Akhlak dan Nasehat

Surat Untuk Kawan Lama

Surat untuk kawan lama

Kawan, ingatkah ketika kita masih sama-sama lugu. Belum mengerti arti hidup yang sesungguhnya. Kita sibuk mengejar cita-cita dunia. Sama-sama berjuang sekuat tenaga agar sampai ke sana. Kita kerahkan seluruh tenaga dan waktu untuk belajar, sampai-sampai kita tidak tertarik dan tidak mau terlibat di luar urusan akademik kita, termasuk enggan belajar agama. Kita merasa cukup dengan bekal pelajaran agama selama di SD, SMP, SMA, dan 2 sks di awal semester kuliah. Kita merasa cukup dengan ibadah kita. Kita merasa benar dengan semua yang kita amalkan. Ya, kita masih sangat lugu kala itu.

Kawan, lalu waktu berjalan maju. Kita mulai terusik dengan senior-senior dan kawan-kawan kita yang penampilannya agak berbeda. Mereka berjenggot dan bercelana cingkrang. Mereka berjilbab melewati lutut dan bahkan ada yang bercadar. Kita mulai tertarik karena mereka begitu santun. Selalu memberi salam tatkala kita bertemu dengannya. Kita pun mulai tergoda untuk mengetahui lebih jauh, mengetahui kebiasaan mereka yang lain dari yang lain, shalat tepat waktu di masjid kampus, rajin shalat dhuha, rajin puasa sunnah, menjaga pandangan, dan selalu ada kegiatan di akhir minggu yang mereka sebut Tarbiyah.

Kawan, dan ternyata kita pun akhirnya seperti mereka. Kita mulai hijrah sedikit demi sedikit. Lewat tarbiyah kita belajar arti hidup yang sesungguhnya. Di awal kita khawatir akan penilaian kawan-kawan di kampus. Tapi kita berusaha untuk tetap maju apapun yang terjadi. Kita saling menyemangati agar tetap istiqamah. Kita saling menasehati agar kuat. Kita saling berdiskusi ini dan itu. Dan akhirnya penampilan kita pun berubah dan punya tambahan kegiatan baru di akhir pekan, yakni Tarbiyah.

Kawan, kita semakin bersemangat. Waktu itu kita sadar bahwa tujuan hidup manusia bukanlah mengejar dunia, tapi Surga Allah Ta’ala. Kini cita-cita bukan lagi tujuan tapi wasilah menggapai ridha Allah. Apapun cita-cita kita dan apapun kita kelak, bahwa kita haruslah menjadi manusia yang terbaik, yakni yang bermanfaat untuk orang lain dan yang menjadikan profesinya sebagai ladang dakwah. Kita aktif di lembaga dakwah kampus. Mengemban amanat yang tidak ringan. Kita mengajak kawan-kawan sekelas bahkan sekampus untuk mau menuntut ilmu agama, satu-satunya ilmu yang akan membawa penuntutnya ke Jannah Allah. Dan kita tetap giat belajar demi cita-cita.

Kawan, lalu kita pun berpisah. Sudah 6 tahun bukan? 6 tahun bukan waktu yang sebentar. Dalam waktu itu ada yang berubah. Kini aku melihatmu tidak seperti terakhir kali kita bertemu. Girah dakwahmu tidak terlihat lagi. Kau juga tidak nyunnah lagi, celana yang dulu di atas mata kaki kini panjang lagi. Jilbab yang dulu panjang kini pendek dengan berbagai model masa kini. Duhai kawan ada apa gerangan? Maukah kau bercerita kepadaku? Aku tentu akan mendengar.

Kawan, mungkin kau melihat aku tidak pernah berubah selama 6 tahun itu, sehingga kau bilang aku tak tahu rasanya menjadi dirimu. Kau salah kawan. Aku pun dulu ada di posisi itu. Jauh dari nyunnah. Aku dulu pernah terjatuh, jilbabku pernah sekali waktu kulepas diganti kerudung sebatas dada saja. Aku juga pernah meninggalkan tarbiyah selama berbulan-bulan lamanya. Aku pernah membuat saahabatku terluka karena perubahanku, tapi tahukah kawan? Rasanya benar-benar tidak bahagia. Betul kan? Coba tanyakan pada hatimu? Sungguh dia ingin kembali.

Kawan, semua itu terjadi karena dulu aku jauh dari kawan-kawan shalih, karena aku tidak tarbiyah lagi. Namun, hijrah itu memang harus kita lakukan bukan? Bukan hanya sekali dalam hidup, tapi boleh jadi berkali-kali seperti yang aku alami. Seseorang tidak akan pernah berubah jika ia tidak berusaha untuk mengubah dirinya sendiri. Itulah prinsip yang aku yakini dan kau pun tahu itu. Kawan maukah kau kembali sepertiku? Tak usah malu karena tidak akan ada yang menertawakanmu. Aku telah membuktikannya. Kawan-kawan yang shalih akan menyambutmu dengan suka cita. Kuncinya satu, mulailah berkomunikasi dengan mereka lagi, temui mereka agar mereka menggandeng tanganmu kembali dan kau menggandeng tangan mereka lagi.

Kawan, kembalilah. Masih ada waktu, syukurilah segera. Kembalilah seperti dulu ketika kita masih sama-sama berjuang meski kini kita tak lagi bersama. Tak perlu cemas, ketika kita berada di jalan yang sama, di atas Al-qur’an dan Sunnah di bagian Bumi manapun kita saat ini, in syaa Allah kita akan berjumpa kembali di Jannah Allah.

Kawan, kembalilah. Tak usah sungkan apalagi malu. Aku tahu, di dalam hatimu masih ada kerinduan tentang kita yang dulu ^^

_Nurhudayanti Saleh_ (Kamar Tercinta, 23/08/2016. Ketika terkenang masa lalu dan kamu)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s