Akhlak dan Nasehat · Cerpen

Allah Memilihnya

memilih

Dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.

***

Malam itu kuputuskan untuk menuliskan pertanyaan yang selama ini menggantung di pikiranku. Rasa penasaran memaksa jariku mengetik huruf itu satu demi satu. Dia seorang wanita yang shalihah, in syaa Allah. Dan keshalihannya itulah yang membuatku bertanya-tanya; Kak, bagaimana kau mendapatkan hidayah itu?

Maka mulailah wanita itu bercerita…

Dik, kau sudah tahu kan seperti apa aku dulu? Ya, dulu aku adalah seorang wanita yang aktif bekerja di luar rumah. Lingkungan kerja dan teman-temanku jauh dari syiar-syiar Islam. Jika ke kantor, aku hanya mengenakan kerudung seadanya, seperti kebanyakan wanita karir di luar sana. Hiburanku jalan-jalan ke mall sampai tempat karaoke.

Agama? Jangan tanyakan Dik. Aku wanita yang telah lupa dengan shalatku. Kadang aku shalat, kadang aku sengaja meninggalkannya. Ketika dinasihati, aku balik memarahi. Mendengar adzan saja aku sudah benci. Hatiku berkarat bagai besi.

Begitulah aku dulu, Dik. Sangat jauh dari Islam meski sejak lahir aku telah menyandang gelar sebagai muslimah. Aku mudah tersulut emosi dan jauh dari lembut dan ramah. Ketika ada yang menyampaikan kebenaran aku anggap sebagai penghinaan terhadap diriku dan membalas mereka dengan kata-kata yang jauh dari sopan.

Sampai pada suatu hari Dik, ketika aku sedang menuju ke kantor. Sebuah petanyaan tiba-tiba saja hadir di dalam hatiku yang keruh; Kenapa sebenarnya aku ini? Aku begitu jauh dari Allah sementara Allah begitu dekat bahkan begitu baik kepadaku. Allah telah memberiku rezeki, memberiku segala kemudahan, memberi kesehatan, memberi keluarga yang bahagia, memberi mata, hidung, telinga, mulut, tangan, kaki, bahkan Allah pula yang memberi aku kehidupan hingga detik ini. Lalu mengapa aku masih saja jauh dari-Nya?

Pertanyaan itu terus menghantuiku sepanjang perjalanan Dik. Aku merasa ada yang berbeda dengan hatiku. Perasaan bersalah tiba-tiba menjelajari seluruh tubuhku kemudian berganti perasaan dekat kepada Allah yang sedikit demi sedikit mulai tumbuh. Rasa yang sama sekali belum pernah kurasakan sebelumnya. Rasa yang membuatku damai, Dik. Dalam hati buru-buru aku berbisik; Ya Allah, peliharalah rasa ini di dalam hatiku.

Tapi sayangnya, saat itu aku belum juga mau merutinkan shalatku. Hatiku memang sudah berubah tapi hanya sedikit, ia belum mampu menggerakkan tangan dan kaki. Sampai pada suatu hari, lagi-lagi di dalam perjalanan menuju tempatku bekerja, ada satu pertanyaan yang muncul di dalam hati. Dan masyaa Allah, pertanyaan inilah yang akhirnya menggiringku pada perubahan hari ini.

Apakah kau bisa menjamin bahwa esok hari kau masih hidup? Bagaimana jika Allah mencabut nyawamu hari ini? Saat ini juga!

Dug! Hatiku tak kuasa membendung dentuman hebat itu, Dik. Rasanya ada batu besar yang berkali-kali menghantamku dan akhirnya menyadarkanku pada satu hal. Mati. Ya, mati. Sesuatu yang selama ini luput dari otak dan hatiku.

Aku menangis, Dik. Aku menyadari bahwa kelak aku pasti akan mati dan pada saat itu tak ada satupun yang bisa ikut untuk menemani. Harta, keluarga, jabatan, dan teman menjadi tidak berarti. Satu-satunya yang akan menjadi teman sejati adalah amalanku.

Aku takut, Dik. Dan semakin takut tatkala mengingat bahwa tak ada satupun kebaikan yang dapat aku andalkan. Aku takut bertemu malaikat maut dan ia datang dengan wajah marah dengan buku amalan di sebelah kiri. Aku takut bertemu seseorang yang berwajah hitam lagi menakutkan di dalam kubur dan ternyata itulah wujud dari amalanku selama ini. Aku takut bertemu malaikat penjaga kubur dan mereka membentakku karena tak mampu menjawab pertanyaan-pertayaan mereka. Aku takut bertemu malaikat penjaga Neraka dan ia membuangku ke dalam api yang menyala-nyala.

Setibanya di tempat kerja, aku langsung mengambil air wudhu dan shalat. Shalat pertamaku yang terasa begitu khusyuk. Aku menangis dalam-dalam atas semua kelalaian yang aku lakukan selama ini. Merasa belum cukup, malam harinya aku kembali shalat dan meminta ampunan kepada Allah. Doaku begitu panjang dan lama. Aku menangis sejadi-jadinya dan menumpahkan segalanya, segala ketakutanku akan dosa-dosaku dulu.

Ibarat bayi, aku merasa terlahir kembali, Dik. Rasanya dosa yang tadinya sebesar gunung telah runtuh dan hancur menjadi debu. Kuhapus sisa air mataku dan kuazzamkan dalam diri, bahwa mulai saat itu aku akan berubah menjadi muslimah yang mencintai Allah dan mencintai syari’at-syari’at-Nya. Mulai saat itu aku berubah menjadi muslimah yang sangat mendambakan Surga dan akhir dunia yang bahagia. Karena itu Dik, doakan agar aku senatiasa istiqamah.

***

Begitulah kisah seorang kakak yang aku kenal. Ceritanya menemukan hidayah telah berhasil membuat air mataku jatuh. Sungguh dia wanita yang berutung dan berbahagia. Betapa tidak, Allah-lah yang langsung memilihnya dari sekian banyak wanita di luar sana. Allah mempersaksikan bahwa hatinya bersih, jujur dan sungguh-sungguh mau menerima petunjuk.

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Al-Qashas [28]: 56)

Saat ini, dia sudah tidak bekerja. Ia memutuskan mengabdikan diri sebagai ibu rumah tangga, mengurus anak dan suami. Ketika kutanya alasannya, ia menjawab bahwa itulah bentuk hijrah dalam hidupnya. Subhanallah.

Semoga Allah terus menjaga diri dan hatinya. Semoga Allah mengistiqamahkannya. Semoga Allah mengabulkan segala harap dan pintanya. Dan semoga kita bisa mengikuti jejaknya, bersegera memilih dan melakukan kebaikan.

_Nurhudayanti Saleh_ (Jogja, 28-05-2015. Catatan Yang Tertunda)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s