Akhlak dan Nasehat · Aqidah

Surat Untuk Muslim Jakarta

surat untuk muslim jakarta

Bismillah.

Segala puji hanya milik Allah Subhanu wata’ala yang telah memberikan segala sesuatu yang ada pada diri kita saat ini; fisik yang sehat dan lengkap, harta yang cukup, rumah yang nyaman, kendaraan yang bagus, keluarga yang bahagia, pasangan yang baik, teman yang setia, nafas yang belum terputus, mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, mulut untuk makan, tangan dan kaki untuk beraktifitas.

Lalu, sudahkah kita syukuri semua itu? Sudahkah kita benar-benar bersyukur? Bersykur bukan hanya dengan mengucap Alhamdulillah, tapi kesyukuran yang paling nyata adalah dengan taat hanya kepada Allah, mematuhi segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, bukan hanya sebagian tapi keseluruhan.

Shalawat dan salam tercurah kepada baginda Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, Nabi yang begitu kita kagumi, kita idolakan, kita cintai. Beliau adalah pribadi yang sangat sempurna, tidak ada cela pada diri beliau. Beliau adalah pemimpin yang paling adil, paling bijaksana karena beliau adalah seoarng muslim yang senantiasa mengikuti syari’at Allah Ta’ala.

Tak ada yang meragukan Rasululullah Shallallahu’alaihi wa sallam, bahkan orang non muslim sekalipun. Dalam sebuah survey, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam menduduki posisi pertama sebagai manusia yang paling berpengaruh di dunia. Beliau bersama sahabat dan pengikut setianya berhasil menyebarkan Islam dan menjadikannya sebagai pusat peradaban. Hari ini, Islam menjadi agama yang penganutnya paling banyak di dunia, Masyaa Allah.

***

Duhai saudaraku, tanpa sadar air mata ini menetes tak mau kompromi. Perasaanku sangat campur aduk antara marah dan juga iba tatkala engkau memilih dan membela dia daripada Allah, dia seseorang yang tak bersyahadat dan dia yang dengan sengaja telah menuduh para ulama kita berbohong dan membodohi sesama muslim menggunakan ayat dalam Al-Qur’an demi kepentingan pribadi. Naudzubillah…

Aku tak mengerti sama sekali. Bagaimana pun lelahnya aku berfikir, aku tak menemukan jawaban masuk akal atas tindakanmu. Aku berbicara padamu karena aku muslim dan kaupun juga begitu, seorang muslim. Mungkin kita perlu membahas hakikat seorang muslim lebih dulu sebelum kau bicara tentang politik yang penuh dengan intrik.

Aku hanya seorang muslim biasa yang meyakini satu hal bahwa kita dilahirkan di dunia bukan tanpa tujuan dan tujuan itu adalah beribadah kepada Allah, tunduk dan patuh atas perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Lebih dari itu, seperti di awal pembuka surat ini bahwa kita sebagai muslim sudah seharusnya bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan kepada kita dengan cara taat kepada-Nya.

Bukankah sederhana saja. Ketika ada seorang teman yang selalu berbagi dengan kita, maka kita secara naluria akan berterima kasih kepadanya. Tidak cukup sampai di situ, kita pun akan membalas dengan berbagi padanya jika kita memiliki sesuatu yang bisa dibagi atau jika tidak, maka kita akan mencukupkan diri dengan senatiasa berlaku baik padanya.

Lalu, bagaimana jika ada seseorang yang memberikan kita sebuah rumah yang selama ini kita idam-idamkan? Tentu kita tidak sekedar berterima kasih bukan? Kita akan senantiasa berlaku baik padanya, membantu keperluannya, bahkan tidak segan menjadi ‘pengikut’ setianya, selalu membelanya.

Nah, sampai di sini apakah kau mulai mengerti arah pembicaraan kita teman? Ya. Itulah maksudku. Tolong jangan pura-pura tidak tahu. Izinkan aku bertanya, siapa yang memberi kita mata? Telinga? Jantung? Otak? Tangan? Kaki? Rezki? Nafas? Jawabannya Allah. Apakah yang diberikan Allah sampai detik ini bisa diberikan oleh orang lain? Adakah yang lebih besar daripada pemberian Allah? Jawabannya tidak. Jangankan memberi mata, memberi nafas saja atau membuatnya sendiri kita tidak mampu. Coba saja. Tahan nafasmu dan buatlah nafas sendiri. Apakah engkau bisa? Tidak! Udara yang ada di sekitar kita adalah nikmat dari Allah, bukan buatanmu, buatanku ataupun buatan orang lain.

Sepakat. Sampai di sini kita tentu dan harusnya sepakat bahwa Allah adalah Zat yang memberikan segala apa yang kita miliki saat ini. Harus berapa kali aku ulangi agar kau memahami?! Karena itu sudah sangat wajar bahkan wajib jika kita taat kepada-Nya, mengikuti apa mau-Nya, membela syari’at-Nya, membela siapa saja yang membawa agama-Nya yakni Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam dan para pengemban dakwah setelah beliau, para ulama dan para ustadz.

Aku kecewa padamu. Benar-benar kecewa. Aku melihatmu, mendengarmu, membaca tulisanmu bahwa kau bangga, kagum padanya dan akan memilihnya menjadi pemimpin di daerahmu. Hai, bukankah telah banyak yang menasehati kita, mengajak kita kembali pada Al-Qur’an, tidakkah kita bisa merasakan betapa sayangnya mereka pada kita sampai-sampai tak bosan mengulang-ulang ayat ini untuk kita semua.

Allah berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka (Yahudi dan Nasrani). Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Q.s. Al-Maidah: 51)

Aku bukan ahli tafsir. Tapi jangan pernah menutup mata. Ayat ini bahkan tak perlu ditafisrkan oleh ahlinya hanya untuk mengerti apa maksudnya. Jelas. Telah jelas maksdud Allah dalam ayat ini agar kita TIDAK MENJADIKAN NON MUSLIM SEBAGAI PEMIMPIN. Jika ada yang tetap menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka di sisi Allah, yang memilih sama dengan yang dipilih yakni sama-sama kufur dan yang kufur tempatnya bukan di Surga.

Aku tidak sedang menakutimu teman, tapi bukankah kita memang sudah seharusnya lebih takut kepada Allah daripada takut pada yang lain termasuk pada penguasa yang berkuasa? Mungkin kau akan beralasan bahwa bukankah dia baik, dia jujur, dia tegas? Maka kutanyakan padamu, apakah di dalam ayat di atas Allah menjelaskan sebuah pengecualian? Adakah dalil yang membolehkan selama mereka baik, jujur, dan tegas? Tahukah kau mengapa tidak ada pengecualian? Karena Allah lebih tahu daripada kita yang mudah tertipu. Perhatikanlah firman Allah berikut:

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Q.s. Al-Baqarah: 120)

Inilah alasan mengapa tidak ada pengecualian. Karena Allah tahu bahwa sampai kapanpun  mereka tidak akan senang kepada Islam, kepada muslim. Apakah kau meragukan Allah? Jika kau ragu, berarti ada yang salah dengan keimananmu, karena iman artinya yakin teman.

Sudahkah kau berfikir lebih jauh apa jadinya jika kita dipimpim oleh mereka yang diam-diam menyimpan kebencian kepada kita? Tidakkah kau berfikir lebih jauh dan lebih cerdas?! Satu hal yang harus kau tahu teman, orang jujur, tegas, baik bukan hanya dia seorang. Banyak orang yang baik, jujur, tegas dan dia muslim. Maka pilihlah yang jelas-jelas saudaramu, seimanmu!

Ah, jangan katakan kalau aku tidak mengerti makna toleransi. Toleransi adalah ketika seorang muslim memilih pemimpin muslim dan yang non muslim menghargai pilihan itu. Toleransi adalah ketika non muslim memilih pemimpin dari non muslim, dan muslim menghargai pilihan itu. Seorang non muslim memilih non muslim sebagai pemimpin kau bilang wajar, lalu mengapa saat muslim memilih pemimpin muslim kau bilang tidak toleran? Bukankah kau yang bersikap tidak wajar? Dan ingatlah, seperti kata Pak JK bahwa toleransi itu bukan hanya kepada yang minoritas, kita yang mayoritas pun berhak mendapatkan sikap toleransi itu dari kaun minoritas. Toleransi itu dua arah, bukan satu arah Bung!

Duhai saudaraku harus berapa kali kujelaskan? Harus berapa kali lagi mata ini basah karena kasihan? Aku mencintaimu karena Allah, sungguh. Karena itu kutilaskan surat ini padamu. Aku tidak tahu lagi harus dengan apa agar bisa ikut andil dalam perang pemikiran ini yang tidak kau sadari sama sekali.

Saudaraku renungkanlah nasehat dari seorang Hasan Al-Bashri, sebuah nasehat yang sejak dulu terpatri dalam hati. Bahwa ingatlah satu hal, seseorang yang kita cintai, kita bela mati-matian di dunia, sampai kapanpun tidak akan pernah masuk ke liang lahat menemani kita ketika kita meninggal dunia. Kelak, ia tidak bisa menjadi pembela kita di hadapan Allah karena telah mengambil keputusan menentang syariat-Nya. Karena itu, takutlah hanya pada Allah, ikutilah perintah-Nya karena sesungguhnya Allah mampu menyelamatkanmu dari murkanya, tapi dia tidak mampu menyelamatkanmu dari murka Allah.

Kini. Pilihan ada di tanganmu saudaraku. Aku hanya menyampaikan keresahanku. Semoga hal ini akan menjadi hujjah bagiku di hadapan Allah ketika di akhirat kelak Dia bertanya apa yang aku lakukan ketika saudaraku akan memilih seseorang yang tidak bersyahadat, tidak menginami Allah, tidak beragama Islam.

Terakhir ketika ada kata-kataku yang tidak sengaja melukai hatimu aku memohon maaf setulus hati. Tak ada maksud untuk mengguruimu, ini murni bukti cintaku padamu karena Allah. Semoga Allah senantiasa memberikan hidayahnya kepada kita dan mengistiqamahkan kita di atas agama-Nya. Hanya kepada Allah lah kita akan kembali dan mempertanggungjawabkan semua yang telah kita lakukan di dunia.

Wallahua’lam.

_Nurhudayanti Saleh_ (Wotu, 25/10/2106. Ketika hati mulai resah di antara rintik hujan)

2 thoughts on “Surat Untuk Muslim Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s