Aqidah · My Diary

Jangan Asal Nonton

Saat orang-orang sibuk mengunjungi sanak saudara di awal-awal lebaran, saya dan tiga teman yang lain sibuk mengunjungi Museum Gunung Merapi. Yah, kami berempat adalah perantau yang ‘gagal’ mudik. Karena itu, daripada semedi di rumah tapi nggak kaya-kaya juga, lebih baik kami keluar sembari menambah pengetahuan tentang Merapi plus menambah koleksi foto di FB.

Jumat pagi yang cerah. Kami menembus hawa dingin jalan Kaliurang atas (20-an km). Pepohonan khas pegunungan seperti cemara, pinus, dan kawan-kawannya berbaris rapi menghiasi bukit-bukit yang kini mulai ‘ditumbuhi’ vila-vila di sana-sini. Ketika melihat salah satu vila, saya langsung teringat film televisi. Mungkin di salah satu vila itulah syuting FTV pernah dilakukan dengan judul Cintaku Tersangkut Anak Pak Desa dengan alur cerita penuh klise; orang kota ke desa kemudian jatuh cinta sama gadis desa yang cantiknya ngalahin gadis kota. Sayangnya, dunia film tidak (selalu) sama dengan dunia nyata. Kalau orang kota ke desa saya, nggak ada yang bakal jatuh cinta soalnya anak gadis udah pada nikah semua, yang belum nikah malah kabur ke kota dan baru saja memosting catatan ini.

Setelah puas berkeliling bukit-bukit yang saya tidak tahu namanya dan sarapan di salah satu rumah makan yang saya juga tidak tahu namanya, kami berempat menuju ke tujuan utama, Museum Gunung Merapi. Suasana masih terllihat sunyi. Momen ini tentu tidak kami lewatkan untuk mengambil beberapa foto; foto depan gedung, foto berdua, foto bertiga, foto sendiri, foto tampak depan, foto tampak belakang, foto di jalanan, foto di bawa lampu jalan, foto …, em, sepertinya ini bukan beberapa lagi😀

Memasuki gedung, kami langsung dijamu oleh miniatur gunung Merapi yang terlihat begitu gagah berani. Jangan tanya lagi, tentu saja kami juga mengambil beberapa gambar di depan miniatur itu. Bahkan kami sempat bermain-main di depan kamera CCTV yang gambarnya langsung terlihat di salah satu monitor di hadapan kami. Maklum anak desa masuk kota.

Di dalam Museum terdapat banyak miniatur dan foto-foto erupsi gunung Merapi dari tahun ke tahun. Ada juga koleksi batu-batuan, peralatan dapur penuh debu vulkanik, sampai motor yang terlihat rusak parah akibat terkena awan panas. Tapi ada satu yang saya bingungkan, kenapa di dalam gedung ada miniatur ruang tamu bergaya rumah jaman penjajahan Belanda dihiasi foto-foto Pak Soekarno? Apa perumusan proklamasi dulunya dekat gunung Merapi? -_-a

Dan yang lebih memprihatinkan lagi, di dalam ruangan serba putih itu ada meja dan empat kursi serta tulisan larangan untuk menduduki kursi-kursi tersebut. Wah, bagaimana ini? Bukankah kursi ada untuk kita duduki?

Lagi pula menurut saya, meja dan kursi sebagus itu kalau cuma buat pajangan rasanya sayang. Seolah-olah di Kaliurang sudah tidak ada orang miskin yang nggak punya kursi dan meja. Saran saya sih, boleh ada meja dan kursi tapi pastikan kursi dan mejanya adalah korban muntahan lahar Merapi. Kalau sudah begitu, nggak ada tulisan larangan pun, orang-orang juga nggak bakal mau duduk di situ😀

Selain banyak miniatur, foto-foto, dan benda korban Merapi, di museum juga disediakan ruang teater (bioskop mini) untuk menyaksikan film dokumenter gunung Merapi. Dan inilah yang sebenarnya menjadi inti dari catatan kali ini. Jadi, yang dari tadi saya bahas panjang lebar di awal baru prolognya saja.

Secara keseluruhan filmnya bagus, hanya saja yang saya sayangkan adalah unsur kesyirikan yang disisipi di dalam flm tersebut. Diceritakan bahwa Pantai Selatan, Keraton, dan Merapi memiliki garis penghubung secara mistis. Bahkan seorang teman pernah mengatakan bahwa sebenarnya kerajaan Nyi Roro Kidul itu letaknya di Merapi. Lalu teman saya yang lain bertanya: Kalau gitu kenapa Nyi Roro Kidul munculnya di Pantai Selatan?
Maka saya jawab saja; itu karena kamar mandinya di sana. Jadi banyangkan kalau Nyi Roro Kidul kebelet pengin buang air, belum sampai Pantai Selatan dia udah brojol duluan di Malioboro.

Karena mempercayai hal-hal tersebut, akhirnya setiap tahunnya masyarakat Jogja melakukan persembahan di Pantai Selatan dan juga Merapi sebagai rasa syukur, terimakasih, dan juga ‘sogokan’ biar Pantai Selatan dan Merapi tidak ‘mengamuk’. Bahkan menurut narasumber yang terpercaya, hal tersebut sudah masuk ke dalam program Pemda dan diberi anggaran tiap tahunnya. Astaghfirullah, bukankah itu sama saja memberi izin operasi pada rumah-rumah prostitusi. Kalau berzina saja sudah kita kategorikan dosa besar, maka ketahuilah sahabat, syirik dosanya jauh lebih besar. Bahkan kesyirikan merupakan dosa besar yang menduduki peringkat pertama.

Anehnya, ketika terjadi gempa di Pantai Selatan atau letusan di Merapi, masyarakat kebanyakan berasumsi bahwa itu karena sesaji yang diberikan kurang banyak, dan jadilah mereka kembali berbondong-bondong berbuat kesyirikan. Aduh, mama sayangeeee…, gempa dan gunung meletus bukan karena sesaji kurang tapi kitanya yang kurang sopan sama Allah.

Sekarang saya tanya, yang ngasih nafas siapa? Nyi Roro Kidul? Kalau kita nggak bisa buat nafas sendiri, gimana bisa Nyi Roro Kidul buat nafas untuk kita? Pan dia juga manusia biasa. Kalau ada yang bilang dia bukan manusia tapi jin, pan jin juga ciptaan Allah, kagak bisa buat nafas sendiri. Apalagi kalau ada yang bilang Nyi Roro Kidul itu legenda, ini lebih nggak masuk akal lagi. Bagaimana caranya sebuah legenda membuat nafas untuk manusia, dia aja belum tentu ada.

Jadi sebenarnya, kita tidak perlu lagi bertanya mengapa sering terjadi gempa, Merapi meletus, dan sebagainya. Bukan karena Nyi Roro Kidul sedang mandi, atau Merapi sedang batuk-batuk, tapi hal tersebut terjadi semata-mata karena kelakuan manusia itu sendiri. Misalkan saja begini; saya mencintai seseorang, saking cintanya, saya berkorban apa saja untuk dia; beliin dia pulsa, neraktir dia makan, bayarin tagihan hutang dia, ngasih dia uang saku tiap bulan, nyuciin baju kotornya, nyisirin rambutnya yang kutuan, dan sebagainya. Eh, tau-tau dia yang saya cintai dan mengaku mencintai saya malah memberi perhatian dan cintanya pada orang lain. Cemburu nggak? Marah nggak? Jawab!

Kalau saya saja yang cuma ngasih hal-hal kecil seperti itu lalu dikhianati marahnya bisa bikin pipi orang lain jadi merah-merah, maka ketahuilah om tante, rasa cinta Allah kepada kita jauh lebih besar. Pemberian-Nya pun jauh lebih banyak hingga tak mampu kita hitung satu-satu. Lantas pantaskah kita bersyukur pada selain Dia? Wajarkah ketika Dia ‘mengingatkan’ kita karena melupakan-Nya? Jawab!

Bukannya saya marah, saya hanya khawatir jangan sampai setelah orang lain menonton film dokumenter (Merapi) tersebut, orang-orang semakin percaya bahwa Merapi dan Nyi Roro Kidul punya andil dalam setiap bencana yang terjadi di Jogja selama ini.

Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak ada kekuatan selain Allah. Jika terjadi bencana di suatu tempat (baik yang tidak ada kesyirikan di dalamnya atau pun ada), itu karena Allah sedang menguji hamba-hamba-Nya, menguji iman dan kesabaran kita. Bukankah untuk naik kelas kita perlu mengikuti ujian terlebih dahulu? Maka untuk menaikkan level keimanan kita, kita juga perlu diuji. Siapa yang sabar dan tetap menge-Esakan Allah ketika ditimpa bencana atau musibah, maka dialah yang naik kelas.

Pilihan untuk yang tinggal kelas hanya ada dua, belajar dari setiap musibah/bencana yang terjadi agar naik kelas atau tetap melakukan kesyirikan dan tetap tinggal kelas. Ketika kita tetap tinggal kelas, itu artinya kita tidak akan lulus dan pada akhirnya DO, Drop Out. Lulus itu tempatnya Surga sementara DO tempatnya Neraka, begitu kira-kira.

Jadi, intinya kalau disajikan sebuah film jangan asal nonton. Ambillah hal-hal yang bermanfaat dan buang jauh-jauh hal-hal yang mendatangan mudharat. Dan jangan lupa kalau nonton film, carilah kekurangannya biar bisa jadi catatan di FB, eh😀

NB:

Kesyirikan tidak hanya berada di Jogja, hampir semua daerah terjangkit olehnya termasuk di kampung halaman saya sendiri. Itulah sebab mengapa kita harus menuntut ilmu agama. Kitalah nanti yang meneruskan dakwah tentang tauhid kepada orang tua kita, nenek kakek kita, saudara kita, teman-teman kita, adik-adik kita, tetangga kita, kucing kita.

Karena itu, adanya unsur kesyirikan di Jogja tidak serta merta menjadikan Jogja sebagai kota yang buruk. Tidak sama sekali. Sebagai pendatang, saya benar-benar merasa nyaman tinggal di Kota Pelajar ini. Dibanding Makassar, Jogja tidak ada apa-apanya dalam hal kemacetan dan kebisingan jalan raya. Kabar-kabar yang mengatakan bahwa masyarakat Jogja ramah dan sederhana memang benar adanya sehingga siapapun yang tinggal juga akan tertular keramahan dan kesederhanaan tersebut. Jadi, yuk ke Jogja ^_^

_Nurhudayanti Saleh_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s