Diposkan pada Akhlak dan Nasehat

Demi Dakwah, Aku Menikah

menikah-jauzaaSetiap wanita di luar sana tentu memiliki impian. Salah satu daftar impian terbesar seorang wanita adalah menikah dan hidup bahagia dengan sang pasangan. Di benak banyak wanita, setelah ia menikah ia akan hidup penuh romantisme bak pasangan Drama Korea tanpa gangguan dari siapapun dan apapun.

Sang wanita bermimpi, ketika telah menikah ia akan senantiasa memanjakan suaminya, membuatkan sarapan di pagi hari dengan penuh cinta, duduk-duduk bersama di sebuah sore sembari menikmati teh hangat dan cemilan, obrolan mereka tentang masa depan yang indah dengan bayangan anak-anak yang lucu dan menggemaskan, dan jika malam telah tiba mereka akan saling mengucap kata mesra lebih dari biasanya dan setelah itu…, ah jangan ditanya.

Salahkah? Tidak sama sekali. Semua wanita yang berakal sehat tentu meninginkan hal yang demikian, yang membahagiakan. Dan itu juga impian kami. Tapi, rupanya ada yang terlewat dari agenda kemesraan kita dengan pasangan selama ini, terutama bagi mereka yang mengaku pengemban dakwah.

Tidak sedikit wanita yang sebelumnya adalah penggerak dakwah, setelah menikah ia tidak lagi leluasa seperti ketika masih sendiri. Ia tidak lagi bisa menghadiri musyawarah dan kegiatan dakwah lainnya. Alasannya macam-macam; ada yang sudah punya agenda dengan keluarga, ada yang ingin liburan dengan suami, ada yang pekerjaan rumahnya menumpuk, ada yang anaknya rewel, dan masih seabrek lagi alasan lainnya. Bahasannya sehari-hari tidak lagi seperti dulu yang diramaikan dengan problematika ummat saat ini. Kini, setelah ia menikah obrolannya bergeser tentang bagaimana perekonomian rumah tangga, perkembangan anak-anak, dan lain sebagainya.

Salahkah? Sekali lagi kami menjawab tidak. Berbakti pada suami, mengurus rumah tangga, membesarkan dan mendidik anak memang sudah menjadi kewajiban seorang isteri sekaligus ibu. Mengatur keuangan, belanja sana sini memang sudah menjadi tugas seorang ibu rumah tangga. Tidak salah. Hanya saja ketika semua kesibukan (baru) itu menjadi alasan kita tidak lagi mengemban dakwah, menjadi alasan kita bermalas-malasan datang musyawarah, menjadi alasan kita tidak lagi memikirkan ummat ini, maka di sinilah letak kekeliruannya.

Perhatikanlah di luar sana. Tidakkah kita melihat ketika musyawarah, para ummahat ada yang tetap datang membawa anak-anak mereka? Ada yang membawa anak-anak mereka yang masih merah dalam gendongan, ada juga yang datang dengan membawa segerombolan anak mereka yang masih kecil-kecil lari ke sana dan ke sini. Bahkan ada ummahat yang tetap datang meski harus membawa empat anaknya di atas motor. Jangan tanya bagaiamana caranya. Cara itu ada ketika kita punya keinginan besar. Bukankah Allah akan menolong hamba-Nya yang juga menolong agama Allah.

Tidak semua ummahat yang datang, meninggalkan rumah-rumah mereka dalam keadaan rapih dan bersih. Ada yang datang dan meninggalkan cucian yang belum sempat dijemur. Ada yang datang dan meninggalkan rumah yang belum disapu. Ada juga yang datang dan meninggalkan kamar yang masih berantakan. Hal ini bukan menunjukkan sebuah kemalasan, tapi ini menunjukkan sebuah prioritas, menunjukkan bahwa perkara akhirat jauh lebih penting dibandingkan perkara dunia yang sudah seharusnya kita letakkan diurutan kedua.

Karena demikian pentingnya perkara akhirat, perkara dakwah, maka impian kami tentang pernikahan sudah mengalami banyak rekonstruksi di sana sini. Jika dulunya kami bermimpi akan menghabiskan waktu bersama suami dengan obrolan santai penuh kata-kata cinta, kini yang ada di benak kami adalah menghabiskan waktu bersama dengannya sembari membahas tentang problematika ummat saat ini, membahas bagaimana strategi dakwah agar tepat sasaran, dan bagaimana agar seluruh muslim bisa mengenal agamanya lebih baik lagi.

Kini impian kami adalah saling mendukung dalam mengemban dakwah ini. Kami bermimpi bahwa pernikahan kami adalah pernikahan yang saling tolong-menolong dalam dakwah, saling mendukung, saling bahu-membahu. Jika ada masalah, suami akan menjadi teman baik dalam memberikan solusi. Jika harus ikut musyawarah, suami akan sigap dan siap mengantar kemana saja. Dan ketika semangat ini kendur, suamilah yang membuatnya teguh dan tegak kembali. Dan begitupun sebaliknya, sebagai isteri, kita mampu menjadi partner terbaik untuk suami dalam mengemban tugas mulia ini, yakni dakwah di jalan Allah.

Namun, impian indah ini tentu tidak akan terwujud manakala hanya salah satu pihak yang menjadikan dirinya pengemban dakwah sementara yang lain hanya mencukupkan diri dengan amal pribadi. Namun, impian indah ini akan sulit terwujud manakala dua orang disatukan dalam sebuah ikatan pernikahan padahal tidak memiliki kesamaan visi dan misi.

Memimpikan sebuah pernikahan yang penuh kemesraan tidaklah salah, hanya saja alangkah lebih indah ketika kita bisa membangun kemesraan itu dalam dakwah, alangkah lebih indah ketika kemesraan itu mampu menopang kerja-kerja dan semangat kita dalam berdakwah. Alangkah lebih indah ketika pernikahan kita semakin menguatkan kita dalam barisan dakwah.

Kami teringat salah satu celetukan sahabat kami yang cukup menggelitik hati; menikah itu bukan hanya ada bunga dan kupu-kupu, tapi juga ada ulat bulu. Menikah itu bukan hanya tentang kamu dan dia, tapi tentang semua ummat Islam di mana pun berada. Menikah itu bukan hanya tentang mengespresikan cinta kepada dia, tapi juga kepada seluruh manusia. Ya, karenanya ketika kami menikah (kelak), kami ingin semua demi dakwah.

_Nurhudayanti Saleh_ (Jogja, 23 Desember 2014, ketika impian itu belum terwujud ^^)

Iklan

2 tanggapan untuk “Demi Dakwah, Aku Menikah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s