Akhlak dan Nasehat · My Diary · Sosok

Lelaki Hebat

lelaki sholeh

Dia memang bukan lelaki tampan layaknya para aktor yang banyak dipuja di luar sana. Bukan pula lelaki atletis yang banyak dikagumi wanita dan membuat kaum Hawa histeris ketika mereka telanjang dada. Dia hanya lelaki dengan wajah sederhana, kulit cokelat muda, dan perut buncit meski sering berolahraga.

Aku sangat mencintainya, namun cintanya kepadaku selalu lebih besar dari yang aku punya untuknya. Dia laki-laki pertama yang sangat aku rindukan tatkala jauh. Dia lelaki terhebat yang kukenal sejak bertahun-tahun lalu.

Siang itu, sewaktu jam mengajar usai, aku memutuskan untuk menghubunginya. Teleponku beberapa minggu sebelumnya tidak mendapat tanggapan darinya. Ya, mungkin dia sedang sibuk mengurus ‘bisnis’ barunya.

Aku sedikit kecewa ketika yang menjawab teleponku adalah seoarang wanita yang dari suaranya bisa kutebak ia lebih mudah dariku. Tanpa basa basi langsung saja kutanyakan di mana pemilik telepon genggam itu. Wanita bersuara imut itu lalu memberikan hape pada lelaki yang kurindu.

Sejenak kudengar lelaki itu bertanya pada wanita muda itu tentang siapa yang menelponnya. Wanita muda itu lalu menyebut namaku. Laki-laki itu terdengar sedikit tak percaya dan bertanya sekali lagi untuk meyakinkan dirinya sendiri. Hem, ini memang salahku. Meski aku mengaku mencintainya, namun aku sangat jarang menghubunginya. Aku hanya kerap menitipkan salam rinduku padanya melalui orang lain.

Ketika ia menyapaku lebih dulu, aku rasanya ingin meneteskan air mata. Inilah suara yang tak pernah berubah, suara lelaki muda meski waktu terus bertambah tua. Kubalas sapaannya dengan meminta maaf semaaf-maafnya karena tidak menghubunginya sekian lama. Ia hanya tertawa kecil sembari mengucapkan ‘tidak mengapa’ dengan penuh cinta. Mendengar itu, aku semakin ingin menangis. Oh betapa besar cintanya padaku.

Cut!!!

Okey, gaya menulis ala novel romantis kita hentikan sampai di sini. Sejujurnya lelaki hebat itu adalah ayahku atau lebih familiar disapa dengan Bapak dan wanita muda itu adalah adik bontotku Janna. Ya, mungkin sudah ada yang bisa menebak karena sampai detik ini Allah belum manakdirkanku mencintai lelaki lain selain beliau😀

Sudah hampir 2 tahun aku tidak bertemu Bapak sehingga membuat hatiku cenat cenut karena rindu. Siang itu bapak bercerita banyak tentang ‘bisnis’ lamanya yang kembali ia geluti setelah pensiun; beternak ayam.

Bapak bercerita bahwa ayam-ayamnya berkembangbiak dengan baik. Sudah banyak ayamnya yang terjual. Sudah banyak pula yang bapak hadiahkan untuk keluarga dan sudah banyak pula yang dimakan biawak😀

Bapak bercerita seru bahwa ia berhasil membunuh seekor biawak yang menghabiskan anak-anak ayamnya. Mendengarkan hal itu, aku mencoba membayangkan bagaimana bapak memburu biawak dengan kondisinya yang seperti itu. Ya, bapak sudah sakit sejak 26 tahun yang lalu. Sakit yang kadang kali kambuh. Dan setiap kali kambuh, bapak harus berteriak menanggung sakit yang luar biasa. Sakit yang tak mampu kubanyangkan perihnya.

Tapi sekali lagi, dialah lelaki terhebat di hidupku. Di tengah kondisi yang tidak bisa disebut sehat, bapak mampu menumbuhkan semangat yang dibalut kesabaran. Ia memilih bekerja (beternak ayam) daripada hanya tidur dan duduk menanti sakit itu kambuh.

Dia lelaki terhebat. Bukankah di luar sana ada yang sakit selama bertahun-tahun dan akhirnya menyerah putus asa. Ada juga pemuda, sehat bugar namun tak memiliki semangat hidup. Mereka memilih bersantai menjadi pengangguran atau bekerja seadanya tanpa mau berkeringat dan berpeluh-peluh.

Ya, dia lelaki terhebat. Sakitnya tak membuat ia lupa beribadah kepada Allah. Shalat dhuha tak pernah ia tinggalkan meski ia harus melalukan semua shalat dalam keadaan duduk. Tatkala kutanyakan tentang kesehatan bapak, dia hanya mengatakan ‘sabar’. Masyaa Allah, sebuah perkara yang tidak mudah. Sabar begitu sulit jika seseorang tidak memiliki hati yang lapang untuk menerima segala takdir dari Allah.

Demi Allah, aku menuliskan cerita ini bukan untuk berbangga-bangga, bukan pula untuk memuji-muji bapak. Cerita ini semata tertullis agar yang lain dapat mengambil pelajaran berharga tentang semangat dan kesabaran. Dan lelaki hebat, tentu bukan bapak satu-satunya. Masih banyak orang-orang hebat di luar sana yang bisa kita ambil ibrah dari setiap kisah hidupnya. Dan yang terhebat di antara yang hebat adalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, laki-laki teladan sepanjang masa.

Dan untuk bapak, semoga Allah selalu memberkahi beliau, memberi berjuta kesabaran dan menjadikan setiap sakit sebagai penebus dosa-dosa. Aamiin…

_Nurhudayanti Saleh_ (Jogja, 22/04/2015. Tulisan yang tertunda)

2 thoughts on “Lelaki Hebat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s