Akhlak dan Nasehat · My Diary

Jodoh – Sang Pemillik Biodata

Lagi-lagi tentang jodoh. Bukan karena saya belum menikah, bukan pula karena saya ingin segera menikah, tapi karena bahasan jodoh adalah bahasan yang tidak akan usang ditelan zaman, tidak pula bosan dibicarakan oleh para bujang.

Petang tadi seorang teman bercerita tentang keinginannya menikah dan proses pra ta’aruf yang sedang ia lakukan. Ia bahkan mengijinkan saya untuk membaca biodata seorang ikhwan yang hendak melakukan ta’aruf dengannya.

Saya sengaja melewatkan file foto sang ikhwan dan langsung saja membuka file biodatanya. Saya membaca dengan saksama sembari tersenyum. Mengapa pula saya begitu serius membaca biodata itu, sementra bukan saya yang dituju.

Saya membaca namanya yang ia samarkan, nomor teleponnya yang ia sensor sebagian, serta golongan darahnya yang kosong. Entah. Mungkin ia lupa golongan darahnya atau dia memang tak punya golongan darah😀

Dari situlah sebenarnya tulisan kali ini lahir. Dari biodata ikhwan yang entah bagaimana rupanya.

Saya cukup terharu membaca biodata ikhwan berdarah Jawa itu. Ia berasal dari kelurga sederhana bahkan tergolong tidak mampu. Ayahnya bekerja serabutan (buruh) dan ibunya seorang ibu rumah tangga (dulu, ibunya sempat bekerja sebagai buruh cuci). Dia anak ketiga dari lima bersaudara dan sampai saat ini hanya dia (di antara saudaranya yang lain) yang melanjutkan studi ke jenjang S1 dan S2 karena bantuan beasiswa.

Saya cukup terharu dengan kesiapannya menikah. Di tengah kehidupan keluarganya yang tidak tergolong mapan, dia berani mengambil keputusan yang memiliki tanggungjawab besar yaitu menikah. Keputusan yang tidak semua laki-laki dewasa di luar sana mampu melakukannya, meski sebenarnya banyak di antara mereka lebih mampu menikah dari segi finansial.

Keberanian ikhwan ini tentu beralasan. Dia laki-laki yang baik (atau mau menjadi baik) insya Allah. Dia percaya pada janji Allah, bahwa Allah telah menetapkan reseki setiap hamba dan bahwa Allah akan membukakan pintu reseki kepada setiap mereka yang telah menikah. Bahwa ia tidak akan kekurangan ketika ia telah merasa cukup.

Lalu selain tentang materi, ikhwan itu telah siap pula secara mental. Dia siap menerima orang asing dalam kehidupannya. Siap hidup bersama dengan seseorang yang belum pernah ia kenal sebelumnya. Ia siap menjadi imam dan kepala keluarga yang nantinya akan menanggung segala beban. Ia siap menerima segala kelebihan dan kekurangan wanita yang akan menjadi isterinya, yang mungkin tidak seperti harapannya. Kesiapan yang juga tak semua laki-laki di dunia ini memilikinya.

Dari biodata itu saya mencoba memetik dan memaparkan beberapa pelajaran untuk para ikhwan dan juga para akhwat di luar sana. Jika sekiranya kalian ingin menikah maka usahakanlah melalui jalan yang benar sesuai tuntunan Rasulullah. Mintalah seseorang yang kalian percaya, yang baik ilmu agmanya untuk mencarikanmu calon pasangan, entah itu ustads, murabbi, orangtua, atau sahabat.

Namun jika kalian memiliki kemampuan untuk mencari sendiri, maka carilah calon pasanganmu di tempat-tempat yang baik, seperti di masjid dan madrasah. Jangan pula kau menginginkan pasangan yang shaleh atau shalehah lantas kau cari dia di pasar atau tempat hiburan lainnya.

Jika telah kau temukan, maka segera temui walinya. Jangan malah kau ajak dia bermaksiat kepada Allah.

Jika keinginan menikah sudah tumbuh di hati kalian, maka itu berarti kesiapan turut tumbuh bersamanya. Tak ada cemas meski kau sedang menempuh kuliah. Menikah tidak akan menghambatmu menjadi sarjana. Yang menghambatmu hanyalah kemalasan. Jika sudah ada keinginan yang kuat, maka status menikah bukan masalah.

Jangan lupa mintalah ridha orang tua. Karena sungguh ridha Allah terletak pada ridha orang tua kita. Sekiranya ternyata orang tua kita tidak setuju dengan pilihan kita, maka hal pertama yang harus kita lakukan adalah membicarakannya dengan baik dan santun. Beri pengertian pada orang tua mengapa kalian memilih si fulan/fulanah. Jika setelah itu orang tua kita belum mau menerima, maka patuhilah. Carilah orang lain yang sekiranya memenuhi kriteria orang tua dan juga kriteia kita (shaleh/shalehah). Percayalah, masih banyak ikhwan dan akhwat di luar sana yang bisa kau jatuhi pilihan.

Terakhir, bersabarlah. Sekiranya kau sudah memiliki keinginan untuk menikah, lalu kau pun telah berusaha, namun Allah masih belum mempertemukan dirimu dengan dia, entah karena tidak sesuai dengan keinginan orang tua atau faktor lainnya, maka bersabarlah. Bersabarlah berusaha dan menunggu dalam doa. Bersabarlah dengan terus berpuasa sebagaimana anjuran Rasulullah. Bersabarlah, kerena jodoh akan datang pada waktunya ^_^

_Nurhudayanti Saleh_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s