Akhlak dan Nasehat · Cerpen · My Diary

Cinta Masa Lalu

cinta masa lalu

“Sebenarnya dia bukan sekedar keluarga. Dia adalah cinta di masa lalu…” Katanya bersandar di dekat pintu.

Aku menatapnya lurus-lurus. Lelaki yang tengah berdiri di hadapanku kini tak muda lagi. Rambutnya telah memutih sejak beberapa tahun lalu. Perutnya buncit, tak serata dulu. Lengannya besar namun tak kekar lagi. Dan ia, tak lagi sesehat dulu. Ia sakit sejak 28 tahun lalu.

Tentu. Setiap orang punya cinta di masa lalu; cinta dalam diam, cinta bertepuk sebelah tangan, cinta yang bersambut. Aku pun punya, cinta sejati.

“Aku dan dia dulu cukup lama menjalin kasih…”

Lanjutnya sembari tersenyum mengenang masa mudanya. Masa-masa indah bersama wanita yang baru saja meninggalkan kediaman kami. Wanita yang kukenal bernama Syila, wanita yang kukenal sebagai kerabatnya yang ternyata sekaligus cinta masa lalunya, sebuah kenyataan yang baru saja kuketahui.

Syila, dia wanita yang cantik. Jejak kecantikannya masih jelas terlihat meski kini keriput berebut menghias wajahnya. Kemarin ia dan keluarganya datang atas undangan kami. Ia datang bersama anak-anak dan cucunya. Suaminya, Hasan, beberapa tahun lalu telah meninggal dunia.

“Bukan jodoh ya….” Balasku tersenyum menatapnya yang masih terlihat asyik mengenang masa lalunya bersama Syila.

“Ya. Waktu itu ia pergi ke sebuah daerah. Ia bilang, ia akan segera kembali. Tapi tidak. Di sana ia bertemu Hasan.”

Aku mengangguk kecil mendengar ceritanya. Aku lagi-lagi tersenyum. Keriput di wajahku ikut tertarik satu sama lain. Benar-benar sebuah kisah cinta yang sekalipun belum pernah kudengar darinya, dari lelaki yang telah kudampingi selama berpuluh tahun lamanya.

Cemburu? Tentu. Bukankah itu tanda cinta? Tapi cemburu bukan berarti harus marah. Tak perlu pula aku meminta ia untuk mengungkapkan kata cinta sebagai bukti karena cinta tak melulu harus lewat kata. Mungkin Syila adalah cinta masa lalunya, tapi aku adalah cinta di masa depannya, akulah wanita yang telah melahirkan ketujuh anaknya yang kini telah dewasa, dan akulah cinta yang Allah pilihkan untuknya.

Lalu siapakah cinta masa laluku? Mungkin ada yang bertanya-tanya, maka kujawab dengan seulas senyum; cinta masa laluku adalah cinta masa depanku. Ya, dia. Lelaki yang baru saja menceritakan cinta masa lalunya.

***

Saya masih saja terkesima dengan kalimat; Cinta itu melepaskan. Ya, melepaskan. Melepaskan orang yang kita cintai, apakah ia ingin pergi atau tetap tinggal. Melepaskan akan menenangkan. Melepaskan akan membuka jalan pada cinta yang telah Allah tetapkan ^^

_Nurhudayanti Saleh_ (Kamar penuh cinta, 09/07/2016)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s