Akhlak dan Nasehat · Cerpen

Duhai Wanita

duhai wanita

“Saya ini kan single parents bu, jadi yang kolom ini di kosongin aja?” Tanyanya menunjuk kolom bertuliskan ‘Ayah Kandung’.

“Tetap di isi bu. Silahkan dituliskan nama ayah kandungnya.” Jawab kami sembari tersenyum. Kami sangka, kami telah benar-benar paham maksud wanita berkerudung hitam itu, bahwa ia bercerai dari suaminya. Tapi kami salah.

“Em, saya sudah menjadi single parents sejak anak saya lahir bu. Maksud saya, em anak saya lahir tanpa bapaknya. Saya belum pernah menikah…” Jelasnya lambat-lambat.

Dug! Kami sekarang mengerti. Ya, mengerti dengan jelas dan tak perlu memperjelas lagi. Semua yang membaca seharusnya sudah paham bukan? Wanita yang tengah duduk di hadapan kami usianya 24 tahun. Ia telah memiliki seorang anak yang berusia 5 tahun. Jadi, di usia 19 tahunlah ia tahu bahwa ia tidak lagi benar-benar sendiri. Ada sebuah benih yang tidur nyeyak di dalam perutnya.

Sungguh ironi. Tentu wanita manapun tak menginginkan hal seperti itu. Mengandung, melahirkan, dan membesarkan anak seorang diri. Tak perlu menyudutkan kesalahannya di masa lalu. Kita tidak pernah tahu betul apa yang terjadi. Kita tidak pernah tahu siapa dia saat ini. Bisa jadi saat ini ia telah bertaubat dan jauh lebih baik dari kita, manusia-manusia yang gemar mencungkil, memperbincangkan, menyebarkan kekurangan orang lain.

Hanya, mari ambil pelajaran berharga dari kisahnya, bahwa seorang wanita tetaplah wanita, makhluk yang rapuh dan lemah. Karenanya wanita harusnya dilindungi bukan dikelabui. Wanita lemah atas perkataan dan perhatian manis seorang pria. Wanita rapuh atas pernyataan cinta seorang pria kepadanya sehingga ketika ia tidak memiliki pegangan yang kuat maka mudah baginya untuk luluh.

Duhai wanita. Kami pun adalah wanita, sangat mengerti perasaanmu dan mengenali kelemahan terbesarmu. Karena itu temukanlah pegangan kuat itu sebagai tameng pelindungmu. Ialah ilmu agama, ialah dekat dengan Allah. Itulah tameng terhebat dan terkuat. Dengan ilmu agama, kelemahanmu bisa kau atasi. Kau mampu menjadi wanita tangguh dan bertanggungjawab atas dirimu, yakni senantiasa memelihara mahkotamu.

Duhai wanita. Di luar sana ada banyak jenis pria. Namun hanya satu yang bisa benar-benar kau andalakan, seorang pria yang bertanggungjawab atas cintanya. Yang ketika ia mencintai seorang wanita, maka ia akan berusaha untuk menikahi bukan memacari apalagi menghamili! Maka jauhilah pria-pria pemberi perhatian semu, yaitu yang gemar mengumbar kata-kata mesra dan janji-janji manis padahal ia belum menjadikanmu halal untuknya. Ketahuilah, selalu ada ‘udang’ di balik perhatian mereka, entah itu udang besar seperti lobster ataupun udang-udang kecil seperti ebi.

Wallahua’lam.

_Nurhudayanti Saleh_ (Jogja, 17/05/2016. Bersiap menuju hari ‘H’)

2 thoughts on “Duhai Wanita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s