Akhlak dan Nasehat · Cerpen · Sosok

Apa Yang Kita Cari?

Apa yang kita cari
Siang itu matahari tersenyum cerah, menyisakan hawa gerah pada setiap tubuh yang diterpa. Keringat tak mau kalah, ia meluncur tanpa malu-malu di balik kemeja. Aku masih setia duduk di boncengan. Siang itu mbak Putu, saudara seiman yang bekerja di tempat yang sama denganku mengajak ke sebuah walimah temannya.

Setelah beberapa lama bolak balik mencari alamat, akhirnya kami sampai di sebuah rumah yang nampak nyaman. Halamannya luas dan rumahnya sederhana dengan arsitektur rumah adat Jawa, Joglo. Dari luar halaman kami bisa melihat dengan jelas sisa-sisa pesta pernikahan yang telah digelar beberapa jam yang lalu. Ya, kami memang datang di saat pesta sudah usai, di saat riasan sang pengantin telah terhapus dan pakaiannya pun telah terganti.

Aku dan Mbak Putu segera duduk ketika sang pengantin wanita mempersilahkan. Ada rona malu kudapati di pipinya yang berusaha ia tutupi. Rona malu karena dua hal; malu karena baru saja menjadi pengantin baru dan malu karena ia merasa sudah tidak pantas menyandang gelar itu di usianya yang sekarang.

Wanita itu berkulit cokelat dengan tinggi badan sedang. Kuperhatikan keriput telah muncul di beberapa bagian wajahnya dan juga punggung tangannya. Hal inilah yang membuatnya malu. Ia merasa malu karena menikah di usianya yang telah menyentuh angka 46 tahun. Dan ini pernikahan pertamanya.

Tapi, di balik pengakuan bahwa ia malu dengan kondisinya, ada satu hal yang ia ajarkan pada kami yang membuat kami berfikir bahwa ia seharusnya tak perlu merasa malu. Sebaliknya, orang-orang di luar sanalah, orang-orang yang memiliki gengsi dan ego yang tinggi, yang seharusnya merasa malu.

Di sela-sela percakapan kami, Mbak Putu bertanya dengan sopan tentang pekerjaan suaminya yang usianya dua tahun lebih muda dari sang pengantin wanita. Wanita itu pun menjawab bahwa pekerjaan sang suami adalah seorang buruh. Mbak Putu pun segera menimpali, bahwa apapun pekerjaan seseorang yang terpenting adalah pekerjaan tersebut berlabel halal. Aku pun mengangguk-angguk setuju.

“Iya Mbak, betul. Apa sih yang kita cari?” Kata si pengantin wanita dengan senyum penuh ketenangan.

Mendengar kalimat singkat itu, aku seperti mendapatkan air di tengah gurun pasir. Sebuah pernyataan sekaligus pertanyaan yang mampu menjawab setiap kegundahan di dalam hati siapa saja. Sebuah pertanyaan yang terus terngiang sejak aku meninggalkan rumah itu hingga saat aku menuliskan tulisan ini. Apa sih yang kita cari?

Ya, apa sih yang sebenarnya kita cari di dunia ini? Bagi orang-orang yang beriman jawabannya tentu saja sama. Kita di dunia semata-mata mencari ridha Allah Ta’ala, semata-mata untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya, semata-mata untuk beribadah kepada Allah Ta’ala, sehingga apapun keadaan kita saat ini, kita akan sabar, ikhlas, dan ridha atas keadaan tersebut.

Banyak orang di luar sana menolak menikah karena si calon tidak tampan atau cantik, tidak kaya, tidak punya pekerjaan yang bergengsi, tidak punya jabatan, tidak putih, tidak tinggi, tidak mancung, tidak langsing, tidak ada cinta yang tumbuh di dalam hati, dan masih banyak alasan lainnya.

Jika sampai hari ini kita termasuk yang demikian, maka itu berarti kita belum melakukan sesuatu atas dasar ikhlas karena Allah Ta’ala, belum karena mencari ridha Allah, belum karena ibadah. Kita melakukan sesuatu tersebut semata-mata karena penilain orang lain, karena ingin dipuji dan terlihat terhormat di pandangan manusia yang lain.

Kita malu jika pasangan kita tidak tampan/cantik, malu jika pasangan kita pekerjaannya hanya kecil-kecilan, malu jika fisiknya ada kekurangan, malu jika ia miskin, dan lain sebagainya. Kita lupa, bahwa semua hal yang bersifat duniawi tidaklah menjadi jaminan kedudukan seorang hamba di sisi Allah Ta’ala.

Ketika kita benar-benar mencari ridha Allah dan semata-mata ingin beribadah kepada Allah, maka apapun kondisi (calon) pasangan kita dari sisi dunianya tidak menjadi penghalang untuk kita menikah, untuk kita beribadah. Ketika dia tampan/cantik, maka kita bersyukur. Jika tidak, maka kita bersabar. Ketika dia kaya, maka kita bersyukur. Jika tidak, maka kita bersabar. Jika jabatannya tinggi, kita bersyukur. Jika tidak, maka kita bersabar. Jika ia putih, tinggi, mancung, maka kita bersyukur. Jika tidak maka kita bersabar. Jika kita menikah di dunia, maka kita bersyukur. Jika tidak, maka kita bersabar.

Bukankah kondisi seorang muslim di dunia ini hanya ada dua? Jika ia tidak bersyukur, maka ia bersabar. Jika ia tidak mendapatkan pahala dari rasa syukurnya, maka ia mendapatkan pahala dari rasa sabarnya. Dan dua hal inilah kunci ikhlas seorang hamba, kunci mendapatkan ridha Allah Ta’ala, dan kunci dari ibadah-ibadah kita di dunia.

Dan tentang ibadah, ia tidak akan pernah terlaksana jika kita tidak memaksa diri kita. Kita tidak akan bangun malam untuk shalat, tidak akan mengambil Al-Qur’an dan membacanya, tidak akan puasa sunnah, tidak akan bersedekah, tidak akan ke masjid untuk shalat berjama’ah, tidak akan menikah, jika kita tidak memaksa diri kita. Ketahuilah bahwa di luar sana syaitan senantiasa menggoda manusia untuk tidak beribadah kepada Allah.

Jadi, apa yang sebenarnya kita cari?

Wallahua’lam.

_Nuhudayanti Saleh_ (Jogja, 01-01-2016. Sebuah malam yang bising karena terompet dan kembang api)

NB:

Terimakasih kepada Mbak Putu dan mbak yang baru saja mendapat gelar barunya. Pengalaman ini takkan terlupa. Semoga pernikahan beliau sakinah dan langgeng sampai di Surga. Semoga segera diberi momongan. Bukan tidak mungkin. Jika Hajar bisa hamil di usia senja, maka siapa pun juga bisa atas izin Allah Ta’ala ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s