Akhlak dan Nasehat

(Perlu) Berkaca

cermin-diri

Lagi-lagi saya akan menuliskan tentang yang satu ini. Bukan karena saya sudah sangat ingin, tapi karena saya merasa ada yang salah setelah mendengar beberapa pengakuan. Yah, ini masih tentang jodoh, tentang pernikahan yang didambakan setiap insan yang tengah setia menanti di atas jalan Ilahi.

Ta’aruf adalah salah satu jalan yang disyari’atkan oleh Allah Ta’ala ketika ada seorang ikhwan ataupun akhwat yang telah merasa siap dan ingin menikah. Masing-masing akan bertukar biodata. Ketika merasa cocok satu sama lain maka akan ketahap selanjutnya, lamaran dan menikah. Ya, sesederhana itu.

Dan di sinilah saya menemukan sesuatu yang salah, di saat seseorang menuliskan kriteria pasangan yang ia inginkan. Ternyata tidak sedikit yang masih meletakkan kriteria fisik di atas kriteria akhlak. Bahkan seolah-olah kriteria fisiklah yang menjadi sumber kebahagiaan dan kelanggengan pernikahannya kelak.

Sebut saja, ketika seorang ikhwan menulis beberapa kriteria seperti berikut;

  • Cantik
  • Enak dipandang
  • Kulit putih
  • Rambut lurus
  • Usia lebih mudah
  • dsb

Tidak. Tentu tidak salah ketika seseorang memiliki kriteria calon pasangan yang ia idamkan. Hanya saja, seharusnya kriteria semacam itu tidak menjadi hal utama. Bahkan jika perlu, jadikanlah kriteria fisik hanya sebagai hadiah. Jika mendapatkan pasangan yang sesuai kriteria, maka itu hadiah dari Allah. Namun jika tidak, maka kriteria utama sudah sangat mencukupi, yakni keshalihannya, akhlaknya.

Banyak ikhwan atau akhawat yang gagal menemukan pelabuhan hatinya hanya karena alasan fisik. Shalihah sih, tapi pendek, tapi hitam, tapi gemuk, tapi keriting, tapi tua, dan masih banyak tapi-tapi yang lain yang menuntut kesempurnaan. Dan hal ini bukan isapan jempol belaka, karena semua yang saya tuliskan saat ini berdasarkan pengakuan seorang ummahat yang kerap menjadi perantara ketika ada ikhwan atau akhwat yang meminta tolong untuk dicarikan pendamping hidup.

Sampai di sini, saya ingin sekali membawa sebuah kaca besar dan menyuruh siapapun untuk berkaca, terutama kepada mereka yang sangat ‘pemilih’. Coba pandangi dan lihat kembali siapa diri kita. Sudah berapa lama menuntut ilmu agama? Sudah seberapa sering menjalankan shalat dan puasa sunnah? Berapa lembar Al-Qur’an yang kita baca setiap hari? Berapa uang yang kita keluarkan ketika mengisi kotak infaq? Sudah berapa sering lisan kita berdzikir kepada Allah? Sudah seberapa tebal keimanan dan ketaatan kita kepada Allah?

Selagi menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, saya akan memberitahukan satu hal yang mungkin terlupakan. Semua umat Islam sangat tahu dan mengerti bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam adalah manusia yang paling mulia, paling baik agamanya, paling besar ketaatannya, paling banyak amalan shalihnya, paling baik rupanya. Namun, tahukah kalian siapa isteri pertama beliau? Apakah dia wanita yang lebih muda? Apakah dia seorang gadis belia? Lalu kenalkah kalian dengan isteri beliau yang lainnya? Adakah yang gadis belia selian Aisyah? Jawabannya tidak. Bahkan kebanyakan dari mereka adalah seorang wanita tua, janda.

Saudaraku, inilah yang ingin kusampaikan padamu. Jika Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam saja tidak menjadikan fisik sebagai poin utama, lalu siapalah diri kita. Mengapa kita yang baru setahun dua tahun belajar agama, yang amalannya hanya seujung kuku Beliau, berani menjadikan fisik sebagai standar yang harus terpenuhi. Tidakkah terlalu angkuh? Atau tidakkah merasa malu?

Lebih dari itu, bukankah kau telah melihat realita di luar sana. Ada berapa banyak wanita cantik (sebut saja artis) yang harus bercerai dari suaminya? Bukankah hal itu sudah cukup menjadi bukti bahwa fisik yang baik, yang sifatnya relatif bukan jaminan kebahagiaan? Lalu di luar sana pula banyak keluarga yang hidup bahagia meski pasangannya tidak sesuai dengan kriteria yang ia harapkan. Mengapa? Karena pasangannya telah memiliki kebaikan agama, sebuah poin yang amat utama.

Sebenarnya masih banyak hal yang ingin saya tuliskan, namun tak cukup waktu untuk meluapkan seluruhnya. Satu hal yang perlu diketahui, tulisan ini hadir bukan gambaran kecemasan pribadi tentang tak bertemu jodoh. Tulisan ini semata-mata nasihat untuk saya pribadi dan seluruh pembaca yang sedang berusaha menjemput jodoh mereka, bahwa carilah yang hatinya baik, bukan semata fisik.

Wallahu’alam.

_Nurhudayanti Saleh_ (Jogja, 10/9/2018. Ketika malam semakin dingin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s