My Diary

Tragedi Kematian Beruntun

Maaf, mungkin akan ada yang kecewa, tapi saya katakan sejak awal bahwa cerita ini tidak sehoror judulnya, tidak pula semisterius yang kalian bayangkan ketika membaca judulnya pertama kali. Yah, saya sengaja mengungkapkan hal ini di awal karena saya tidak mau setelah membaca sampai tuntas kalian mengatakan saya penipu kelas kakap padahal saya penipu kelas teri, eh. Maaf saya memang orangnya curigaan. Saya juga tidak mau menjadi seorang pembohong karena saya bagian dari bangsa Indonesia, bangsa yang jujur, bangsa yang mandiri, yang mampu berdiri dengan kakinya sendiri, bangsa yang bermartabat, yang tidak diinjak-injak oleh bangsa lain. Merdeka! Bukan begitu Pak Jokowi? Eh, Pak Prabowo?

Jadi begini ceritanya; bulan lalu sebelum pulang kampung, Dede (nama sebenarnya) menitipkan ikan peliharaannya di kosan kecil saya. Ia berpesan agar saya dan Mega sudi merawat ikan angkatnya itu dengan penuh kasih sayang meski belakangan saya tahu bukan kasih sayang yang kami perlukan untuk merawat kedelapan belas ikan itu tapi KESABARAN -_-

Di hari pertama ikan-ikan itu dititipkan, saya melihat mereka dengan tatapan menggemaskan. Ada si Nemo, ikan jenis koi (emang ada?) yang paling lincah dan lucu. Dia sangat aktif kesana kemari membentur kaca akuarium. Warnanya orange keemasan dengan ekor seperti terbelah dua. Si Nemo sangat senang menggoyang-goyangkan ekornya dan meliuk-liukkan badannya. Mungkin sebelum lahir dia ingin sekali menjadi seekor ular tapi sayang tidak kesampaian. Akhir-akhir ini saya berfikir nama Nemo tidak lagi pas disematkan padanya. Yang paling pas adalah nama Peci, lengkapnya Pecicilan😀

Berbeda 180 derajat dengan si Peci a.k.a Nemo, ada ikan yang kami beri nama si Autis. Warnanya hitam dengan belang putih. Dia begitu pendiam, tidak banyak bergerak, sukanya menyendiri. Seolah-olah di jidatnya tertulis besar tulisan DON’T Distrub ME. Sekali diusik, dia bisa bergerak cepat dan membalas si penganggu. Makanya hati-hati sama yang pendiam. Kalau pepatah bilang sih, diam-diam mengejutkan.

Lalu ada duo The Usil; Dua ikan yang terlihat sangat mirip. Mungkin mereka memang kembar identik. Warnanya hitam dengan bentuk tubuh memanjang. Hobi mereka adalah mengusili ikan lain terutama si Autis. Tak ada seekor ikan pun yang senang dengan keusilan mereka kecuali (tentu saja) si Peci, si Peci bukannya marah, dia malah senang bukan kepalang soalnya dia bisa berenang kesana kemari tanpa harus mendapat tatapan tuduhan (dari saya dan Mega) sebagai ikan ganjen. The Usil tidak pernah pandang bulu saat akan mengusuli ikan lainnya karena ikan memang nggak punya bulu. Ikan paling sangar sekalipun berani mereka ganggu apalagi hanya ikan-ikan kecil yang tidak punya kuasa atau kerabat yang punya kuasa. Yah begitulah negeri ini, yang kecil memang selalu ditindas, selalu diperlakukan tidak adil, selalu dibodohi.

Ada juga duo yang lain. Yang ini lebih seperti kakak adik, yang satu lebih kecil dari yang satunya lagi. Mungkin mereka pewujudan The Sister di dunia ikan. Warnanya putih dengan corak orange. Mereka terlihat ramah, sopan, murah senyum, serta bisa bersosialisasi dengan baik.

Kemudian ada segerombolan ikan mungil warna orange. Jumlahnya lima ekor dengan bentuk tubuh memanjang. Merekalah ikan terkecil yang berada di akuarium. Hobinya berenang-renang di dekat permukaan dan lompat keluar dari akuarium. Berulang kali saya mencoba bertanya mengapa mereka nekat keluar dari dalam air, tapi tak pernah seklipun mereka menjawab. Mungkin saya harus mencoba mengganti makanannya dengan uang, uang buka mulut.

Selanjutnya ada sekelompok ikan perak. Jumlahnya juga lima ekor dengan bentuk beragam, ada yang lonjong ada pula yang oval. Ekor dan siripnya berwarna orange kemerahan. Kelompok ikan ini tidak terlalu menarik perhatian. Mereka hanya seperti pelengkap agar akuaruim tidak terlihat kosong, kasihan.

Dan terakhir ada si Merah. Ikan yang satu ini tergolong ikan berukuran kecil. Sukanya nongkrong di sudut-sudut pot. Dia juga terlihat penyendiri. Bedanya dengan si Autis, paling tidak si Merah punya satu teman yaitu Pohon Air.

Singkat cerita, sejak hari pertama ikan itu dititipkan kepada kami hingga detik ini, jumlah mereka turun drastis. Dari delapan belas sekarang hanya tersisa seperduanya saja, sembilan ekor. Telah terjadi tragedi kematian beruntun di dalam akuarium. Sampai hari ini kami belum mengetahui penyebab kematian tersebut. Ada kecurigaan bahwa kematian mereka sebenarnya sebuah pembunuhan terencana dan pelakunya salah satu dari mereka yang masih hidup, begitulah kira-kira kalau seseorang terlalu banyak nonton film detektif😀

Yang pertama kali mati adalah salah satu ikan paling kecil. Kematiannya sungguh tragis. Dia lompat dari dalam akuarium dan jatuh entah di mana. Kami mencarinya ke semua tempat yang mungkin ia jangkau tapi hasilnya nihil. Sampai suatu pagi, Mega pulang kajian dengan tergopoh-gopoh. Dia mengatakan akan memperlihatkan sesuatu pada saya. Dengan cepat ia membuka buku Rigkasan Fikih Lengkap karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan. Saya menunggu dengan penuh tanda tanya, ada apa gerangan. Adakah ia telah menemukan calon suami untuk saya dan ia selipkan di salah satu halaman? Ah, mustahil.

“Lihat ini?” Katanya kala itu memperlihatkan sebuah halaman yang sisi dalamnya terlihat ada bercak aneh.

“Itu apa?” Saya bertanya dengan ekspresi tak kalah aneh.

“Ini itu…” Katanya membukan halaman berikutnya. “Ikan yang kemarin kita cari-cari…!” Katanya sedikit histeris.

“Innalillahi wa innailaihirajiun.” Hanya itu yang bisa saya ucapkan sembari memandangi bangkai ikan kecil tak berdosa. Ternyata ikat kecil itu lompat ke buku Mega yang kala itu sedang terbuka. Dan tanpa sadar Mega menutup buku super tebal itu dengan ikan masih ada di dalamnya.

Yah. Paling tidak ikan kecil itu mati dalam keadaan syahid. Bukankah menuntut ilmu agama sama derajatnya dengan berperang di jalan Allah? Sepertinya ikan kecil itu jenis ikan yang shalehah, mau belajar dan mendalami ilmu agama. Kalau kamu? Masa kalah sama ikan😀

Kemudian kematian tujuh ekor ikan lainnya menuyusul. Si Merah mati dan mayatnya kami temukan di samping sahabatnya, Pohon Air. Kemudian tiga si kecil ikut menyusul tak mau kalah. Lalu The Sister dan salah satu dari si Kembar. Jadi, yang masih tersisa adalah satu dari gerombolan ikan paling kecil, satu dari si Kembar, Peci, Autis, dan yang tak terkalahkan adalah kelompok ikan perak. Belum satu pun dari mereka yang close mic. Hem, mecurigakan.

Beberapa penyebab kematian bermunculan di kepala saya. Mungkin airnya kurang bersih, atau pembagian makanan yang tidak mereta, atau karena akuariumnya kurang besar. Tapi semua alasan itu terbantahkan. Kalau karena air, harusnya semua ikan mati atau paling tidak ikan yang sejenis semua mati, tapi kenyataannya tidak demikian. Kalau soal makanan, seharusnya salah satu si Kembar tidak mati karena dia termasuk ikan yang makannya banyak meski belum mengalahkan rekor Nemo yang paling banyak makannya plus paling panjang dan besar (maaf) tainya. Kalau soal akuarium, ini juga tidak bisa menjadi alasan. Logikanya, kalau alasan ukuran akuarium mestinya yang mati adalah ikan-ikan besar. Tapi ini? Malah ikan kecil yang kebanyakan menjadi korban.

Karena itu, tragedi kematian beruntun ini saya simpulkan sendiri bahwa mereka mati tidak lain karena umur mereka yang tidak panjang. Allah tentu telah menetapkan takdir yang terbaik bagi setiap makhluk-Nya. Dan tentang memelihara ikan, saat ini saya kurang setuju meski dulu saya juga tergoda untuk melakukannya, kecuali kalian memeliharanya di sungai atau di laut dan setelah besar ikan-ikan itu bisa dijual kan? Kalau dijual dapat uang kan? Kalau dapat uang bisa beli perabotan kan? Yak, biasa emak-emak.

Jika ikan-ikan itu bisa bicara, mungkin sejak awal saya sudah mendengar teriakan-teriakan protes mereka untuk dibebaskan dari akuarium. Sayangnya ini bukan ikan-ikan saya, kalau ikan saya sih udah dari kemarin saya lepas di Selokan Mataram depan kosan, terus mereka mati berjam’ah deh karena keracunan limbah popok, nah loh?

Dan buat Dede si empunya ikan, yang sabar ya. Semua memang hanya titipan dari Allah. Sah-sah saja ketika Allah mengambilnya kapanpun Dia mau. Saran Mbak, besok-besok kamu nggak usah pelihara ikan, pelihara yang lain aja. Melihara anak misalnya😉

_Nurhudayanti Saleh_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s