Diposkan pada My Diary

The Story of Mudik

DP-BBM-Mudik-Bis

Bismillah.

Akhirnya setelah melewati masa transisi dari Jogja ke Wotu, saya bisa menyesuaikan waktu untuk menyempatkan menulis. Kalau di Jogja menulis hampir bisa kapan saja, tapi kalau sudah di rumah orang tua tentu sangat berbeda. Ada banyak kewajiban yang harus didahulukan terlebih dahulu.

Well, pertama-tama saya tidak akan bercerita kegiatan saya setiba di rumah yang rasa-rasanya seperti tak pernah saya tinggalkan sebelumnya. Kali ini saya akan bercerita perjalanan saya dari Jogja sampai ke rumah. Hem, kira-kira apa saja yang saya lihat dan catat diam-diam? Ada yang penasaran? Nggak ada? Okey, nggak apa-apa.

Hal pertama yang saya catat baik-baik adalah saya telah menemukan satu (lagi) tempat yang saya masukkan ke dalam daftar tempat yang tidak nyaman untuk berdiam lama di sana. Bahkan jika tidak ada keperluan, saya tidak akan menginjakkan kaki di sana lagi. Yah, itulah Bandara. Tempat yang entah bagaimana dan sejak kapan, telah berubah menjadi tempat fashion show, tempat pamer aurat, tempat mengumbar kemesraan, dan hal lainnya yang biasanya hanya bisa dinikmati oleh orang-orang lewat layar kaca.

Jadwal penerbangan yang tertunda cukup lama membuat otak saya tidak sengaja menyimpan segala hal yang terlihat di sana. Hal yang tidak perlu saya jelaskan dengan gamblang karena jika itu saya lakukan, maka sebagian besar kaum Adam akan senang membaca tulisan saya kali ini. Satu-satunya tempat di Bandara yang membuat saya sedikit nyaman adalah mushallah. Jika bukan karena alasan mengganggu orang lain yang ingin melaksanakan shalat, maka saya lebih suka menunggu di mushallah ketimbang di ruang tunggu itu sendiri. Sayang, mushallahnya terlalu kecil.

Setelah menunggu dua jam lebih, akhirnya saya duduk di dalam pesawat yang membawa saya terbang ke Makassar. Tidak ada yang istimewa kecuali satu hal, bahwa di depan saya duduk seorang pria yang sayup-sayup terdengar sedang melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an. Masyaa Allah, sepertinya dia seorang hafidz karena tak kutemukan ia menggenggam Al-Qur’an ketika suaranya terus terdengar.

Selebihnya yang ada adalah perasan cemas dan takut. Bayangkan, jika Allah mau tentu mudah saja bagi Allah memutar pesawat tersebut dan menjatuhkannya ke dalam lautan atau pegunungan atau di mana saja yang Allah inginkan. Karena itulah, naik pesawat bisa menjadi momen seseorang merasa dekat dengan Allah dan waktu yang tepat untuk mengingat kematian. Maka tak heran, jika yang terucap sepanjang perjalanan adalah istighfar dan doa-doa tanpa koma.

Tiba di Makassar, perasaan saya benar-benar aneh. Dua tahun di Jogja dengan budaya yang lemah lembut membuat saya terkejut mendengar bunyi klakson mobil yang nyaring dan sahut-sahutan. Sebuah bunyi yang tidak akan kamu dengarkan di Jogja kecuali kamu sudah akan tertabrak. Sebagian besar orang-orang di Jogja lebih suka mendahulukan orang lain.

Siang harinya di Makassar, saya menyempatkan diri ke rumah saudara dan inilah momen pertama saya naik angkot lagi setelah dari Jogja. Sekarang saya semakin mengerti mengapa dulu saya menulis buku berjudul The Story in Angkot. Naik angkot di Makassar memang akan mengundang banyak cerita. Salah satunya adalah cerita supir angkot yang akhirnya menyadarkan saya bahwa saat ini bulan Ramadhan dengan dia (si sopir) membeli minuman gelas di siang bolong.

Aroma Ramadhan mulai terasa redup berganti aroma jual beli dan belanja. Pasar mulai sumpek dan masjid mulai sepi. Bahkan saya tidak lagi melihat wajah Ramadhan di kota Daeng itu kecuali sedikit saja. Di sepanjang tepi jalan, orang-orang terlihat tanpa lelah menjajakkan jualan. Ruko terbentang dari utara dan selatan, timur dan barat bertuliskan diskon gila-gilaan. Bersyukur, ada satu pemandangan yang menjadi penawar hati kecewa. Di atas sebuah mobil pic up penuh semangka, duduk seorang pemuda dengan jenggot tipis dan celana cingkrang sedang khusyuk membaca Al-Qur’an yang digenggam di tangan kanan. Ia mengambil kesempatan meraup pahala sebanyak-banyaknya sembari menunggu rezki sekedarnya.

Malamnya, saya meninggalkan Makassar menuju kota kelahiran tercinta, Wotu. Di terminal seorang penjual menjajakkan jualannya. Tadinya saya ingin membeli buah yang dijajakkan tapi sayang, karena kebohongan yang dilakukan si penjual, niat itu surut seketika. Demi mendapat pembeli, si penjual berbohong di awal dengan harga lebih murah, ketika akan dibayar dia merubah harga dan protes. Bahkan dia menyalahkan dan memaksa agar kami (saya dan sahabat) membeli sebagai bentuk tanggungjawab. Lalu apakah si penjual berhasil memekasa kami? Oh tentu saja tidak. Kami tetap tidak mau membeli dengan harapan hal tersebut bisa dijadikan pelajaran bagi si bapak.

Bis pun mulai melaju. Sepanjang perjalanan tidak ada yang menarik untuk diceritakan kecuali satu hal yakni si kernet bis. Si kernet yang kutaksir usianya tidak jauh dari usia kami, bahkan bisa jadi saya lebih tua dari dia, selalu menyapa dengan sapaan ‘Dik’ kepada kami. Sepertinya dia salah sangka. Tampilan kami yang memakai tas punnggung (tidak seperti kebanyaka wanita seusia kami yang lebih sering memakai tas jinjing atau tas tangan yang feminin) mungkin membuatnya melihat kami seperti anak pesantren yang sedang liburan. Bahkan sekali waktu, dia sampai menyapa saya dengan sapaan; adikku. Oh yeah, tahu-tahu saya punya kakak baru di dalam bis, xixixi.

Nah, begitulah cerita mudik saya kali ini. Saat ini saya sudah di rumah dan menjalankan aktivitas seperti biasa; mencuci piring, melipat pakaian, mengasuh ponakan, membantu umi buat kue labaran, dan rutinitas lainnya yang tak akan terbantahkan mendekati lebaran.

Sebelum beristirahat, tidak ada salahnya jika saya menitipkan sebuah nasehat; Lebaran semakin dekat. Jangan jadikan ia sebab kelalaian kita di 10 malam terakhir Ramadhan.

Semoga berjumpa lagi di cerita mudik selanjutnya. Salam.

_Nuhudayanti Saleh_ (Wotu, 07-07-2015. Ketika semua telah tertidur pulas kecuali Bapak)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s