Cerpen

Tetaplah di Sisiku

Terkadang perpisahan adalah pilihan terbaik. Dan siapa bilang dua orang yang telah berpisah sudah tidak bisa berhubungan baik. Semua pendapat itu ia buktikan dan patahkan. Ya, dia seorang laki-laki yang harus rela berpisah dengan wanita yang ia cintai demi sebuah cita-cita yang setiap laki-laki di manapun menginginkannya.

Sebut saja namanya Ridwan. Dia seorang guru di sebuah sekolah dasar. Saat itu ia menyukai seorang wanita yang telah memiliki empat orang anak. Banyak yang mengatakan kalau dia sudah ‘gila’, bagaimana bisa ia menyukai seorang janda beranak empat sementara gadis di luar sana masih begitu banyak dan tak sedikit pula dari gadis-gadis itu yang menyukai Ridwan.

Tapi Ridwan tidak peduli dengan perkataan orang-orang. Baginya status bukan satu-satunya syarat ia melamar seorang wanita. Kebaikan hati seorang wanita adalah hal yang utama, karena itu ia tidak ragu dan tidak pula berniat mundur meski selangkah. Ridwan mendatangi rumah wanita tersebut untuk menyatakan niat baiknya.

“Aku seorang janda dan punya empat anak, sementara kamu adalah seorang bujang. Apakah kamu tidak khawatir tentang perkataan orang-orang nanti? Tentu akan banyak fitnah di sana sini.”

Ridwan tersenyum. Dia tahu wanita itu akan menodongnya banyak pertanyaan. Dengan penuh keyakinan, Ridwan menjawab dan coba meyakinkan wanita itu kalau dia tidak akan terusik dengan anggapan orang-orang nanti. Biarlah mereka berkomentar sesuka hati mereka. Lambat laun semua omongan negatif itu akan hilang dengan sendirinya ketika Ridwan dan wanita itu tidak mempedulikannya.

Wanita itu tersenyum. Ridwan berhasil meyakinkannya. Mereka akhirnya menggelar pernikahan sederhana dan resmi menjadi sepasang suami isteri. Benar saja, tiga bulan pertama pernikahan mereka dihiasi dengan tanggapan miring para kerabat dan tetangga. Ada yang bilang Ridwan sudah terkena pelet, ada juga yang bilang kalau wanita beranak empat itu berhasil menggoda Ridwan dan akhirnya menikahinya. Tapi seperti janji Ridwan, dia tidak memperdulikan semua omongan itu. Dia menjalani hari-harinya seperti pasangan suami isteri yang lain, saling mendukung dan menyayangi.

Tiga bulan pun berlalu. Mereka melewatinya dengan sangat mulus. Semua tuduhan miring berangsur-angsur hilang dan tak terdengar lagi. Benar kata Ridwan, mereka yang sibuk mengguncing pada akhirnya akan lelah sendiri ketika tidak ditanggapi.

Pernikahan mereka berjalan tanpa hambatan berarti. Tahun demi tahun mereka lewati. Ridwan berhasil menjadi sosok ayah untuk keempat anak dari pernikahan terdahulu isterinya. Keempatnya tak ada yang memberontak atau menolak Ridwan. Semua begitu berjalan mulus bahkan lebih mulus dari perkiraannya selama ini.

Hingga pada suatu hari, sang isteri meminta satu permintaan yang sangat berat untuk Ridwan lakukan.

“Menikahlah lagi. Menikahlah dan ceraikan aku.”

Ridwan terpaku menatap isterinya. Tak ada sedih atau marah yang ia dapati di dua bola mata wanita itu, wanita yang telah mempercayakan hidupnya pada Ridwan selama bertahun-tahun.

“Menikahlah. Aku tidak mengapa. Aku sudah cukup mendapat kebaikanmu. Anak-anakku bisa bersekolah itu sudah cukup bagiku. Menikahlah dengan wanita yang akan melahirkan anak-anakmu. Karena tetap bersamaku hanya akan membuatmu menderita. Aku tidak akan punyak anak lagi, kamu tahu persis itu. Aku juga tahu betul kamu ingin menjadi seorang ayah dari darah dagingmu sendiri. Aku tahu betul kamu selama ini mengalah demi aku. Dan sekaranglah waktunya aku melepasmu. Ceraikan aku dan menikahlah dengan wanita lain.”

Ridwan menatap isterinya sekali lagi. Ada gemuruh yang tiba-tiba menguasai hatinya. Matanya basah karena sedih sekaligus terharu. Ia masih mencintai isterinya. Masih mencintainya. Ia pun memeluk sang isteri erat, sangat erat seolah tidak ingin melepaskannya untuk selamanya.

***

Kini, Ridwan adalah seorang kakek dari cucuk-cucuknya yang lucu. Dia bercerai dengan isterinya dan menikah dengan wanita lain, wanita yang langsung dipilihkan oleh isterinya dulu. Kehidupan keluarga mereka berjalan harmonis sementara hubungan Ridwan dengan mantan isterinya pun masih terjalin akrab layaknya saudara.

Mereka masih saling mengunjungi satu sama lain. Saat hari raya idul fitri ataupun idul adha tiba, mereka saling bersilaturahmi. Saat salah satu dari mereka akan mengadakan pesta, maka mereka akan saling mengundang satu sama lain.

Benang merah jodoh itu memang telah putus tapi tidak berarti hubungan antara keduanya ikut terputus. Sebaliknya, sang mantan isteri sangat mendukung keluarga baru Ridwan. Dulu, bahkan dialah yang sibuk mempersiapkan segalanya. Jika ada yang Ridwan sesali, maka itu hanya satu hal …

“Tetaplah di sisiku, Dik …”

“Maafkan aku, Kak. Sayangya aku tidak siap menerima tali merah ini bercabang dua. Aku hanya ingin tali merah ini tetap tertuju pada satu wanita saja dan itu bukan aku.”

Dulu, Ridwan pernah meminta isterinya untuk tetap bertahan di sampingya, bertahan meski ia akan menikah lagi dengan wanita lain. Isterinya tidak meragukan sikap adil Ridwan, dia hanya tidak yakin pada dirinya sendiri. Baginya, lebih mudah menyerahkan sesuatu yang bukan lagi menjadi miliknya daripada menyerahkan apa yang masih menjadi miliknya.

Ridwan menyesal karena tidak berhasil membujuk mantan isterinya agar tetap di sisinya. Tapi, tak mengapa. Saat ini semua jadi tak mengapa. Ridwan sadar inilah jalan terbaik yang memang harus ia tempuh. Dengan begini, dia akhirnya bisa menjadi seorang ayah dari anak kandungnya sendiri, hal yang setiap laki-laki menginginkannya. Dan dengan begini pula, hubungannya dengan sang mantan isteri tetap terjalin dengan baik.

Jodoh, saat ia pergi hanya ada dua pilihan di hati. Tetap memilihnya sebagai jodoh sejati meski sudah tak bisa bersama lagi atau menemukan jodoh yang baru dan memulai hidup baru.

_Nurhudayanti Sale_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s