Diposkan pada Akhlak dan Nasehat

Golongan Yang Mendapatkan Surga

kutipan

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa. (Yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (Q.s. Ali-Imran: 133-134)

Ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam membacakan ayat ini, seorang sahabat bertanya; Ya Rasulullah, jika surga itu seluas langit dan bumi, maka di manakah tempatnya neraka?

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam tidak menjawab pertanyaan tersebut. Sebaliknya, Beliau balik bertanya kepada sang sahabat; Bagaimana menurutmu ketika malam datang. Maka kemanakah siang? Atau ketika siang datang, maka kemanakah malam?

Sahabat itu menjawab; di tempat yang Allah kehendaki.

Maka Rasululah Shallallahu’alaihi wasallam pun berkata; Begitu pula dengan Neraka. Ia berada di sebuah tempat yang Allah kehendaki.

Adapun mengenai ayat di atas, maka diketahui bahwa Surga hanya disiapkan untuk orang-orang yang bertakwa, yakni;

  1. Orang yang menginfakkan harta mereka dalam keadaan lapang maupun sempit. Dan keadaaan yang kedua inilah yang paling sulit.
  2. Orang yang menahan amarahnya padahal ia mampu melampiaskannya.

Marah terbagi menjadi dua, yakni marah yang terpuji dan marah yang tercela. Marah yang terpuji adalah marah ketika ada yang melanggar perintah Allah dan ada yang melaksanakan larangan Allah. Sebaliknya, marah yang tercela adalah marah ketika ada yang melakasanakan perintah Allah dan ketika ada yang meninggalkan larangan Allah.

Secara umum, marah tidaklah dianjurkan sebagaimana dalam sebuah hadits; Laa Taghdhab walakal Jannah, Janganlah kamu marah, maka bagimu Surga.

Adapun obat untuk penyakit marah adalah dengan membaca ta’awudz dan berwudhu. Jika marah tidak juga reda, maka duduk ketika ia marah dalam keadaaan berdiri atau berbaring jika marahnya dalam keadaan duduk. Jika tidak reda juga maka obat terakhir agar marah reda adalah meninggalkan tempat marah.

  1. Mudah memaafkan orang lain.

Bukankah kita suka jika Allah memaafkan kita? Maka ketahuilah orang lain pun suka ketika kita memaafkan mereka.

Wallahua’lam.

_Jogja, 10 Ramadhan 1436 H, Ust. Amir, Lc @MasjidPogungDalangan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s