Akhlak dan Nasehat · My Diary

Ramadhan Ada Cerita

Ramadhan tinggal menghitung hari, bahkan kita sudah bisa menghitungnya dalam hitungan jam. Ah, ketika menulis kata Ramadhan yang terbayang pertama kali tentulah kebersamaan. Sahur bersama, buka puasa bersama, tarawih bersama, dan tadarrus bersama. Demi kebersamaan pula, anak yang sedang dalam rantauan pulang untuk berkumpul dengan keluarga, tidak peduli jarak dan biaya yang harus dihabiskan. Yah, Ramadhan memang selalu lekat dengan kebersamaan, kebersamaan keluarga yang begitu hangat dan menjadi momen yang selalu dinantikan setiap tahunnya.

Ramadhan juga selalu meninggalkan cerita istimewa. Ada yang tersenyum bahagia, tak jarang pula ada yang harus mengurai air mata. Seperti ramadhan kali ini, ia diawali dengan kabar pernikahan beberapa teman. Dan lagi-lagi tentu saja tentang kebersamaan. Mereka memutuskan menikah karena ingin melewati Ramadhan bersama-sama, beribadah bersama dalam balutan cinta yang halal.

Ketika Ramadhan datang, aku selalu teringat sebuah cerita lama. Cerita yang mungkin telah bosan dibaca oleh teman-teman namun tak pernah bosan untuk terus kuulang. Cerita yang meninggalkan kesan begitu mendalam hingga sulit untuk dilupakan.

Kala itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Suatu hari seorang pria bertubuh penuh lemak datang ke rumah kami membawakan kursi yang sudah ia ganti gabus dan kulitnya. Singkatnya, ia adalah seorang tukang pembuat kursi langganan orang tuaku. Ketika orang tuaku sedang menyambut kedatangan laki-laki itu di ruang tamu, aku bergegas masuk ke dalam dapur. Menatap teriknya matahari di luar rumah pastilah si tukang kursi sangat kehausan, pikirku kala itu.

Dengan cekatan dan hati-hati, aku kecil menyeduh secangkir teh. Aku meniru apa yang selalu dilakukan ibuku ketika seseorang datang ke rumah kami. Ibu selalu menjamu mereka minimal dengan secangkir teh hangat.

Kulangkahkan kakiku pelan-pelan. Kedua tanganku sedang membawa cangkir penuh berisi teh. Ujung-ujung jariku terasa gemetar sampai-sampai ketika aku meletakkan cangkir itu di atas meja, ada sedikit teh yang tumpah di atas piring kecil yang menjadi alas.

“Silakan diminum Om…” Kataku dengan senyum ramah dan langsung menuju pelukan ibu yang menatapku keheranan. Kala itu aku mengira ibuku keheranan karena itu pertama kalinya aku kecil menjamu tamu. Ternyata aku salah besar. Benar-benar salah mengartikan senyuman ibuku.

“Loh, kok Omnya dikasih minum Ti? Ini kan bulan Ramadhan sayang. Omnya lagi puasa.” Kata Ibu sembari tersenyum menatap kepolosanku. Ayahku serta merta tertawa dan mengelus kepalaku.

“Maaf ya Pak. Yah, anak-anak…” Lanjut Ayahku masih dengan sisa tawa kecilnya.

Oh, pantas saja ibuku tidak buru-buru masuk ke dapur ketika tukang kursi itu datang. Kukira Ibu lupa dengan kebiasaannya menjamu tamu.

“Tidak apa-apa kok Pak. Kebetulan hari ini saya sedang tidak berpuasa. Capek, banyak orderan…” Jawab laki-laki itu sembari tersenyum malu-malu.

Aku, Ayah, dan Ibu sungguh kaget mendengar jawaban fenomenal itu. Kupandangi Ayah dan Ibu bergantian, kutemukan senyuman canggung di bibir mereka. Aku kecil susah payah menahan tawa yang hampir pecah. Walah-walah ternyata bapak tukang kursi itu sedang tidak berpuasa padahal kala itu bulan Ramadhan, bulannya berpuasa, bulannya bersabar.

Begitulah. Itulah cerita yang selalu teringat pertama kali saat Ramadhan menjelang. Cerita yang sudah berpuluh-puluh tahun lamanya. Cerita yang masih banyak terjadi di zaman sekarang. Bahkan sekarang, banyak orang tidak berpuasa tanpa alasan, jika ada, maka alasannya karena kemalasan, naudzubillah…

Yuk sahabat, semangat menyambut Ramadhan. Semangat menyambut ladang pahala dengan banyak-banyak beribadah. Semangat menyambut cerita dan pengalaman baru di bulan suci nan mulia ^_^

_Nurhudayanti Saleh_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s