Diposkan pada Akhlak dan Nasehat, Aqidah

Pemimpin Harus Seorang Muslim

pemimpin-harus-seorang-muslim

Mengapa harus muslim? Inilah pertanyaan pertama yang muncul di setiap kepala apalagi bagi seseorang yang tidak sependapat dengan hal ini tentu saja. Ada baiknya sebelum meneruskan membaca tulisan ini, rasa di hati dibenahi terlebih dahulu. Gatungkan sementara rasa tidak setuju agar setiap kata dan kalimat yang akan terbaca benar-benar termaknai sesuai pemaknaan penulisnya. Namun jika ternyata rasa di hati tak bisa dibenahi, maka ada baiknya tak perlu meneruskan membaca tulisan ini karena apapun yang terbaca nanti pasti akan tertolak meski saya menuliskannya dengan hati-hati dan sepenuh hati menginginkan yang terbaik bagi kita semua, bagi bangsa ini.

Mengapa harus muslim? Saya akan mencoba menjawab berdasarkan data dan fakta agar tulisan ini tidak dianggap subjektif apalagi SARA atau dianggap dongeng belaka. Mari kita mulai dari hal yang besar dan mendunia. Bumi ini terbagi menjadi beberapa negara, di antaranya ada yang dipimpin oleh seorang muslim ada lagi yang dipimpin oleh non muslim. Di antara negara yang dipimpin oleh seorang muslim ada yang undang-undangnya berdasarkan syari’at Islam, ada pula yang buatan manusia. Sampai di sini apakah kita bisa memetakannnya di dalam kepala? Jika bisa, mari teruskan membaca.

Hal besar yang ingin saya soroti dan juga menjadi sorotan dunia adalah beberapa penduduk suatu negara yang tertindas karena diperangi secara nyata dan terang-benderang. Ada yang diperangi oleh negara tetangga ada pula yang diperangi oleh pemerintahnya sendiri dalam hal ini pemimpin negaranya tentu terlibat secara langsung bahkan dialah pemimpin dari serangan-serangan tersebut.

Mari tengok negeri Palestina, khususnya Gaza. Inilah contoh satu daerah yang dijajah oleh negeri tetangga yaitu Israil, kaum Yahudi yang tentu saja pemimpin negeranya bukan seorang muslim. Lalu mari tengok pula Aleppo, kota terbesar kedua di Siria. Mereka diperangi, penduduknya dibantai. Oleh siapa? Tidak lain oleh pemerintahnya sendiri yang pemimpinnya bukan seorang muslim tapi seorang Syiah. Kemudian tengok pula penduduk Rohingnya di Myanmar. Tidak jauh beda dengan nasib penduduk Aleppo, penduduk Rohingnya juga dibantai, dibumi hanguskan oleh pemerintah mereka sendiri yang pemimpinnya bukan seorang muslim. Sampai di sini tahu kesamaan dari fakta di atas? Pemimpin yang memimpin sebuah penindasan bukan seorang muslim dan yang ditindas adalah penduduk muslim dan minoritas (meski yang terakhir ini bukan menjadi topik utama pada tulisan ini).

Tentu kita perlu perbandingan bukan? Maka mari tengok negara Arab Saudi yang pemimpinnya adalah seorang Muslim serta undang-undangnya juga syariat Islam. Apakah di sana terjadi penindasan yang sama yang terjadi di beberapa negara yang sebelumnya saya tuliskan di atas? Penindasan terhadap non muslim atau kaum minoritas? Jawabannya tidak. Bukan hanya hari ini, tapi sejak dulu, sejak seorang muslim memimpin negara tersebut dan menjadikan syari’at Allah sebagai undang-undang negara. Atau negara kita tercinta, Indonesia. Apakah di Indonesia ada sejarah pemerintahnya membantai, menindas, membunuh penduduknya sendiri? Sampai hari ini hal tersebut belum terjadi –dan semoga tidak akan terjadi- karena sampai hari ini yang memimpin Indonesia adalah seorang muslim meski undang-undangnya belum berdasarkan syari’at dari Allah. Karena setidak-tidaknya, meski negara tersebut belum menegakkan syariat Islam, tapi jika pemimpinnya seorang muslim yang baik, maka pada dirinya telah tertanam benih-benih kedamaian yang akan ia jadikan rujukan ketika mengambil keputusan yang adil untuk seluruh masyarakatnya.

Mungkin ada yang menyanggah dalam hati, bahwa tidak semua pemimpin negara non muslim bersikap demikian. Contoh di negara Jepang. Di negeri sakura sana, Islam malah semakin berkembang. Maka jawaban saya: ingat, bahwa saya tidak menuliskan semua pemimpin non muslim bersikap demikian bukan? Namun satu hal yang pasti dan ini fakta, bahwa untuk kasus besar yang kita bahas saat ini, pemimpin non muslim terbagi dua kategori, melakukan dan tidak melakukan. Sementara pemimpin muslim tidak terbagi alias tidak punya catatan hitam mengenai hal ini. Kesimpulan dan logikanya adalah, jika pemimpin muslim secara fakta tak memiliki sejarah pembantaian pada suatu kaum, penduduk atau etnis, maka mengapa kita masih saja ingin memilih pemimpin non muslim yang memiliki catatan hitam tersebut, yang memiliki kemungkinan melakukan hal serupa pada bangsa ini?

Tulisan ini sangatlah berkaitan dengan pilkada yang akan berlangsung serempak di semua profensi di Indonesia. Tujuannya tidak lain, mengajak seluruh rakyat Indonesia –bukan hanya yang muslim- memilih pemimpin yang muslim (jika memang di hati kita masih ada kepekaan dan rasa kemanusiaan yang tinggi) karena tulisan ini bukan tentang saya muslim lalu saya menyuruh Anda memilih pemimpin muslim. Tak satupun dari ayat Al-Qur’an yang saya nukil dan jadikan dalil dalam tulisan ini. Ini murni fakta, berharap bisa mengetuk pintu hati siapa saja untuk memilih pemimpin muslim terutama masyarakat muslim itu sendiri yang harusnya sudah sangat mengerti dan memahami hal ini.

Kasus penistaan agama yang sedang bergulir di pengadilan haruslah menjadi pelajaran dan catatan khusus bagi siapa saja. Lihatlah siapa yang melakukannya, dia bukan seorang muslim. Bahkan ia tidak hanya menista agama Islam tapi juga agama lainnya yang dengan gampang kita temukan videonya di internet. Lagi-lagi kita bicara fakta.

Sekali lagi mungkin ada yang menyangga dengan berkata: toh di luar sana calon pemimpin lain, yang muslim juga punya catatan buruk. Maka jawaban saya; jangan pilih mereka yang punya catatan buruk. Jika semua punya (karena manusia memang tak luput dari salah), maka pilihlah yang paling sedikit catatan keburukannya, yang keburukannya tidak menggemparkan sebuah bangsa dan mengancam keutuhan negara tercinta ini. Mudah bukan? ^^

Wallahua’lam.

_Nurhudayanti Saleh_ (Makassar, 15/12/2016. Ketika raga tak mampu membela, maka semoga tulisan mampu mewakili ghirah dan jihad di dalam dada)

Note penting: tolong bedakan penjajah (menyerang atau mengajak perang lebih dulu dalam bentuk apapun) dengan sikap bertahan dari penjajah.

>Mohon maaf, tulisan ini tidak menerima komentar yang mengarah pada perdebatan. Dengan segala hormat, bagi siapa saja yang tidak sependapat namun di dalam hatinya masih ada rasa menjaga persatuan dan kesatuan, dipersilahkan untuk membuat tulisan sendiri di lapak sendiri, bukan di lapak ini. Dan bagi siapa yang berniat ingin memberi nasihat silakan langsung inbox pribadi. Terimakasih ^^ <

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s