Diposkan pada Akhlak dan Nasehat, Aqidah

Menjawab Pertanyaan Seputar 4 November 2016

4-nov-2016

Sebelum kami mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang hadir di kepala kami sendiri dari berbagai pendapat yang berselewaran di luar sana, kita harus menyamakan persepsi terlebih dahulu tentang Al-Qur’an dan tentang kewajiban kita sebagai seorang muslim.

A: Anda muslim?

B: Ya

A: Kitab suci Anda Al-Qur’an?

B: Ya.

A: Apakah Anda percaya bahwa Al-Qur’an adalah perkataan Allah?

B: Ya

A: Jika begitu apakah Al-Qur’an ada kesempatan untuk salah?

B: Tentu saja tidak! Allah tidak mungkin salah.

A: Apakah menurut Anda di dalam Al-Qur’an ada ayat yang saling bertentangan?

B: Tidak mungkin! Ayat yang satu dan yang lain tidak mungkin saling bertentangan. Sebaliknya, mereka saling menjelaskan, saling menguatkan.

A: Sebagai seorang muslim, jika di dalam Al-Qur’an ada sebuah perintah apa yang harus Anda lakukan?

B: Melaksanakan perintah tersebut.

A: Jika di dalamnya terdapat larangan?

B: Maka sebagai muslim saya tidak boleh melaksanakan larangan tersebut.

A: Menurut Anda siapakah yang paling mengetahui makna Al-Qur’an selain Allah?

B: Tentu saja Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam

A: Setelah beliau?

B: Tentu saja para sahabat, kemudian orang yang belajar kepada para sahabat, kemudian orang-orang yang mengambil ilmu dari mereka.

A: Apakah menurut Anda ada ayat dalam Al-uqur’an yang bisa Anda mengerti tanpa harus dijelaskan oleh para mereka yang berilmu?

B: Ya ada. Namun agar lebih berhati-hati saya tetap butuh ilmu tentang ayat tersebut.

A: Sudah baca terjemahan Al-Maidah ayat 51?

B: Sudah

A: Pendapat Anda?

B: Di dalamnya jelas ada larangan menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin.

A: Anda percaya?

B: Tentu, saya adalah seorang muslim

A: Jadi sikap Anda?

B: Seharusnya saya tidak memilih pemimpin dari golongan mereka (non muslim).

A: Jadi, jika ada seorang teman memberitahukan Anda untuk tidak memilih seorang pemimpin dari kalangan non muslim sebagaimana surat Al-Miadah ayat 51 tersebut adalah sebuah pembodohan? Apakah Anda merasa dibodohi atau dibohongi?

B: Tentu saja tidak. Itu bukan pembodohan melainkan mengajarkan sebuah ilmu dan membuka mata kita pada sebuah kebenaran. Sebaliknya, jika ada orang islam yang memberitahu kepada kita bahwa memilih non muslim itu tidak mengapa, maka inilah yang termasuk pembodohan.

A:  Jika di zaman ini, ada dua calon pemimpin yang satu muslim dan yang satu lagi non muslim, siapa yang Anda pilih?

B: Tentu saja yang muslim.

A: Meskipun yang non muslim lebih baik dari yang muslim?

B: Ya.

A: Alasannya?

B: Baik buruk di sini, yang menilai adalah manusia, sementara manusia terbatas dalam penilaian. Mereka hanya melihat apa yang nampak bahkan terkadang mereka hanya melihat apa yang ingin mereka lihat. Sementara Allah melihat dari segala keseluruhan, yang nampak maupun tak nampak. Ketika Allah sudah melarang sesuatu, tentu saja sesuatu itu mengandung mudharat yang besar. Sehingga saya sebagai umat Islam harus yakin itu dan mengikuti instruksi dari Allah. Saya percaya, ketika saya mematuhi perintah Allah, maka Allah akan menjaga saya dari kejelekan-kejelekan manusia yang lain. Ketika saya memilih pemimpin muslim, saya yakin Allah akan menjaga saya dari keburukannya karena setiap manusia tentu punya keburukan. Tetapi jika saya melanggar perintah-Nya, tetap memilih non muslim, meski ia baik, maka saya takut Allah tidak menjaga saya dari keburukan-keburukannya.

A: Masyaa Allah…

——————

Sekarang mari kita bahas tentang tanggal 4 November besok.

A: Menurut Anda apa itu toleransi?

B: Toleransi adalah saling menghormati antar umat beragama, bisa juga di dalamnya etnis, suku dll.

A: Apakah toleransi ada batasan?

B: Tentu. Jika tidak, maka bukan lagi toleransi.

A: Lalu apa batasannya?

B: Batasannya sederhana, yakni tidak memasuki wilayah aturan agama lain.

A: Sudah dengar tentang demo 4 november besok?

B: Sudah

A: Anda tahu apa pemicunya?

B: Tentu. Videonya sudah saya tonton.

A: Menurut Anda?

B: Menurut saya sebagai masyarakat biasa dan seorang muslim adalah Bapak Ahok sudah masuk pada area yang seharusnya tida ia masuki. Dia bukan seorang muslim, seharusnya ia tidak menukil ayat dari dalam Al-Qur’an dan memakainya sebagai alat dalam pidatonya bahkan sampai mengatakan masyarakat telah dibohongi atau dibodohi memakai surat Al-Maidah ayat 51. Hal ini sangat sensitif apalagi bagi umat Islam karena ini bagian dari syari’at. Sehingga memasuki syari’at atau aturan agama lain sudah jatuh pada melanggar batas toleransi yang diatur oleh undang-undang.

A: Apakah Anda sudah mendengar bahwa Pak Ahok sudah meminta maaf atas kesalahannya tersebut?

B: Sudah

A: Apakah masalah tidak bisa selesai hanya dengan meminta maaf?

B: Soal meminta maaf tentu umat Islam sudah memaafkan, namun karena hal ini yakni menistakan salah satu agama di Indonesia termasuk melanggar undang-undang, maka tetap harus diproses sampai tuntas. Ya, seperti kata-kata kebanyakan orang di luar sana; jika memang kata maaf bisa menyelesaikan semua masalah, maka untuk apa lagi ada undang-undang, ada hukum, dan ada penjara. Bukannya umat Islam tidak mau memaafkan, hanya saja kita harus mengingatkan kepada siapa saja bahwa negara kita adalah negara hukum, maka hukum harus ditegakkan. Jangan sampai, kasus ini dibiarkan dan akhirnya akan terulang di masa depan karena dianggap sepele. Biarkanlah kasus ini menjadi pelajaran bagi siapa saja.

A: Bukankah kasus Pak Ahok ini sudah diproses? Lalu mengapa masih saja turun massa untuk berdemo?

B: Alasannya karena proses hukumnya berlarut-larut sementara bukti-bukti dan saksi kuat sudah ada. Seharusnya yang bersalah sudah ditangkap namun kenyataannya belum. Demo besok hanya ingin menuntut agar prosesnya jangan jalan di tempat. Khawatir jika tidak dilanjut, umat Islam semakin merasa sakit hati dan kecewa atas hukum di negeri ini. Jika sudah begitu, jika masyarakat sudah tidak percaya lagi pada negaranya sendiri, maka bisa berbahaya sangat berbahaya.

A: Jadi apa solusi cepat untuk meredam hal-hal berbahaya tersebut?

B: Hanya ada satu solusi, menangkap tersalah. Maka selesai!

A: Di luar sana banyak juga umat Islam yang tidak setuju dengan demo besok, apa tanggapan Anda?

B: Tidak masalah. Setiap orang punya pemikirannya sendiri. Asalkan jangan saling mencaci, menghina saudara sendiri. Tentang halal-haramnya demo besok sudah ada banyak fatwa dari para ulama dan syeikh. Silakan dicari dari dua sisi, jangan hanya satu sisi saja. Salah satunya di sini.

A: Tapi di luar sana ada yang bilang, yang ikut berdemo hanyalah orang-orang bayaran, disponsori.

B: Silakan buktikan. Sponsor kami hanyalah Allah, tak ada yang lain. Hanya saja saya sedikit heran, giliran berita tentang demo bayaran yang tidak ada bukti mereka soroti setengah mati, tapi giliran berita kitab suci sendiri dinistakan, sudah ada bukti malah diam saja. Jangan-jangan yang bayaran? Ah, sudahlah….

A: Ada yang bilang aksi besok adalah bagian dari jihad membela kemuliaan Al-Qur’an, namun ada juga yang tidak ikut berdemo dengan dalih bahwa Al-Qur’an tidak perlu dibela karena dihina atau dinistakan oleh seluruh manusia sekalipun pasti tetap mulia dan Allah-lah yang akan menjaganya.

B: Terserah saja. Tapi satu hal yang kami garis bawahi, bahwa mereka sepakat Al-Qur’an telah dinistkan, dihina. Tinggal bagaimana sikap kita terhadap hal tersebut. Dan dari sikap itulah kita bisa mengukur seberapa cinta kita pada agama kita. Saran saya, jika tidak ikut berdemo, maka cukuplah doakan saudara kita yang turun langusng membela Al-Qur’an. Tolong jangan malah memfitnah sana sini.

A: Bagaimana jika hasil yang diharapkan di hari esok tidak tercapai? Apakah tidak sia-sia telah ikut berdemo?

B: semua hal dalam rangka membela agama, tentu tidak akan ada yang sia-sia. Di dalam Islam manusia memang tempatnya berusaha dan hasil semata-mata hak Allah. Jadi kami akan menyerahkan seutuhnya hasil di tangan Allah, Allah tahu yang terbaik untuk kita semua. Aksi demo kami hanyalah sebagai bukti kecintaan kami, keberpihakan kami kepada agama kami agar orang-orang tidak seenak hati menistakan agama Islam. Karena kami pun tidak pernah menistakan agama lain. Agar kelak ketika di akhirat Allah bertanya, di mana kami ketika agama ini dihina? Maka kami bisa menjawab dengan penuh tawadhu, kami ada di antara ratusan ribu atau jutaan orang yang berkumpul di tanggal 4 November 2016.

-Sekian-

Mohon maaf bagi yang kurang berkenan. Semoga kita semua dibukakan pintu hati agar bisa saling menerima dan saling belajar ^^

_Nurhudayanti Saleh_ (Negeri para pejuang, 03/11/2016. Ketika ruang dan waktu membatasi)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s