Diposkan pada Akhlak dan Nasehat, My Diary

Sang Pemimpi – Ketika Harus Memilih

Jogja, 11 Agustus 2014.

Pagi tadi, sehabis shalat subuh saya berencana menulis sebuah catatan. Malangnya, sampai sepuluh menit saya duduk di depan Lopita sembari memandanginya dengan khusyuk, tidak ada satu pun inspirasi yang menyambangi otak saya. Saya mulai prihatin dan bertanya-tanya pada diri saya sendiri; Apakah ini akir dari karir menulis saya? 😀

Tidak. Saya tidak mau menyerah. Satu-persatu file yang tersimpan di dalam folder My Story, saya klik dan baca. Saya membaca dengan penuh penghayatan. Lama. Saking lamanya, kelopak mata saya terangguk-angguk dibuatnya. Tapi lagi-lagi nihil. Meski saya sudah memancing dangan membaca catatan-catatan lama, ide itu tidak mau datang juga.

Okey. Saya putuskan untuk memejamkan mata dan membaringkan tubuh di atas kasur yang empuk berharap dengan begitu saya akan mendapatkan inspirasi lewat mimpi seperti beberapa catatan-catatan sebelumnya.

Beberapa jam berlalu, saya bangun dan langsung tergopoh-gopoh mengambil posisi di depan Lopita. Betul saja, tidur tadi memunculkan satu ide. Saya bermimpi. Dan di sinilah saya akan memulai cerita kali ini…

***

Semua mata memandangiku. Aku tahu hari ini akan tiba dan hal ini akan terjadi. Tidak apa karena aku sudah siap dengan semua resiko atas keputusan yang telah kuambil. Libur panjang lebaran telah berarkhir dan hari ini adalah hari pertama masuk mengajar (lagi).

Setelah berada di dalam ruangan, aku menurunkan kain yang sejak tadi menutupi wajahku lalu tersenyum pada semua orang yang tadinya menatapku penuh keheranan pun ketakutan. Ya ketakutan, karena yang tadi terlihat hanya kedua bola mataku.

Ramadhan lalu bisa kusebut sebagai Ramadhan terbaik yang pernah kulewati. Banyak hal yang kulakukan dan belum pernah kulakukan sebelumnya di bulan Ramadhan yang lain. Aku memutuskan setuju menjadi pemandu tahsin adik-adik UGM selama 20 hari pertama bulan Ramadhan, meski awalnya sempat meragu karena ingin fokus ibadah dan mencapai target-target yang telah kususun dengan apik.

Aku juga memutuskan tidak pulang untuk menikmati indahnya Ramadhan di lingkungan ideal, lingkungan para akhwat dan ikhwan, lingkungan para santri, lingkungan para penghafal Al-Qur’an. Semua terasa tidak sia-sia karena setiap malam saat tarawih, kami disuguhi bacaan Al-Qur’an yang sangat indah. Subhanallah. Ditambah dengan isi ceramah yang singkat namun begitu padat makna. Terkadang hatiku tersentak mendengar ceramah-ceramah tersebut karena menyadari betapa diri ini masih banyak dosa.

Di bulan Ramadhan ini pula aku bisa melakukan I’tikaf. Hal yang sangat mustahil kulakukan ketika memilih pulang. Masjid di kampung benar-benar tidak cocok untuk dipakai beritikaf bagi para akhwat, tak ada hijab dan tidak pula berlantai dua. Beda dengan di sini, masjidnya besar, akhwat di lantai dua dan ikhwan di lantai bawah. Buka dan sahur dijamu oleh para panitia. Kemudahan begitu terasa, jadi melewatkan momen dan kesempatan berharga seperti ini tentu akan merugi. Kapan lagi? Aku tidak bisa menjamin akan dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan, bukan?

Lalu di bulan Ramadhan ini pula aku akhirnya memberanikan diri, mengambil keputusan yang sejak dulu ingin aku lakukan. Aku memutuskan untuk menyempurnakan hijabku dengan bercadar. Keputusan yang tidak mudah karena akan menui banyak pertentangan serta rintangan.

Dan ketika aku baru saja memasuki gerbang sekolah dan menerima sambutan tatapan luar biasa, maka saat itu pula aku menyadari bahwa tantangan pertama baru saja akan dimulai.

Proses pembelajaran berjalan seperti biasa. Bermain bersama anak-anak adalah kesukaanku. Belum ada satu rekan kerja yang menyiggung tentang penampilan baruku. Tidak ada yang berubah, semua terasa baik-baik saja. Sampai akhirnya ketika akan pulang, kepala sekolah memanggilku untuk bertemu sebentar dengannya.

“Sebenarnya hal ini sudah dari dulu ingin sekali saya sampaikan kepada Bunda. Maaf sebelumya Bunda, kami dari pihak sekolah sebenarnya kurang srek dengan jilbab besar Bunda apalagi sekarang ditambah dengan cadar. Kami memberikan dua pilihan kepada Bunda; tetap mengajar di sini tapi dengan syarat penampilan Bunda bisa menyesuaikan dengan kami atau Bunda tetap dengan penampilan Bunda dan tidak bekerja lagi di sini.”

Aku tersenyum. Sejak awal aku sudah memprediksi hal ini akan terjadi. Ketika seorang hamba memutuskan untuk melaksanakan satu perintah dari-Nya dan menegakkan agama-Nya, maka di saat itu pula Allah akan menguji keimanannya.

“Sebenarnya saya juga ingin menyampaikan hal yang sama Bunda. Hanya saja saya menunggu waktu yang pas, dan ternyata hari inilah waktu yang saya tunggu-tunggu itu. Terima kasih Bunda, terima kasih atas kerja sama selama ini, terima kasih atas kebaikan bunda-bunda selama saya mengabdikan diri di sini. Selama mengajar di sini saya merasa sangat senang sekali. Sebenarnya sejak lama saya ingin mengundurkan diri Bun, saya ingin mengajar di tempat yang saya bisa merasa nyaman dan Alhamdulillah sudah ada.

Tapi sebelum meninggalkan sekolah, saya ingin menyampaikan beberapa hal. Mungkin selama ini Bunda bertanya-tanya mengapa jilbab saya sepanjang ini, mengapa penampilan saya seperti ini. Bukan maksud untuk menggurui Bunda, hanya saja ketika saya tidak menyampaikan hal ini rasanya saya sama saja tidak membela agama Allah, rasanya saya tidak menjalankan salah satu kewajiban saya yaitu menasehati dalam kebaikan.”

Akhirnya tanpa ragu aku membacakan sebuah ayat dalam Al-Qur’an; Al-Ahzab ayat 59 dan An-nur ayat 31. Tidak berhenti sampai di situ saja, aku juga menambahkan dengan beberapa hadits tentang syarat-syarat jilbab seorang muslimah.

Lega. Akhirnya apa yang selama ini tertahan di tenggorokan keluar tanpa hambatan. Tentu amat senang ketika apa yang kusampaikan mengena di hatinya dan menjadikannya ikut berubah. Namun jika tidak, maka tak mengapa karena yang terpenting adalah menasehati dalam kebaikan dan kebenaran, dan itulah kewajiban setiap muslim. Sementara tentang orang lain akan berubah atau tidak, maka itu menjadi hak Allah sepenuhnya.

“Hem…,” Kepala sekolah yang sedari tadi menyimak penjelasanku hanya merespon dengan ber-hem panjang.

***

Berakhir. Mimpi saya berakhir tepat ketika orang di dalam mimpi saya ber-hem panjang. Mimpi yang mungkin menjadi kenyataan. Dan ketika itu benar-benar menjadi nyata, maka saya berharap Allah memberikan keberanian yang sama tatkala saya akan menyampaikan nasehat-nasehat itu.

Sahabat, hidup di dunia memang penuh dengan pilihan. Kita sebagai hamba diberi ilmu pengetahuan untuk berfikir jalan mana yang akan kita pilih. Ketika kita memilih dunia, maka Allah akan memberikan kita dunia berupa kekayaan, harta, kedudukan, kemewahan, jabatan, dan lain sebagainya yang melenakan. Tapi ingat, ada resiko di setiap pilihan, Dan memilih dunia akan membuat kita mendapatkan neraka di akhirat kelak.

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Naazi’aat: 37-41)

Beda ketika memutuskan memilih akhirat. Ketika memilih akhirat, Allah tidak hanya memberikan kita akhirat yakni kenikmatan Surga, namun juga diberikannya kita dunia. Dan hal ini hanya bisa didapatkan oleh orang-orang yang sudah melewati berbagai ujian kehidupan dengan sukses.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar?” (QS. Ali-Imran: 142)

Sahabat, ketika kita sudah memilih bertahan di atas agama Allah, maka jangan takut barang sedikit pun. Yakinlah Allah akan menolong kita ketika kita menolong agama-Nya. Jangan takut kehilangan rezki, jangan takut kehilangan pekerjaan, jangan takut kehilangan teman, jangan takut kehilangan keluarga. Yakinlah, ketika Allah telah mencintai kita, maka orang-orang, teman, keluarga akan ikut mencintai kita bahkan seluruh alam akan ikut mencintai dan senantiasa mendoakan kita.

Rezki sudah Allah bagikan kepada setiap hamba. Tak ada yang bisa merebut rezki kita siapa pun dia. Maka jangan pernah gentar ketika harus kehilangan pekerjaan, ingatlah bahwa Bumi Allah (tempat kita mencari rezki) amatlah luas. Masih banyak pekerjaan dan tempat yang lain yang sedang menanti kedatangan kita.

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak.” (QS. An-Nisaa: 100)

Sahabat, ketika kita memilih berpegang teguh pada agama Allah, maka itu sudah cukup untuk kita. Tak ada lagi hal yang perlu kita cemaskan apalagi kita takutkan.

“Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.” (QS. Ali-Imran: 173)

Yah, cukuplah Allah menjadi penolong-penolong kita ^_^

_Nurhudayanti Saleh_

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s