Diposkan pada Aqidah, Sirah, Sosok

The Number One

Muhammad

Keimanan ibarat pondasi pada sebuah bangunan. Ketika pondasi itu kuat dan kokoh, maka apa-apa yang ada di atasnya pun ikut kuat dan kokoh, yakni tiang-tiang yang menjulang tinggi dan batu bata yang tersusun rapi. Dengan pondasi yang kuat, sebuah bangunan tidak mudah rubuh meski terjadi gempa yang mengguncang hebat.

Begitu pula keimanan yang menjadi pondasi dari keislaman seseorang. Ketika keimanan, keyakinan, rasa percaya kita kepada Allah begitu besar, tertancap kuat mengakar hingga ke tulang-tulang kita, maka apapun yang berada di atasnya juga akan ikut kuat tak tergoyahkan, yakni ibadah hanya kepada Allah, melaksanakan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya.

Jika keimanan kita baik, maka baiklah keislaman kita. Kita akan menjadi orang yang selalu percaya atas segala syari’at dan takdir yang diberikan oleh Allah, baik itu yang kita senangi maupun yang tidak kita senangi. Semua yang diwajibkan oleh Allah dan apa yang diberikan oleh-Nya kita anggap sebagai hal terbaik, terindah, terpantas dari sekian banyak kemungkinan dan pilihan, sehingga tak ada istilah penolakan, enggan, sedih berkepanjangan ataupun kecewa melahirkan keluhan tanpa akhir.

Dan bicara tentang keimanan, seseorang yang memilikinya dengan sempurna, yang menancapkannya bukan hanya di tiap tulang tapi sampai ke setiap sel dalam tubuhnya, setiap butiran keringatnya, yang yakin akan pertolongan Allah tatkala terdesak, yakin akan rezki Allah tatkala tak memiliki apa-apa, yang menjadi pemenang di antara pemenang, the number one of human, tentu saja Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Tak ada yang meragukan keimanan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dialah pemilik keimanan tertinggi di antara seluruh manusia. Ujian demi ujian telah ia lewati dengan sempurna tanpa mengeluh apalagi menuduh Allah tak sayang, tak adil, dan lain sebagainya. Dan di sinilah saya akan menceritakan salah satu peristiwa yang menguji keimanan beliau dan beliau tentu lulus dengan nilai sempurna, mumtaz.

Kala itu peristiwa hijrah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabatnya yang setia Abu Bakar r.a. terdesak oleh kejaran para tentara Kafir Quraisy. Mereka berdua bersembunyi di dalam Gua Tsur yang terletak di kaki sebuah gunung yang memiliki nama sama dengan nama gua itu.

Siapapun akan ketakutan ketika nyawa menjadi taruhan, tak terkecuali sahabat terbaik Abu Bakar r.a. seseorang yang keimanannya amat besar kepada Allah, berada pada urutan kedua setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia gemetar di samping Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala para tentara kaum Kuffar sudah berada di depan mulut gua.

Tentu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mengetahui hal tersebut. Ia tidak kecewa karena ia mengerti bahwa rasa takut adalah sifat yang amat manusiawi apalagi di keadaan yang genting seperti saat itu, yang jelas-jelas kekuatan mereka tidak sebanding jika harus terpaksa berhadap-hadapan. Mereka hanya berdua sementara di luar sana tentara Kafir Quraisy begitu banyak jumlahnya dengan persenjataan yang lengkap. Siap membunuh siapa saja. Dengan pelan dan gugup Abu Bakar r.a. berkata pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

Ya Rasulullah, sekiranya salah seorang di antara mereka (tentara kaun kuffar) menoleh dan menunduk sedikit saja, maka niscaya mereka pasti akan menemukan kita.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tersenyum untuk menenangkan perasaan takut sahabatnya. Beliau pun berkata dengan penuh ketenangan, sebuah kalimat yang mampu meneguhkan kembali keimanan Abu Bakar, kembali menyemangatinya dan menumbuhkan keberaniannya yang sempat memudar.

Wahai Abu Bakar sahabataku, siapakah yang bisa mengalahkan dua orang hamba dan yang ketiganya adalah Allah?

Masyaa Allah.

Kalimat yang tidak panjang namun begitu menyetak jiwa siapapun yang mendengarnya. Sebuah kalimat yang kembali mengokohkan keimanan yang sempat goyah. Menegapkan kembali langkah yang sempat terseok karena putus asa. Begitupun Abu Bakar tatkala mendengar kalimat yang langsung diucapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sang kekasih Allah.

***

Sampai di sini, mampukah kita mengukur seberapa besar keimanan yang dimiliki oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam? Sungguh sampai kapanpun tak akan ada seorang pun manusia yang akan menyamai keimanan beliau. Sungguh dialah pemilik keimanan yang paling sempurna tanpa cela.

Duhai jiwa yang amat lemah namun merindu surga. Ketahuilah bahwa Surga amatlah mahal harganya. Ia hanya dapaat ditebus oleh jiwa-jiwa yang keimanannya kuat. Memang kita tak mampu menyamai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, namun bukan berarti kita sudah tidak memiliki kesempatan untuk bersamanya di Surga kelak.

Cukuplah kita terus berusaha untuk menanamkan keimanan ini di dalam hati. Berusaha untuk terus menjaganya agar tak layu apalagi mati. Cukuplah kita pelihara ia dengan memberinya pupuk-pupuk kebaikan dan amal shalih. Dan cukuplah kita mencoba untuk selalu yakin kepada Allah dalam setiap situasi. Ketika ada ujian yang datang, yang membutuhkan pengorbananmu sebagai seorang muslim; pengorbanan waktu, tenaga, materi, dan juga nyawa, maka cukuplah kita mengatakan; Apalagi yang aku takutkan? Ketika Allah selalu bersamaku.

_Nurhudayanti Saleh_ (Jogja, 12/04/2016. Ketika semangat itu kembali penuh) 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s