Akhlak dan Nasehat

Modal Helm dan Kawan-Kawan Baik

kawan yang baik

Menyampaikan ilmu agama yang sudah kita pahami kepada orang lain adalah sebuah kegiatan yang menyenangkan untuk kami. Dakwah, begitu kami biasa menyebutnya. Macam-macam cara berdakwah sangatlah banyak, ada yang berdakwah kepada orang lain dengan cara menyampaikannya secara langsung seperti mengisi halaqah, kajian, khutbah, tablik akbar, seminar, dan lain sebagainya. Ada juga yang tidak langsung, seperti lewat tulisan, foto, video, audio, dan lain-lain.

Selain memiliki ilmu yang sudah dikuasai, seseorang yang ingin berdakwah secara langsung, menemui orang yang ingin diberi ilmu, pun harus memiliki prasarana berupa alat transportasi. Jika tak memiliki alat transportasi pribadi maka solusinya adalah menggunakan transportasi umum, namun solusi yang satu ini tidak berlaku jika kita berada pada sebuah daerah yang transportasi umumnya sangat jarang dan tidak banyak jalur pilihan. Dan salah satu kota yang demikian adalah Jogja😀

3 tahun di Jogja sama dengan 3 tahun berdakwah. Namun 3 tahun itu pula saya tidak punya tarnsportasi pribadi selain si ungu yang hanya bisa berjalan jika dikayuh. Lalu bagaimana dakwah bisa tetap berjalan? Jawabannya adalah modal helm dan kawan-kawan yang baik ^^

Ya, selama di Jogja saya dan sahabat saya hanya punya modal helm dan kawan-kawan yang baik. Kawan-kawan inilah yang masyaa Allah selalu siap sedia mengantar kami kesana-kemari, dari satu masjid ke masjid yang lain, dari kampus satu ke kampus yang lain. Hujan deras dan terik matahari tak jadi halangan berarti. Bahkan jatuh bangun sudah kami alami. Jauh dekat pun tak peduli.

Kawan-kawan yang baik yang tak kenal pamri. Jika yang satu tak bisa, maka yang lain akan mengganti. Begitu terus hingga 3 tahun di Jogja terasa istimewa di hati. Terkadang bukan kami yang meminta namun mereka yang lebih dulu menawari; Mbak ke Maskam bareng siapa? Mbak pulang bareng siapa? Inilah kalimat yang luar biasa bahwa Allah menolong sekali lagi.

Duhai para pejuang dakwah. Jangan menyerah hanya karena tak punya uang, tak punya kendaraan. Memiliki keduanya memang penting namun jika sudah berusaha lalu Allah belum memberi sesuai apa yang kita minta, maka yakinlah saat itu Allah memberi jalan keluar yang lain yakni kawan-kawan yang baik, yang in syaa Allah siap menemani di jalan dakwah ini baik suka maupun duka.

Dan terakhir, teruntuk kawan-kawan baik yang tak pernah mengeluh meski terus kami ganggu, yang selalu kami pandangi punggungnya sepanjang jalan dakwah ini, yang membawa kami bersamanya di atas kendaraannya, yang shalihah insyaa Allah, kami berdoa semoga setiap tetes bensin yang mengalir, setiap asap yang keluar, setiap keringat yang jatuh, setiap titik hujan yang mengenai tubuh, setiap terik yang menyengat, setiap waktu yang lewat dibalas kebaikan yang banyak dan pahala yang besar. Semoga menjadi salah satu jalan mulus menuju Surga Allah Ta’ala. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Teruslah berdakwah dan jangan pernah menyerah ^^

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa…” (Q.S. Al-Maidah[5]: 2)

_Nurhudayanti Saleh_ (Kamar Tercinta, 14/08/2016. Ketika dakwah tak kenal kata berhenti)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s