Akhlak dan Nasehat · Sirah

Cintakah Kau Padaku?

brokenheart

Di antara ribuan rintik hujan dan di tengah dinginnya malam, aku kembali harus menjatuhkan butiran hangat itu. Ia mengalir membasahi kedua pipi enggan berhenti. Ia bemula dari sebuah rasa yang bergejolak di dalam hati. Cintakah kau padaku?

Sekali lagi dan berkali-kali aku menatap barisan kata-kata itu. Bahkan semakin lama aku menatap, semakin sakit di dalam sini, hati. Sebuah kisah yang telah kubaca dulu, pun telah kupahami akhirnya. Kisah yang begitu pilu nan syahdu.

Asma binti Abu Bakar. Ia salah satu seorang sahabiyah yang sangat terpandang dan disegani. Ia memiliki akhlak yang terpuji dan begitu pemberani. Dialah wanita tangguh yang diberi gelar dua ikat pinggang oleh sang kekasih Rabbi. Dia anak dari seorang sahabat yang tak diragukan keimanannya setelah Nabi. Kebaikan agama dan keluarganya itulah yang membuat Zubair, lelaki pendamping Rasulullah yang dijamin Surga meminang Asma dan menjadikan ia ratu di dalam rumah tangga mereka.

Jangan tanyakan perasaan di dalam hatinya. Asma begitu bahagia karena telah menikah dengan laki-laki yang diam-diam ia kagumi. Rasa kagum kini telah berubah menjadi cinta yang begitu besar dan tulus. Cinta Asma pada Zubair membuatnya tak sekalipun mengeluh atas apapun. Asma yang dulunya anak seorang sodagar terpandang tak keberatan bekerja di kebun kurma dan mencarikan rumput untuk kuda suaminya.

Karena cintanya yang besar pula, Asma mampu menjaga perasaan suaminya yang sedikit pencemburu. Suatu ketika Asma pulang menempuh perjalanan 3.4 km dari kebun kurma miliki suaminya dengan membawa berkilo-kilo kurma. Saat itu ia bertemu rombongan Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam. Rasulullah kemudian menawari tumpangan kepada Asma untuk naik ke unta beliau namun dengan santun Asma menolak sebab ia tak ingin meyakiti perasaan suaminya, laki-laki yang ia cintai dengan segenap jiwa dan raganya.

Pernikahan Asma dan Zubair berjalan harmonis. Dari pernikahan mereka lahirlah anak-anak yang tangguh; Abdullah, Urwah, Al Mundzir, Ashim, Al Muhajir, Khadijah Al Kubra, Ummul Hasan, dan Aisyah. Namun, setelah memutuskan menikah lagi dengan wanita lain yang terkenal akan kecantikannya yakni Atikah binti Zaid, biduk rumah tangga Asma dan Zubair mulai goyah.

Zubair yang memiliki sifat pencemburu harus ekstra menjaga Atikah yang bahkan gerak-geriknya mampu menggelorakan cinta setiap laki-laki yang melihatnya. Dan inilah sumber petaka itu. Perhatian Zubair yang begitu besar pada Atikah, yang belum pernah sekalipun Asma dapatkan sebelumnya membuat wanita pemberani ini bertanya-tanya di dalam hatinya; Az Zubair, kau memberikan kepadaku segalanya. Menanamkan benih-benih hebat pejuang tauhid. Kau mengokohkanku dengan kisah-kisah pengorbanan tulus dalam setiap desahmu. Kau memberikan segalanya, kecuali cinta yang bergelora. Az Zubair suamiku, jenis cinta apakah yang kau miliki untukku?

Akhirnya, setelah beberapa saat berlalu Zubair mengabulkan permintaan Asma. Mereka bercerai setelah mengarungi bahtera pernikahan selama 28 tahun. Mendengar kabar pilu itu, ayah Asma yakni Abu Bakar menghibur putrinya dengan berkata; Putriku, sabarlah. Jika seorang wanita mempunyai suami yang shalih dan dia meninggal, lalu wanita itu tidak menikah setelah itu, mereka akan dipersatukan kembali di Surga. Dan karena perkataan ayahnya itulah, Asma tidak menikah lagi setelah bercerai dari Zubair.

***

Tak perlu menduga-duga bahkan sampai menuduh Zubair tak setia atau Atikah perebut cinta. Keputusan yang telah diambil oleh ketiganya tentulah melewati pertimbangan yang matang dan penuh hikmah. Bukankankah ketiganya adalah orang-orang terbaik yang keimanannya tak bisa kita bandingkan dengan keimanan umat Islam saat ini?

Menikah mungkin sulit namun ternyata mempertahankan pernikahan itu jauh lebih sulit. Perceraian bukanlah sesuatu yang disukai Allah, namun perceraian akan menjadi pilihan tatkala tetap bersama hanya membawa sengsara.

Mari perhatikan saja cinta Asma terhadap suamianya Zubair. Tidakkah cinta Asma begitu menggugah? Bisa jadi Asma memilih berpisah dari laki-laki yang ia cintai agar ia tetap bisa memelihara cinta itu, karena ketika tetap bersama dan melihat perhatian Zubair kepada Atikah membuat hati Asma benci dan tidak lagi mencintai Zubair.

Asma memilih berpisah dan membawa rasa cinta itu bersamanya. Ia memutuskan tak ingin lagi menikah sampai akhir hidupnya. Ia ingin cintanya yang besar dan tulus hanya untuk satu laki-laki saja yakni Zubair bin Awwam, tidak hanya di dunia tapi juga di Surga. Dan ketika kelak mereka dipertemukan kembali, (mungkin) Asma akan menanyakan pertanyaan yang selama ini belum pernah ia temukan jawabannya; Az Zubair suamiku, Cintakah kau padaku?

_Nurhudayanti Saleh_ (Jogja, 20-01-2015, di antara sunyi dan gemericik air yang jatuh satu-satu)

3 thoughts on “Cintakah Kau Padaku?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s