Diposkan pada Akhlak dan Nasehat

Penantian

menanti

Dalam hidup ada banyak hal yang kita nantikan. Penantian masuk sekolah lalu penantian kelulusan. Penantian jadi mahasiswa lalu penantian jadi sarjana. Penantian kerja lalu penantian gajian. Dan penantian menikah lalu penantian memiliki anak.

Dari sekian banyak penantian, penantian kelanjutan ta’aruf adalah hal yang paling ditungu-tunggu oleh para pelakunya. Setelah tukar biodata, setelah saling melihat wajah ketika nadzhar, maka menanti keputusan lanjut atau tidak adalah masa-masa yang, ah rasanya tak bisa digambarkan lewat kata.

Mengaku biasa saja padahal deg-degan juga. Mengaku gugup padahal memang iya. Lalu, berapa lama kita harus menunggu? Inilah pertanyaan yang selalu hadir di masa penantian. Bukan begitu? Hem, pertanyaan ini tentu hanya bisa dijawab bagi mereka yang sudah dan sedang melakoni proses itu.

Ketika berada dalam masa penantian ada dua hal yang perlu kita siapkan. Menyiapkan diri ketika jawabannya ‘YA’ dan menyiapkan diri ketika jawabannya ‘TIDAK’, yang berarti ta’ruf cukup sampai di sini. Dan hal terakhir inilah yang kadang-kadang kurang dipersiapkan oleh kita. Kita selalu siap menang, tapi terkadang kita tidak siap untuk kalah.

Duhai para penanti, sudahkah hatimu kau persiapkan? Jika ternyata jawaban yang datang adalah ‘TIDAK’, maka bersabarlah. Terimalah dengan hati yang lapang. Yakinlah dan kembalikan semua perkara kepada Allah. Allah adalah Zat Yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana. Dia lebih tahu siapa yang pantas untuk kita, melebihi diri kita sendiri. Allah tentu sedang mempersiapkan seseorang yang lebih baik, di dunia atau pun di akhirat.

Lalu dalam masa penantian, perbanyaklah istighfar dan doa. Bukan berdoa agar dia adalah jodoh kita. Tapi berdoa agar Allah memberikan yang terbaik. Jika ia jodoh kita, maka semoga Allah melancarkan dan memudahkan segala urusan selanjutnya. Tapi jika dia bukan jodoh kita, maka semoga Allah menjadikan hati kita hati yang ridha dan bersih dari rasa kecewa apalagi benci.

Lalu dalam masa penantian tetaplah meluruskan niat, bahwa apa yang kita kerjakan semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Jangan biarkan syetan mengambil kesempatan, membuat hati kita lalai lalu menumbuhkan rasa cinta di waktu yang salah.

Lalu dalam masa penantian, menantilah dengan sabar ^^

Wallahua’lam.

_Nurhudayanti Saleh_ (Jogja, akhir september yang hangat)

Iklan

Satu tanggapan untuk “Penantian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s