Akhlak dan Nasehat · My Diary

Hari Penentuan

Hari Penentuan

1 minggu itu 7 hari kan? Kenapa aku merasa 1 minggu itu ada 27 hari? Padahal biasanya 1 minggu terasa sehari. Hari ahad isi halaqah, eh tahu-tahu besok sudah ahad lagi, sudah isi halaqah lagi. Rasanya benar-benar hanya sehari. Tapi beda dengan yang ini. Setiap hari aku memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Hari senin aku berfikir proses ini mungkin akan berlanjut tanpa hambatan berarti. Hari selasa, aku berfikir mungkin akan lanjut dengan sedikit kerikil-kerikil ujian. Hari rabu, aku berfikir akan berlanjut namun dengan proses yang akan sangat sulit dan panjang. Tiba hari kamis aku berfikir proses ini tidak akan berlanjut dan hanya akan sampai di sini. Pikiran itu bertahan hingga ke hari ahad, sehari sebelum penentuan.

“Kayaknya nggak bakal lanjut deh…” gumamku menerka-nerka.

“Ets, nggak boleh mikir kayak gitu. Ntar beneran kejadian loh. Ingat, prasangka Allah itu mengikuti prasangka hamba-Nya. Emang kamu mau proses ini beneran nggak lanjut?” Sahabatku memberi wejangan karena entah sudah berapa kali aku mengemukakan perasaan yang sama. “Aku malah yakin kalau prosesnya in syaa Allah akan lanjut.” Sambungnya sembari tersenyum dengan penuh keyakinan.

“Ah jangan terlalu optimis…” kataku.

“Kamu yang jangan pesimis!” sahabatku langsung protes.

***

Hari senin datang juga. Hari yang sejak seminggu kunanti-nanti dengan perasaan tebak-tebak berhadiah. Ternyata menanti keputusan itu jauh lebih mendebarkan ketimbang nadzhar itu sendiri. Dalam sejam entah berapa kali aku mengecek hape, sekedar mengintip adakah pesan dari ummahat yang menjadi wasilah ta’aruf ini. Hem…, aku lagi-lagi menarik nafas. Ini sudah siang tapi kenapa jawabannya belum datang juga. Oh ya, mungkin ada yang bertanya-tanya, mengapa aku menanti jawabannya, tidakkah aku juga harus memberikan jawaban?

Sekali lagi, aku bukan wanita yang pemilih. Syarat mutlak yang harus dimiliki oleh sang lelaki adalah shalih dan berakhlak terpuji, selebihnya tentu bisa dibenahi. Jadi bisa tebak sendiri kan mengapa aku yang menanti jawaban dari pihak si ikhwan?

Hapeku berbunyi, tanda sebuah pesan di wa baru saja bertandang. Buru-buru aku mengecek hape memohon kali ini adalah pesan yang kunanti sejak tadi dan…, benar saja, inilah pesan yang kunanti selama 7 hari.

Afwan ustadz, tolong sampaikan kepada akhwatnya kalau ana tidak bisa melanjutkan proses ini. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan perkara fisik. Ini semata karena ayah saya menginginkan akhawat yang dekat saja. Ayah saya tidak mengapa kalau akhawatnya bercadar asal yang dekat saja jangan yang jauh. Sekali lagi ana mohon maaf ustadz.

Aku tersenyum. Pesan itu adalah pesan si ikhwan yang diforward langsung kepadaku. Belum sempat aku merasakan apa yang ada di hatiku saat ini, sebuah pesan menyusul masuk.

Ikhwannya sedang kami lobi ukh. Kalau cuma masalah teknis kan bisa disiasati. Ini sedang dinasehati ustadz agar tidak cepat menyerah begitu saja.

Kali ini pesan yang masuk dari ummahat wasilah kami. Aku kembali tersenyum. Benar sudah perasaanku. Huff, aku bernafas lega. Paling tidak aku tidak merasa kecewa terlalu banyak. Lalu sedikit? Tentu saja ada. Bagaimana tidak jika alasannya adalah masalah jarak. Harusnya sejak awal ia mempertimbangkan dan mendiskusikan dengan orang tuanya, bukankah di biodataku jelas tertulis aku berasal dari mana. Ah, sebal juga rasanya.

Aku pun membalas pesan itu dengan singkat; na’am um, yang berarti aku akan menanti sekali lagi. Sebenarnya aku ingin mengakhiri saja sampai di sini. Setengah harga diriku merasa dilukai seolah aku begitu mengharapkan ikhwan itu. Tapi sebelah harga diriku bicara lebih bijaksana. Ia mengatakan bahwa segala sesuatu yang menuju kebaikan memang akan diuji terlebih dahulu, mungkin di sinilah ujiannya. Lagi pula si ikhwan hanya sedang patuh pada perintah orang tuanya, itu artinya dia ikhwan yang baik, sebuah modal yang cukup menjadi imam yang baik dalam sebuah keluarga.

Tiba di kos, aku memasang wajah datar. Sahabatku sudah menanti ceritaku tentu saja. Dia juga sangat penasaran dengan kelanjutan ta’aruf ini. Dengan sedikit tak bersemangat aku menceritakan semuanya tanpa kurang sehuruf pun. Dia nampak kecewa. Alasannya sama dengan alasan kekecewaanku yang sedikit itu.

“Jadi…, besok-besok kalau kamu ta’aruf, kamu harus mastiin segala hal yang berkaitan tentang teknis udah nggak ada masalah, baru deh kamu nadzhar. Jangan kayak sekarang. Udah nadzhar malah baru muncul masalah seperti ini yang harusnya bisa diletakkan di awal. Kalau ta’arufnya kandas, ruginya tuh di kita yang selama ini berusaha menjaga agar wajah tak banyak yang memandang.” Semua kekesalanku akhirnya muntah juga. Sahabatku mengangguk-angguk membenarkan.

“Makanya, sekarang aku tuh lagi banyak belajar dari kamu…” sahutnya cepat.

“Aku jadi kelinci percobaan gitu ya?”

“Tepat sekali, hahaha…”

Akupun memanyunkan bibir. Namun tidak lama, karena setelah itu aku kembali tersenyum. Dalam hati aku merasa bersalah telah berfikir negatif pada ikhwan itu. Mungkin ia sudah berusaha keras untuk meyakinkan orang tuanya. Dan satu hal, bukankah semua ini memang sudah menjadi resiko yang sejak awal harus ditanggung ketika ta’aruf ini gagal dengan alasan apapun? Ya, sepertinya sejenak aku hilaf😀

Tiga hari berlalu begitu saja. Jujur aku tidak terlalu memikirkan kapan keputusan final itu akan datang. Perasaanku semakin kuat saja bahwa ta’aruf ini akan tamat sampai di sini. Hapeku berbunyi. Aku menatap sebuah pesan dari ummahat yang aku kenal.

Afwan ukhty kami sudah berusaha, demikian pula dengan ikhwannya, namun keputusannya tetap tidak bisa dilanjutkan. Afwan sekali lagi. Ikhwannya merasa tidak enak hati. In syaa Allah, akan digantikan dengan yang lebih baik oleh Allah ^^

Sudah kuduga bukan? Aku tersenyum. Kuketik balasan pesan itu.

Laa ba’sa um. Sampaikan pula kepada ikhwannya. Laa ba’sa. Semua sudah menjadi ketentuan Allah. Kita hanya berusaha. Tidak perlu merasa tidak enak. Semoga masing-masing dari kita mendapatkan ganti yang lebih baik ^^

Proses ta’aruf ini akhirnya sampai juga pada ujungnya. Jujur selama ini aku hanya selalu disajikan cerita ta’aruf yang berhasil sampai ke pelaminan sehingga di awal proses ini aku berpikir akan berhasil juga seperti yang lain. Aku lupa bahwa sebuah proses selalu memiliki dua sisi berbeda, berhasil atau belum berhasil. Ya, aku tidak ingin mengatakan ini gagal, karena selama aku belum menikah maka selama itu pula adalah sebuah proses bukan? Bahkan sejatinya proses ini akan berhasil di suatu hari nanti karena Allah telah menyiapkan pasangan untuk setiap makhluk-Nya. Berhasil di dunia atau di akhirat kelak ^^

***

“Kamu lihat nggak MC tablik akbar tadi?” tanyaku pada sahabatku ketika kami baru saja pulang dari sebuah tablik akbar. Ruangan yang digunakan pada kegiatan tablik akbar itu tentu saja dihijab. Biasanya, hijab dipakai untuk memisahkan peserta ikhwan di depan dan peserta akhwat di belakang. Tapi hari ini sedikit berbeda. Hijabnya membagi dua ruangan menjadi kanan dan kiri. Akhawt sebelah kanan dan ikhwan sebelah kiri sehingga baik akhwat maupun ikhwan bisa melihat pengisi acara hari ini.

“MC-nya kan ada dua. Aku cuma lihat satu aja, yang tinggi dan putih, yang satunya terhalang hijab dan tiang. Emang kenapa?”

“Untunglah kamu nggak lihat, hehehe…” aku tertawa.

“Kenapa?”

“Dia ikhwan yang ta’aruf denganku dan kandas itu, hehehe…”

“Oh ya? Ah, sayang banget, padahal kan aku mau lihat gimana tampangnya, xixixi…” sahabatku tertawa bercanda.

Aku ikut tertawa dibuatnya. Salah satu kesepatanku dengan sang sahabat dan menurutku ini memang sebuah adab dalam sebuah proses ta’aruf adalah tidak memberikan informasi detail kepada sang sahabat dan kepada akhwat lainnya tentang siapa ikhwan yang sedang ta’aruf dengan kita. Kenapa? Agar tidak timbul perasaan bersalah atau perasaan tidak suka di awal ketika ternyata Allah menakdirkan si ikhwan akan ta’aruf dengan sahabat kita di masa depan. Informasi yang sahabat saya tahu hanya sebatas si ikhwan alumni universitas apa dan bagaimana kegiatan dakwahnya. Selebihnya ia tidak tahu bahkan inisial si ikhawan sekalipun ^^

***

Bicara tentang ta’aruf maka caranya ada banyak, tidak selalu harus melalui ustadz, namun yang pasti harus selalu ada wasilah di atara akhwat dan ikhwan yang akan melakukan proses tersebut. Wasilahnya bisa saudara, orang tua, teman yang sudah menikah, dan sebagainya, yang tentu saja terpercaya ^^

Dan soal ta’aruf, jika gagal jangan bersedih. Mari semangat untuk memulai ta’aruf yang baru😀

_Nurhudayanti Saleh_ (Kamar tercinta, 14/11/2016. Ketika berkali-kali belum berhasil, maka bersabar ^^)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s