panas dan gerah. Tidak berhenti di situ. Ibu itu juga memberikan perhatian kepada salah satu penumpang yang jilbabnya menyentuh lantai angkot yang beroli. Ibu itu dengan sigap menggulung ujung jilbab penumpang itu. Penumpang itupun tersenyum penuh rasa terimakasih ketika menerima gulungan ujung jilbabnya. Tak lupa si ibu itu memberi isyarat agar si empunya jilbab menjaga agar jilbabnya tidak terkena oli lagi.

Ah, aku iri dengan kepekaan dan sikap ibu itu. Benar-benar sangat iri. Terkadang seseorang tahu sesuatu tapi ia tidak menyikapi hal tersebut dengan semestinya. Dan salah seorang yang seperti itu adalah aku. Terkadang aku tahu apa yang seharusnya dilakukan tapi aku tidak melakukannya, aku lebih memilih mendiamkan saja dengan dalih; mengapa harus aku yang melakukannya sementara si empunya cuek-cuek saja. Ketika hal tersebut telah berlalu barulah penyesalan itu datang, mengapa tadi aku tidak melakukannya saja? Alhasil, orang lain lah yang mengambil kesempatan melakukan kebaikan itu. Ah, aku masih perlu belajar lebih banyak!

Akhirnya sampailah aku kembali di rumah dengan perasaan lapar dan ngantuk yang tertahan. Setelah makan aku langusng memilih tidur dengan niat jika Allah masih memberi usia, bangun nanti aku akan menuliskan kisah ini, kisahku bertemu dengan akhwat-akhwat yang istimewa. Semoga setelah ini aku bisa bersikap lebih baik lagi dalam bermuamalah dengan siapa saja. Dan semoga kita semua bisa mengambil pelajaran berharga.

Wallahua’lam.

_Nurhudayanti Saleh_ (Makassar, 18/12/2016. Ketika aku merasa rindu dengan cucian piring di rumah :D)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s