Akhlak dan Nasehat · My Diary

Jangan Persempit Rahmat Allah

jangan mempersempit rahmat Allah

Jangan persempit Rahmat Allah, kalimat ini sukses membuat saya sangat tertarik. Rangkaian kata ini terselip di antara halaman sebuah buku, buku yang berjudul ‘Aktivis Dakwah Kampus’. Meski judulnya mengkhususkan para aktivis dakwah kampus, namun pada hakikatnya setiap kita adalah seorang aktivis dakwah di manapun kita berada, sehinga buku ini cocok untuk siapa saja dan dari kalangan mana saja.

Dalam kesempatan kali ini saya tidak sedang ingin menulis tentang kelebihan buku ini, namun saya ingin mengulas kembali kalimat yang membuat saya jatuh hati, Jangan persempit Rahmat Allah. Kalimat ini sangat menggugah saya beserta penjelasannya yang tidak saya duga.

Duhai hati yang gampang terbuai, Jangan persempit Rahmat Allah dengan menambatkan hatimu pada seseorang yang belum halal bagimu. Jangan persempit Rahmat Allah, dengan menjalin sebuah hubungan yang engkau sendiri tak tahu akan kemana ujungnya (pacaran, ttm, hts, dll). Ketika seseorang, baik laki-laki maupun wanita telah mengikat, menjatuhkan hatinya pada satu orang, sementara orang tersebut belum menjadi pasangan yang halal baginya, maka itu artinya ia telah mempersempit Rahmat Allah untuk dirinya.

Ia mempersempit Rahmat Allah dengan membatasi dirinya memilih calon pasangan hidupnya kelak. Bukankah ketika seseorang telah terikat dengan sebuah hubungan, telah terikat hatinya, maka mau tidak mau ia hanya memiliki satu pilihan dalam hidupnya untuk urusan pasangan hidupnya kelak. Berbeda dengan seseorang yang tidak memiliki hubungan apapun. Ia bebas memilih yang terbaik untuk dirinya.

Jika seseorang yang bebas, tidak terikat dengan ikatan apapun, tidak pula hatinya terpaut pada sebuah nama, maka ia akan tanpa beban memilih siapa yang ingin ia jadikan pasangan. Ia akan memilih yang terbaik. Dia bisa memilih yang paling cantik/tampan, yang paling shalih/shalihah, paling rajin, paling sabar, dan lain sebagainya. Sebaliknya, ketika seseorang itu terikat, maka ia telah mempersempit Rahmat Allah atas dirinya dengan tidak bisa memilih meski di perjalanan hubungannya ia menemukan orang yang lebih baik.

Hal ini serupa dengan kisah seorang adik yang dulu bercerita. Dari cerita yang ia paparkan, dapat saya simpulkan bahwa si adik ini telah menjatuhkan hatinya pada sebuah nama, sehingga ketika ada orang lain yang maju ingin meminangnya, ia ragu bahkan menolak.

Pada saat itu kutanyakan padanya; Dik, apakah kau yakin bahwa dia yang kau jatuhkan hatimu padanya akan menjadi jodohmu kelak? Apakah kau yakin bahwa dia lebih baik agama dan akhlaknya dari seseorang yang ingin meminangmu itu?

Sungguh jodoh adalah rahasia Allah. Siapapun dia, maka dialah yang terbaik, dialah yang akan membantu kita menuju Surga-Nya. Jika ingin menikah, ingin mencari pasangan, maka lakukan dengan cara yang diajarkan dalam agama yakni dengan cara ta’aruf, khitbah, lalu walimah. Bukan dengan cara yang lainnya agar engkau tidak mempersempit Rahmat Allah atas dirimu sendiri.

Wallahua’lam.

_Nurhudayanti Saleh_ (Jogja, 10/01/2016. Hati yang menanti)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s