Akhlak dan Nasehat

Menilai Seseorang

Bismillah.

Segala puji bagi Allah Azza Wajalla yang hingga detik ini masih memberikan kita usia. Salawat dan salam tak lupa kita kirimkan kepada baginda Rasulullah Sallallahu’alaihi wasallam, pada keluarga beliau, sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, serta seluruh umat Islam yang senantiasa berjalan di jalan Allah hingga yaumil akhir.

Malam ini ada sebuah pernyataan yang menggelitik hati saya ketika membacanya. Jangan terlalu menduga-duga, ini bukan soal cinta. Kali ini saya akan menulis tentang penilaian seseorang terhadap orang lain.

Don’t judge a book by cover; jangan menilai sebuah buku dari sampulnya, ungkapan atau pribahasa yang berasal dari Negara Barat ini sudah cukup familiar di telinga kita. Kebanyakan dari kita menggunakan kalimat ini sebagai ‘pembela’ untuk sesuatu yang kita tidak senangi atau yang bertentangan dengan kebiasaan kita.

Saya tidak ingin berbasa-basi, ungkapan inilah yang berhasil menggelitik hati dan akal sehat saya. Saya selalu berpikir hati-hati ketika saya mendengar atau membaca ungkapan ini di sebuah kenyataan yang kurang tepat.

Misalnya begini, ketika kita melihat seorang muslimah berjilbab, tidak jarang dari kita akan mengatakan; jangan menilainya dari penampilan, dengan maksud kita menaruh curiga bahwa wanita yang berjilbab tersebut belum tentu seorang muslimah yang baik, belum tentu hatinya sebagus penampilannya.

Atau sebaliknya, ketika kita melihat seorang muslimah yang tidak berjilbab kita juga tidak jarang mengatakan; jangan menilai dari penampilannya, yang mengandung artian sebaliknya, bahwa kita beranggapan muslimah yang tidak berjilbab tersebut belum tentu muslimah yang buruk akhlaknya. Bisa jadi dia lebih baik dari yang berjilbab tadi.

Begitu juga ketika kita melihat seorang laki-laki yang berjenggot dan bercelana cingkrang. Atau sebaliknya, melihat laki-laki yang tidak berjenggot dan berpenampilan isbal. Kita selalu salah kaprah, salah menempatkan ungkapan don’t jugde a book by cover.

Sebenarnya saya sudah berulang kali menulis dan membahas tema yang satu ini lewat status, tapi sepertinya saya perlu menulisnya lebih detail, lebih mendalam, lebih rinci, agar mudah untuk dipahami.

Sahabat, tahukah apa perbedaan dua kasus yang sebelumnya telah saya tuliskan sebagai contoh? Perbedaannya adalah pada kasus pertama kita condong menaruh curiga atau lebih tepatnya menilai buruk pada sesuatu yang tidak bisa kita lihat dengan kedua mata kita, yakni hati. Sementara pada kasus yang kedua kita coba ‘membela’ atau dengan kata lain memberi penilaian baik pada sesuatu yang dapat terlihat oleh indra penglihatan kita, yakni penampilan lahiriyah/jasad.

Sekarang izinkan saya bertanya dan mari menjawabnya dengan jujur. Manakah yang lebih bisa kita nilai, yang terlihat oleh mata atau yang tidak terlihat? Manakah yang penilaiannya lebih akurat, yang terlihat atau yang tak terlihat? Contoh, ketika kita melihat sebuah kain yang meneteskan air di ujung sisinya, tentu kita bisa dengan tepat mengatakan bahwa kain itu basah bukan? Lalu bagaimana jika kain tersebut saya sembunyikan di dalam sebuah peti kayu, apakah kita bisa menebak kain itu basah atau kering hanya dengan melihat petinya?

Sampai di sini, sudahkah sahabat mengerti arah pertanyaan-pertanyaan di atas. Baiklah akan saya paparkan lebih jelas. Ketika kita melihat seseorang dan ingin menilai baik buruknya, maka yang bisa kita jadikan tolak ukur adalah penampilan luarnya, lahiriahnya saja, karena hanya sebatas itu yang bisa kita jangkau dengan kedua mata. Kita tidak bisa menilai baik buruk seseorang dari hati mereka, karena kita tidak bisa melihatnya. Bukankah begitu?

Karenanya, ketika ternyata menilai seseorang itu hanya bisa kita lakukan dengan melihat lahiriahnya (luarnya/penampilannya), maka sudah pasti tidak ada perbedaan pandangan antara kita semua. Ketika kita melihat muslimah yang berjilbab maka kita akan sepakat mengatakan bahwa dia adalah wanita yang baik, yang shalihah karena telah taat pada perintah Allah yakni menutup aurat. Sebaliknya ketika kita melihat muslimah yang tidak berjilbab, maka kita pun sepakat bahwa dia adalah wanita yang (maaf) kurang baik, karena telah melanggar perintah Allah. Begitu juga ketika kita menilai seorang muslim (laki-laki).

Tak perlu kita berlelah-lelah menilai seseorang dari hatinya karena hal tersebut bukan menjadi hak kita. Perkara hati adalah hak Allah. Allah lah yang berhak menilainya karena hanya Allah yang tahu setiap isi hati seorang hamba. Cukuplah kita mengingat hadist Rasulullah:

“Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila dia baik maka jasad tersebut akan menjadi baik, dan sebaliknya apabila dia buruk maka jasad tersebut akan menjadi buruk, Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah Qolbu yaitu hati.” ( Hadis Riwayat Bukhori ).

Sejatinya ketika kita bisa dan mau menyimak dengan baik isi hadits di atas, kita akan menemukan secara umum rumus yang tepat untuk menghubungkan antara penampilan lahiriyah seseorang dengan hati-hati mereka. Bukankah dikatakan bahwa ketika hati baik, maka baik pula jasadnya, penampilannya?

Kalau begitu, ketika kita melihat seseorang berpenampilan baik, sesuai dengan syariat Allah yakni yang muslimah dengan berjilbab dan yang muslim dengan berjenggot dan tidak isbal, maka bisa dikatakan bahwa hati mereka juga baik, karena jasad atau penampilan lahiriyah adalah cerminan hati seseorang. Sebaliknya, ketika kita melihat seseorang yang penampilan lahiriahnya atau pakaiannya tidak baik, jauh dari apa yang diajarkan oleh Allah dan Rasulullah, maka dapat kita katakan bahwa hatinya pun juga demikian.

Meskipun kembali lagi secara khusus dan detail hati setiap hamba itu hanya Allah yang tahu persisnya. Dan tentu saja, sebaik-baik dari kita, adalah yang baik penampilannya (memakai pakaian ketakwaan) dan juga baik hatinya, jangan setengah-setangah. Bukankah dikatakan bahwa masuklah ke dalam Islam secara kaaffah (menyeluruh)?

Dikatakan menyeluruh ketika kita melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Bukan melaksanakan apa yang sesuai keinginan atau yang meguntungkan kita dan tidak melaksanakan apa-apa yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Misal, kita melaksanakan puasa yang diperintahkan oleh Allah karena puasa bisa membuat tubuh kita jadi ideal (langsing). Tapi kita tidak berjilbab karena kita merasa dengan jilbab (atau bagi laki-laki tidak isbal) kita terlihat kuno. Padahal, kita tahu betul bahwa kedua hal tersebut, yakni puasa dan berjilbab hukumnya sama-sama wajib. Benar?

Sahabat, sungguh Islam adalah agama yang paling sempurna, paling mulia, dan sangat istimewa. Mengapa demikian? Karena Islam adalah satu-satunya agama yang mengatur segala perkara yang ada di dunia, dari yang besar hingga perkara yang paling kecil sekalipun.

Jika buang hajad saja diatur di dalam Islam, maka apatah lagi dalam hal berpakaian. Bukankah Allah berfirman; bahwa telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada diri Rasulullah, hal ini sangat jelas memberitahukan kepada kita bahwa ketika kita ingin Islam kita benar, maka ikutilah Rasulullah, termasuk dalam hal cara berakaian. Bukan malah mengikuti kebiasaan berpakaian orang-orang kafir.

Sahabat, bukankah ketika hati seseorang baik, ketika seseorang itu shalih dan shalihah maka ia akan mengikuti Rasulullah? Ya, jawabannya tentu saja YA. Ketika seseorang mengaku taat kepada Allah, maka ia akan mencontoh Rasulullah, ketika ia mencontoh Rasulullah maka tentu dia tidak akan berpakaian melewati mata kaki (isbal), dan terkhusus wanita tentu dia akan berjilbab sebagaimana isteri Rasulullah dan para sahabiyah.

Jadi dari paparan yang singkat ini, dapat kita simpulkan bahwa menilai seorang muslim dan muslimah tentulah (hanya) bisa kita lihat dari penampilan luarnya. Ketika ia shalih, maka ia akan berusaha menumbuhkan jenggot dan tidak isbal, dan ketika ia shalihah maka ia akan berjilbab ^_^

Dan ketika ada yang mengatakan; tidak semua yang tampak baik itu baik, maka cukuplah saya mengatakan; Allah adalah zat yang Maha Tahu. Dia tahu siapa yang benar-benar taat dan jujur di antara hamba-Nya.

Pertanyaan besar selanjutnya, sudahkah kita berusaha menjadi hamba yang taat? Sudahkah kita menjadikan Rasulullah sebagai contoh dalam segala hal? Sudahkah penampilan kita penampilan yang takwa?

Sahabat, catatan ini sungguh tidak bermaksud menyinggung siapa pun. Catatan ini hanya sebuah hujjah saya kelak di akhirat ketika ditanya oleh Allah tentang salah satu kewajiban kita yakni saling menasehati dalam kebaikan.

Karenanya bagi siapa pun yang merasa kurang berkenaan, saya meminta maaf. Semoga Allah menjaga kita dari perkara kesombongan. Dan semoga Allah menjadikan kita satu dari sekian hamba yang mendapatkan hidayah-Nya. Aamiin…

_Nurhudayanti Saleh_ (5,6 09 2014)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s