Akhlak dan Nasehat · My Diary

Pengalaman Pertama Mengisi Halaqah Para Ummahat

warnacinta.jpg

Mengisi halaqah adik-adik mahasiswi ataupun yang masih duduk di bangku sekolah adalah sesuatu yang sudah menjadi kecintaan, sudah terbiasa. Penyampaian yang lugas, tidak bertele-tele, cepat, adalah ciri khas kami dalam menyampaikan materi karena mereka masih muda dan mudah mencerna setiap poin ilmu yang disampaikan.

Tapi, kemarin adalah pengalaman kami yang tidak terlupakan dan mungkin akan terus berulang. Dalam dua tahun terakhir sejak pertama kali mengisi sebuah halaqah, kemarin adalah halaqah ummahat alias emak-emak pertama yang harus kami pegang di kampung halaman. Padahal salah satu prinsip kami dulu adalah tidak mau memegang halaqah ummahat karena kami sendiri belum menjadi seorang ummahat, khawatir ada beberapa hal yang belum bisa kami mengerti, belum bisa kami jawab, dan faktor psikologi yang bisa saja belum bisa saling terhubung satu sama lain.

Tiba di lokasi halaqah yakni rumah salah satu ummahat, kami dibuat terkesan. Bukan karena dijamu layaknya sedang mengisi kajian, ada minuman dan makanan, tapi karena semangat mereka yang tak kalah dengan semangat anak muda di luar sana yang sering kami jumpai. Sembari menunggu kedatangan ummahat yang lain, ummahat yang sudah tiba saling mengobrol dan kami hanya bisa diam menyimak. Dalam hati, kami terus berdoa; Ya Allah lancarkanlah lisan kami dalam menyampaikan materi nanti ^^, sedikit deg-degan juga rupanya😀

Samar-samar kami mendengar obrolan mereka. Masyaa Allah, obrolan mereka seputar halaqah dan tujuan mereka datang berkumpul bersama, yakni menuntut ilmu dan menjalin silaturahmi. Bagi kami tidak mengherankan jika yang bersemangat datang halaqah adalah para pemuda di luar sana. Mereka para pemuda belum memiliki tanggung jawab yang besar seperti mengurus keperluan rumah tangga, mengurus suami, dan mengurus anak-anak. Apalagi bagi mereka yang tinggal di perantauan, mereka harusnya lebih ringan lagi langkahnya datang ke halaqah.

Tapi ini adalah para ummahat yang memiliki tanggung jawab di rumah. Kami terkesima karena meski seorang ummahat tapi semangat belajarnya tidak kalah dari para pemuda. Meski sudah ummahat tapi masih mau belajar ilmu agama, sesuatu yang tidak semua orang tua mau melakukannya apalagi bagi mereka yang memilki ego tinggi, meresa sudah benar dan sudah cukup memiliki ilmu.

Halaqah tarbiyah pun kami mulai. Kami mencoba menyesuaikan diri. Penyampaian agak diperlambat, suara agak dikeraskan, dan lebih sabar dalam segala hal. Sabar ketika ummahat menyela di tengah-tengah penjelasan dengan pertanyaan-pertanyaan tak terduga, sabar ketika tidak dipedulikan di awal karena para ummahat sibuk mempersiapkan senjata mereka berupa kaca mata dan hape senter untuk melihat ayat-ayat dalam Al-Qur’an, Masyaa Allah ^^

Di halaqah kemarin ada pemandangan yang sedikit berbeda, salah satu ummahat datang membawa meja kecil dari palastik dan dibagikan pada semua yang hadir agar mereka tidak perlu merasa sakit punggung karena terlalu menunduk lama. Ah, betapa cintanya mereka dengan halaqah sehingga mereka berusaha membuat suasana senyaman mungkin agar mereka terus bertahan hingga akhir halaqah dan akhir usia.

Masyaa Allah, bukankah kita yang mudah harusnya mencontoh semangat mereka, para ummahat. Jika mereka saja yang usianya lebih tua, tenaganya tak sebesar kita, egonya lebih tinggi, tanggungjawabnya dan pekerjaannya lebih banyak di rumah, masalah pun tak sedikit masih semangat datang halaqah, datang tarbiyah, mengapa kita yang masih muda, tenaga masih lebih banyak, ego masih belum seberapa, tanggungjawab dan pekerjaan lebih ringan, masalah masih sedikit masih saja malas datang halaqah, masih punya banyak alasan tidak datang tarbiyah, seolah-olah kitalah orang tersibuk di dunia, Subhanallah -,-

***

Note:

Di akhir mengisi halaqah terjadilah percakapan…,

Ummahat 1: Umurnya berapa ukhty?

Ana: 28 tahun

Ummahat 2: Wah kayaknya cocok nih dijodohin sama si itu

Ummahat 3: Hehehe silakan diurus um, kami setuju-setuju saja antum yang ngurus.

Ana: Waduh bahaya ini, hehehe😀

Ummahat 1: Ah, coba muda sedikit saya nggak usah repot-repot cari calon mantu. Sayangnya anak saya maunya yang lebih muda. Dia selalu bilang; umi boleh nyariin calon isteri tapi saya nggak mau yang lebih tua.

Ummahat 4: Hehehe, bilangin aja um, menikahi yang lebih tua itu sunnah Rasul, hehehe…

Ummahat 1: Iya saya juga bilang, nggak papa lebih tua yang penting wajahnya terlihat muda.

Semua ummahat tertawa dan saya hanya bisa nyegir, bingung harus menanggapi seperti apa. Duh, ibu-ibu tolong jangan begini, saya kan jadi (nggak) enak* eh😀

_Nurhudayanti Saleh_ (Wotu, 24/10/2016. Merindukan umi yang masih di luar kota T_T)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s