Akhlak dan Nasehat · Cerpen · My Diary

Aku Kangen, Mbak.

miss_you

Mbak, kangen. Kapan ketemu lagi?

In syaa Allah kalau mbak ada waktu, kita ketemu ya dek.

***

Aku mengenalnya pertama kali ketika sedang mengisi kajian di salah satu kampus universitas di Jogja. Dia satu dari sekian mahasiswi yang begitu semangat menuntut ilmu agama. Kesungguhannya ia buktikan dengan selalu datang meski sebenarnya ia bukan mahasiswi di kampus itu.

Awalnya ia terlihat malu-malu. Namun seiring berjalannya waktu kami mulai akrab dan dekat. Pertemuan demi pertemuan menjadi saksi perubahan pada dirinya. Dulu ia masih memakai celana panjang, tapi suatu hari ia tidak lagi memakainya dan memutuskan istiqamah menanggalkannya dan menggantinya dengan pakaian wanita semestinya (baca; rok). Kerudungnya juga semakain hari semakin terjulur, hingga akhirnya melewati dan menutupi dadanya. Masyaa Allah.

Jika ada yang tidak ia pahami, dia tidak segan untuk bertanya. Jika ada masalah yang ia hadapi, ia juga tidak malu untuk menceritakannya. Sesekali ia menjemput dan mengantarkanku ketika selesai mengisi halaqahnya.

Namun, setelah aktivitasku bertambah (mengajar), aku sulit untuk mempertemukan waktu kami sehingga kajian dan halaqahnya aku serahkan pada akhawat yang lain. Aku dan dia tidak lagi rutin bertemu. Kami hanya saling berkirim pesan, itu pun lama kelamaan semakin jarang disebabkan kesibukan masing-masing.

Hari demi hari berlalu, minggu demi minggu berlalu, bulan demi bulan berlalu dan kami belum bertemu lagi. Sampai pada hari ini ketika aku mendapatan kabar dari teman kampusnya …

“Titin kecelakan Mbak. Sepertinya parah. Sekarang dia ada di rumah sakit. Sore ini kami mau ngejenguk.”

Innalillahi wa inna ilaihirajiun. Tanpa pikir dua kali, kukatakan untuk ikut menjenguknya bersama mereka. Setelah tiba di rumah sakit kami langsung mencari kamar tempat Titin dirawat. Ya, namanya Titin. Seorang gadis manis berkulit cokelat. Seorang gadis yang selalu tersenyum ceria namun saat ini senyum itu terenggut darinya, dan semoga hanya untuk sementara.

Aku menatapnya yang terbaring lemas di tempat tidur. Selang oksigen dan infus menjadi teman akrabnya. Ia menutup tubuhnya dengan selimut tebal hingga yang nampak hanyalah wajah. Kepala dan rambutnya berusaha ia tutupi dengan kerudung seadanya.

Wajahnya kini terlihat bengkak, di bibirnya ada bekas luka dan di dagunya ada bekas jahitan. Menurut cerita ibunya, Titin mengalami kecelakaan malam hari sekitar waktu shalat Isya. Ia tidak ditabrak melainkan jatuh karena menghindari pejalan kaki dan sebuah mobil. Kecelakaan itu mengakibatkan gigi-giginya bergeser dari tempatnya, ada juga yang patah. Setiap kali ia melihat wajahnya di layar hape, setiap kali itu pula ia menutup matanya sendiri.

Titin membuka matanya dan memperhatikan kami. Ia tidak berbicara sepatah kata pun karena kondisinya tidak memungkinkan. Ketika ia menginginkan sesuatu, ia hanya menulisnya di sebuah memo yang kudapati tergeletak di sampingnya dengan sebuah spidol ungu.

Aku menatap dan menyentuh tangannya sembari tersenyum. Kudapati raut wajahnya sedikit terkejut. Mungkin ia tidak menduga bahwa aku ada di antara teman-temannya. Tidak menduga karena sudah cukup lama kami tidak bersua. Dulu kami berharap untuk bertemu lagi dan Allah ‘mengabulkannya’ hari ini, sebuah sebab pertemuan yang tentu tidak pernah kami harapkan.

Setelah beberapa menit mengobrol dengan ibunya kami memutuskan untuk pulang. Saat pulang, saat duduk di boncengan, air hangat itu jatuh membasahi pipi dan kain penutup wajahku. Aku menangis karena tak pernah berharap beginilah pertemuan kami kembali. Aku menangis karena menyesal, mengapa tidak dari dulu aku menemuinya atau paling tidak mengiriminya sms. Dan air mataku ssemakin deras ketika mengingat kejadian di rumah sakit tadi; Titin menyerahkan memo yang sudah ia tulis dengan mata berkaca-kaca …

Terima kasih Mbak Huda sudah datang.

Titin kangen sama Mbak Huda…

***

Ya Allah, Engkaulah pemilik raga setiap manusia, Engkaulah pemilik sehat setiap manusia, maka kami memohon titipkanlah kembali sehat itu padanya. Semoga menjadi nasehat terbaik untuknya dan untuk kita semua.

_Nurhudayanti Saleh_ (Jogja, 05-05-2015. Dan air mata ini kembali mengalir)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s