Cerpen · My Diary

Doa Pasti Terkabul Part 1

Doa Pasti Terkabul

“Ustadzah, semalam aku doain ustadzah loh.”

“Doain apa sayang?”

“Doain supaya ustadzah segera nikah.”

“Wah, makasih ya udah doain ustadzah.”

Aku mengenang kembali percakapan di kelas siang tadi. Senyumku merekah, merasa geli mengingat doa siswa kelas 1 tempatku mengajar saat ini. Dia masih kelas satu tapi sudah bicara tentang pernikahan, sebuah bahasan yang umumnya dibicarakan oleh orang dewasa yang sudah siap menikah.

Atau jangan-jangan aku sudah terlihat begitu tua? Jangan-jangan keriput sudah bershaf-shaf di depan wajah. Ah, sepertinya tidak juga. Seorang rekan di sekolah awalnya mengira aku masih seusia dengannya yang baru berusia 19 tahun. Ada juga yang mengira aku masih semester tiga strata satu. Bahkan sebagian besar orang tak percaya ketika aku menyebutkan dua angka usiaku. Mereka selalu mengira aku lebih mudah dari usiaku yang saat ini sudah mencapai grade dewasa.

Atau jangan-jangan, anak kecil itu melihatku begitu kasihan karena masih saja pulang sekolah dijemput dengan seorang akhwat bukan seorang ikhwan. Ah, lagi-lagi aku tersenyum geli.

Aku mengambil hapeku yang terlihat berkedap-kedip merah di sudut kanan atasnya. Kubaca pesan dari adikku tercinta.

“Lama-lama aku jadi jengkel sama yang namanya ikhwan! Semua pada nolak ta’aruf sama akhwat yang usianya lebih tua!”

Aku kembali tersenyum. Mengapa hari ini semua hal membuatku tersenyum? Kuketik cepat balasan pesan untuknya agar marah tak bertahan di dalam hatinya.

“Kenapa harus marah? Itulah yang disebut dengan fitrah. Di mana-mana, setiap laki-laki secara fitrah menginginkan wanita yang lebih muda dari usianya. Seperti seorang wanita, di mana-mana mereka menginginkan laki-laki yang lebih tua dari dirinya. Iya kan?”

Belum selesai. Kulanjutkan lagi mengetik pesan balasan untuknya.

“Tapi, selalu ada laki-laki dan wanita yang istimewa. Mereka adalah orang-orang yang tidak menilai seseorang dari segi fisiknya saja, tapi selalu menomor satukan penilaian agama, akhlak, hati seseorang. Kalau seorang ikhwan atau akhwat menolak karena alasan fisik atau usia, kita simpulkan saja kalau mereka memang bukan jodoh untuk satu sama lain.”

Klik. Kukirim balasan pesan yang telah kuketik sepenuh hati. Dia, adikku sedang getol-getolnya mencari calon kakak ipar untuk dirinya, calon pasangan hidup untuk diriku. Namun tiap kali ia membidik, tiap kali itu pula anak panahnya patah mengenai tembok yang keras. Di dalam balasan pesannya, ia berharap suatu hari nanti anak panahnya tak patah dan tertancap kuat di dalam sebuah hati yang lembut.

Lagi-lagi aku tersenyum. Dulu aku tidak terlalu risau dengan pernikahan. Mungkin karena belum banyak orang yang menanyakan hal itu pada diriku. Namun saat ini, saat usiaku telah dewasa, hal itu sedikit mengusik hatiku yang tenang.

Kudapati satu-persatu temanku melayangkan surat undangan atau memosting kabar gembira itu di akun sosial media mereka. Satu-persatu telah menemukan tulang rusuknya yang sempat hilang, satu-persatu didatangi si pangeran berkuda putihnya yang sempat mutar-mutar mencari alamat sang puteri. Untung alamatnya bukan alamat palsu.

Kutarik nafas dalam-dalam. Apalah dayaku ketika orang-orang bertanya kapan aku menikah? Pertanyaan yang terdengar begitu aneh di telinga. Bukankah kapan waktunya, setiap orang tak akan pernah tahu. Maka kujawab saja, ketika Allah telah menetapkan waktu yang tepat untukku. Aku hanya perlu banyak-banyak berdoa dan berusaha sesuai rambu-rambuNya.

Kulihat lagi hapeku. Kali ini sebuah pesan baru muncul di layarnya. Kubaca dengan saksama pesan dari seorang ummahat yang aku kenal,

Ukhty, kirimkan alamat email ya, ini ada ikhwan yang mau ta’aruf. Ana mau kirimkan biodatanya ke email ukhty. Secepatnya.

Kubaca sekali lagi lebih hati-hati. Apa? Ta’ruf? Nggak salah baca kan?

­_Nurhudayanti Saleh_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s