Cerpen · My Diary

Sang Pemimpi ~ Tertunda

menunggu

Hari Pertama.

Hampir tak percaya, aku bertemu dengannya di sini. Di halaman belakang sebuah rumah sakit. Ia duduk sendiri di sebuah bangku panjang mengenakan pakaian berwarna biru muda. Pakaian yang dikenakan setiap pasien yang lalu lalang. Aku menghampirinya perlahan dan ia menyadari kehadiranku. Kudapati beberapa saat ia menatapku heran tak percaya, lalu tak perlu menunggu lama, kerut di dahi itu berganti seulas senyum ramah. Sebuah senyum yang masih sama sejak 5 tahun yang lalu.

“Sakit apa?” Tanyaku coba mencairkan kekakuan di antara kami. Meski telah saling mengenal sejak semester awal kuliah (8-9 tahun lalu), tetap saja waktu lima tahun tanpa komunikasi membuat kami kikuk satu sama lain, ditambah lagi hubungan rumit di antara kami yang sulit untuk kami jelaskan hingga saat ini.

Dia tidak menjawab. Dia hanya mengangkat bahu sembari tersenyum seolah berkata; bisakah kita tidak membahasnya? Karena keengganannya bercerita tentang dirinya saat ini, maka kualihkan saja obrolan kami ke masa-masa kuliah dulu dan kabar terbaru teman-teman sekelas. Ternyata cara itu jitu untuk menghadirkan suasana yang menyenangkan di antara kami. Sesekali kudapati ia tertawa lepas seperti tak sakit sama sekali. Sakit yang membuatnya terlihat lebih kurus dari terakhir kali aku melihatnya.

***

Hari Ketiga.

Sudah dua hari aku selalu bertemu dengannya. Atau mungkin lebih tepatnya, aku yang menemuinya. Kami selalu bertemu di taman belakang rumah sakit dan menghabiskan waktu mengobrol pahit manis masa kuliah. Tapi meski begitu, kami selalu kompak melompati kisah di antara kami. Kisah yang setiap kali ia mengingatnya, setiap kali itu pula ia mengucapkan kata maaf padaku.

Hari ini kuputuskan untuk menemuinya langsung ke kamar perawatannya yang tepat bersebelahan dengan kamar perawatan seorang teman kontrakan yang dua hari lalu kuantar ke rumah sakit akibat kecalakan kecil yang ia alami. Langkah kakiku meragu tatkala yang kutemui di ruangan itu adalah seorang wanita dengan kecantikan alami meski telah tua usia. Ia tersenyum hangat padaku meski sekilas kutangkap tatapan bersalah pada kedua bola matanya. Kuulurkan tangan kanan untuk menyalaminya dan ia menyambutku, bukan sekedar membalas erta tanganku tapi juga memelukku syahdu seperti tak percaya kami bisa bertemu lagi setelah sekian tahun berlalu.

“Kamu apa kabar Nak?” Tanyanya mempersilahkan aku masuk dan duduk.

“Alhamdulilah baik tante. Tante dan keluarga bagaimana?” Balasku sembari sekilas menatap ke sekeliling ruangan mencari sosoknya. Yang kudapati hanyalah tempat tidur kosong yang telah rapi.

“Dia ada di taman belakang. Sejak di rawat di sini, dia lebih sering menghabiskan waktu di sana. Mungkin dia tidak betah karena bau obat. Ah, siapa juga yang betah di rumah sakit, hehehe…” Jelas wanita itu sambal tertawa kecil. Wanita yang tak lain ibu dari dirinya, seorang pria dengan sorot mata yang tajam.

“Hehehe…” Balasku tersenyum lebar.

“Padahal seminggu lagi dia akan menikah.” Wanita itu melanjutkan. Ada nada yang aneh terdengar di ujung suaranya. Suasana yang tadinya terasa hangat entah mengapa berubah menjadi sedikit canggung.

Kembali kulangkahkan kaki menemuinya. Kali ini tak lagi kudapati ia berwajah muram. Senyumnya mengembang sejak ia melihatku di ujung jalan. Kuhirup nafas dalam-dalam. Pengakuan ibunya baru saja entah bagaimana membuat dadaku terasa sesak.

“Hai…,” Sapanya penuh semangat.

“Hai…, sepertinya hari ini ada yang berbeda?”

“Hari ini aku merasa lebih sehat.”

“Hemm,,, itu kabar bagus untuk seseorang yang akan menikah seminggu lagi.” Kataku dengan senyum sedikit dipaksa. “Kenapa tidak kau ceritakan kabar bahagia yang satu ini?”

Mendengar pertanyaanku, wajah cerianya langsung menghilang. Ia diam dan tidak mau membahas apapun. Sikapnya membuatku serba salah. Kupikir wajah cerianya hari ini karena kabar gembira yang baru saja kudengar dari ibunya.

“Maaf…”

“Bukan salahmu…” Balasnya sembari tersenyum tulus.

***

Seminggu berikutnya.

Aku melihatnya sedang mematut wajah di depan cermin. Ia terlihat tampan dengan baju putih yang elegan. Sesekali ia memperbaiki letak peci yang senada dengan baju yang ia kenakan. Pernikahannya digelar di sebuah gedung yang tak jauh dari rumah sakit karena sampai hari ini ia belum pulih seutuhnya.

Sejak pertama bertemu dengannya pagi ini, ia tidak bicara sepatah katapun. Aku tidak mengerti dengan sikapnya akhir-akhir ini. Ia tidak banyak bicara seolah menghindar dari pembahasan dirinya yang akan menikah. Padahal aku tidak berniat untuk menanyakannya lagi sejak hari di mana ia bungkam tentang itu. Hanya satu harapan di dalam hatiku, semoga ia selalu bahagia.

Pernikahan yang ia gelar tidak besar. Ini hanya acara akad nikah biasa yang dihadiri kedua keluarga mempelai. Waktu terus berjalan dan belum ada tanda-tanda dari calon mempelai wanita. Ibunya mulai terlihat gusar. Sementara ayahnya coba menenangkan ibunya dengan terus berusaha menghubungi calon baesannya melalui telepon. Aku yang sedang berdiri di depan pintu masuk gedung juga ikut merasa cemas.

“Maafkan aku…” Tiba-tiba saja ia datang dan berdiri tepat di sampingku. Aku sedikit terkejut dengan kehadirannya. Dan aku tidak paham dengan kata maaf yang ia ucapkan. Maaf untuk apa? Apa ia kembali mengingat hubungan rumit di antara kami yang tak pernah ada kata mulia dan akhir di dalamnya? Atau maaf karena pagi ini ia tidak peduli dengan keberadaanku?

“Tidak ada yang perlu aku maafkan…” Balasku sembari tersenyum. Senyum yang melegakan segala perasaanku.

Tidak berselang lama, sebuah mobil sedan tiba di depan kami. Jantungku berdebar. Sejak tadi aku ingin melihat wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya. Pintu depan mobil terbuka. Turunlah kedua orang tua calon pengantin wanita. Hatiku semakin berdebar menunggu pintu belakang mobil terbuka, tapi, tapi sedetik berikutnya debaran jantungku seakan berhenti berdetak ketika ia berkata…

“Bisakah pernikahan ini tidak terjadi…”

Aku menoleh dan menatapnya penuh tanya. Tak kutemukan binar bahagia pada kedua bola matanya. Mengapa? Ada apa?

Pintu mobil yang sejak tadi kutunggu untuk dibuka ternyata tidak akan pernah terbuka. Wanita dan laki-laki tua tadi bergegas menemui orangtua mempelai pria. Aku tidak mendengar semua yang mereka bicarakan. Yang aku tahu, calon mempelai wanita memutuskan untuk membatalkan pernikahan. Laki-laki dan wanita yang baru saja datang itu tak hentinya meminta maaf.

Sekali lagi aku menoleh dan menatapnya. Harapan yang baru saja ia ucapkan terkabul. Kini kudapati wajahnya penuh kelegaan. Ia balas menatapku dengan senyum yang tidak bisa kuartikan makananya.

“Kenapa? Kenapa kau ingin pernikahan ini tidak terjadi?

Baru saja ia akan menjawab pertanyaan itu, pertanyaan yang membuatku sangat penasaran, aku tiba-tiba saja…

Terbangun dari mimpi…TIDAAAAK…!!! Ternyata…, ya ternyata (maafkan saya para pembaca) ini hanya mimpi belaka. Mimpi yang membuat saya penasaran dengan akhir ceritanya.

_Nurhudayanti Saleh_ (Jogja, beberapa minggu yang lalu)

NB:

  • Setelah saya menceritakan mimpi ini pada dua sahabat saya, mereka cepat-cepat menyuruh saya tidur kembali berharap ada part 2 dari mimpi saya ini, xixixi.

Hikmah:

  • Tidak semua mimpi harus kita wujudkan! Ada mimpi yang seharusnya tetap menjadi mimpi ^^

4 thoughts on “Sang Pemimpi ~ Tertunda

    1. Maaf telah mematahkan keseruan Putri. Hehehe part 2 nya malah dimimpiin ma sahabat saya, xixixi. Mungkin kalau ada waktu saya tulisin lagi di sini.

      Salam kenal kembali Putri. Semoga nyaman berkunjung ke ‘rumah’ saya yang sederhana ini ^^

      Disukai oleh 1 orang

  1. wuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa kok mimpi, aku berharap ini nyata kwkw bacanya udah bener2 e ternyata hehe, tapi kerenlah mimpinya aja seeksotis ini apa lgi kisah sesungguhnya, salam kenal mbak

    Suka

    1. Salam kenal Amri. Maaf ya jadi kecewa di akhir ceritanya, hehehe namanya juga mimpi.

      Nanti versi nyatanya (kalau emang ada) pasti bakal diceritain di sini juga kok.

      Well, ahlan wasahlan di ‘rumah’ saya. Semoga betah ^^

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s