Akhlak dan Nasehat · My Diary · Tips

Behind The Scene Walimah Adik Nung

walimah

Bismilllah.

Alhamdulillah Allah masih memberikan sehat untuk menuliskan catatan ini setelah melewati hari penuh penat, lelah, dan tentu saja bahagia. Sejak hari senin tanggal 11 Juli sampai tanggal 15 Juli kemarin rumah sangat ramai dikunjungi keluarga dan tetangga dalam rangka membantu melancarkan walimah adik saya, Nur a.k.a. Isti, maklum di kampung belum ada catering (sependek yang saya tahu) jadi masakan hari H masih dikerjakan keroyokan😀

Tapi, bukan itu, bukan tentang betapa ramenya dapur ketika emak-emak bertemu dan memasak sambil cerita keramik dapur mama yang katanya terlalu bersih, cerita tentang saya dan kak Cucun yang dilangkahi menikah, cerita tentang kebiasaan Bapak yang suka pakai sarung, cerita si A yang datang terlambat membantu, atau cerita si B yang nggak datang sama sekali. Bukan, bukan itu inti catatan saya kali ini.

Kesempatan kali ini akan saya pakai untuk bercerita dan berbagi tips agar pernikahan yang sesuai syari’at bisa terlaksana dengan sukses. Di luar sana banyak sekali akhwat dan ikhwan yang tentu saja sangat menginginkan pernikahannya kelak adalah pernikahan yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam yang sering disebut dengan istilah walimah; undangan laki-laki dan wanita dipisah, begitu juga dengan pengantinnya, tanpa musik, dan tanpa tradisi/budaya yang tidak sesuai dengan syari’at.

Kunci utama adalah keluarga. Ketika keluarga sudah oke, maka segala sesuatu in syaa Allah berjalan lancar apapun kata yang lain.

Sehingga dakwah dalam keluarga adalah poin utama yang harus digencarakan dari sekarang juga. Sampaikan kepada keluarga kalian tentang konsep pernikahan yang kalian dambakan sejak kalian sudah tahu tentang ilmu tersebut, bukan menyampaikan ketika tiga bulan, satu bulan, apalagi seminggu sebelum menikah sementara keluarga kalian belum mengenal sunnah, tentu hasilnya kemungkinan besar adalah ditolak.

Ketika saya tahu tentang konsep pernikahan yang syar’i, maka sejak saat itu pula saya mulai menyampaikan kepada Mama meski saya belum tahu pasti kapan saya akan menikah kala itu (sampai sekarang pun belum menikah :D). Di awal tentu orang tua pasti akan protes tapi tak apa karena hal tersebut bagian dari proses. Bukankah kita hanya diwajibkan untuk berusaha, tentang hasil serahkan pada Allah. Dan tentu saja jangan lupa banyak-banyak berdoa agar keluarga kita diberikan hidayah oleh-Nya.

Nah, satu hal yang patut saya syukuri dalam hidup ini adalah keluarga. Bapak yang merupakan kepala keluarga, yang mengambil keputusan, sejak awal sudah setuju dengan konsep walimah yang dipisah (menggunakan hijab) karena Bapak pada dasarnya sudah punya bekal ilmu agama yang baik sejak ia muda sehingga saya hanya harus ‘membujuk’ mama dalam perkara yang satu ini.

Sementara saudara saya adalah orang-orang terbaik yang dihadiahkan oleh Allah Ta’ala. Meski kami tidak selalu sama dalam memandang sesuatu, tapi kami tidak pernah saling ‘menyenggol’, sebaliknya kami saling mendukung. Dukungan saudara adalah yang terhebat, yang menambah kekuatan dan kepercayaan di antara kami. Karena itu, untuk saudara-saudaraku tercinta; I love you full ^^

Lalu bagaimana cara mengambil hati keluarga agar mendukung kita sepenuhnya? Jawabannya sederhana, yakni dengan akhlak yang baik, yang mulia, yang santun, yang ramah, dengan proses yang tidak sebentar, dengan sabar, dan doa kepada Allah.

Mungkin ada yang bertanya-tanya; lalu bagaiman dengan tentangga? Tentu ada saja hal yang bersinggungan dengan tetangga bukan? Maka saya jawab dengan sebuah kisah yang terjadi di malam hari H adik Nung.

Di daerah kami, malam sebelum hari H biasa dimeriahkan dengan acara dangdutan; panggung pelaminan berubah menjadi panggung biduan yang berjoget-joget tidak senonoh. Atau kalau keluraganya hanif, maka malam hari H biasa dipakai untuk mengaji, menamatkan Al-Qur’an dalam semalam.

Nah, kebetulan kami tidak melaksanakan acara apapun di malam hari H. Yang kami laksanakan benar-benar hanya persiapan untuk esok hari. Tapi tetangga kami dengan baik hati berinisiatif untuk meramaikan malam hari H dengan bermain catur sambil karokean di bawah tenda pelaminan. Mendengar hal tersebut, maka timbullah kecemasan di dalam hati.

Dengan segenap keberanian kami bertanya pada seorang tetangga yang akan bersiap memeriahkan malam itu,

“Kak, itu pada mau ngapain ya?” Tanyaku seramah mungkin.

“Em, itu…, mungkin kalau kita putar lagu-lagu nggak papa ya?” Katanya ragu. Ia sebenarnya mengerti maksud pertanyaan kami.

“Em, main catur aja nggak papa Kak. Tapi kalau lagu-lagu, mungkin nggak usah kak.”

“Oh gitu ya…”

“Iya Kak. Maaf banget…”

“Nggak apa-apa. Nanti saya sampaikan.”

Tidak lama, saya melihat ia menyingkirkan persiapan karoke mereka, memasukkannya kembali ke dalam rumah tetangga. Dan ketika sudah beberapa lama, kami mendengar mereka memutar lagu Maher Zain ‘Barakallah’ di salah satu rumah tetangga😀

Nah, berdakwah pada tetangga dan orang lain pada umumnya, yang masih awam, maka di awal-awal kita akan banyak menggunakan istilah ‘Paling Tidak’. Ya, paling tidak mereka tidak karokean, tentang bermain catur akan kita sampaikan sedekit demi sedikit. Paling tidak mereka mau membatalkan acara karoke mereka di bawah tenda pelaminan meski akhirnya memutar lagu Maher Zain dari rumah mereka dengan volume besar.

Kita tidak bisa saklek melarang semua hal dalam satu waktu. Kita tidak boleh kaku. Itu bukan dakwah yang baik tentu. Kita harus percaya bahwa semua butuh proses termasuk dakwah dan perubahan. Berusahalah untuk mendakwahkan yang paling penting terlebih dahulu. Jika bertemu antara yang haram dan yang makruh, maka dakwahkan dulu yang haram jangan langsung keduanya karena mendakwahi orang awam dengan orang yang sudah paham itu berbeda. Sudah siap berdakwah? ^^

Lalu ketika hari H tiba, semua sunnah berusaha dilaksanakan dengan baik. Setelah akad nikah, mempelai pria masuk ke dalam kamar menemui mempelai wanita kemudian memegang ubun-ubunnya dan mendoakannya, memasangkan cincin nikah. Setelah itu, keduanya keluar untuk menandatangani berkas nikah. Lalu sungkem kepada orang tua (ini bagian yang bikin mewek). Dan di akhir, sebelum menuju pelaminan, kedua mempelai menyempatkan shalat sunnah dua rakaat diiringi bisikan para tamu yang belum tahu sunnah tersebut.

Kemudian keduanya keluar menuju pelaminan dan duduk terpisah, dipisahkan oleh hijab yang terbentang panjang memisahkan apa yang harus dipisah. Tak lupa ada khutbah nikah dan nasyid yang mengiringi jalannya resepsi hingga selesai.

Alhamdulillah, pujian yang banyak kami tujukan hanya kepada Allah karena telah melancarkan acara walimah adik Nung. Semoga Allah tetap menjaga kami dan kita semua di atas sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. Dan sampai jumpa di walimahan saya yang entah kapan *eh😀

NB:

Terimakasih kepada seluruh keluarga, teman, sahabat, tetangga, bapak, ibu, kakak, adik, om, tante yang telah membantu melancarkan acara walimah adik Nung dan turut mendoakan kedua mempelai. Semoga segala kerja keras dan doa dibalas pahala yang banyak oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

_Nurhudayanti Saleh_ (Wotu, 17/07/2016. Ketika pengantin baru telah pergi menuju hidup baru ^^)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s