Akhlak dan Nasehat

Kami Bukan Politisi Tapi Kami Tetap Memilih

Kita tidak bisa memungkiri bahwa Indonesia akan memilih tanggal 9 Juli 2014. Dalam Islam, memilih pemimpin adalah hal yang sangat penting dan sangat diperhatikan. Ada beberapa hal yang perlu kita lakukan sebelum memilih, agar kita mendapatkan pemimpin yang benar-benar shalih.

  1. Berdoalah kepada Allah, agar Dia memberikan kepada kita pemimpin yang shalih, amanah, bertanggungjawab, sebagaimana sabda Rasulullah:

“Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap dari kalian bertanggungawb atas apa yang dipimpinnya.”

Seorang ulama pernah berkata; Jika saja saya memiliki sebuah doa yang mustajab, maka saya akan berdoa untuk kebaikan seorang pemimpin bukan kebaikan untuk diriku. Karena kebaikan untukku hanya akan membawa satu kebaikan. Sementara kebaikan pemimpin akan membawa tiga kebaikan; kebaikan untuk Negara, Masayarakat, dan untuk diriku.

Janganlah kita meremehkan sebuah doa. Allah telah banyak mengisahkan tentang kekuatan doa dalam Al-Qur’an, di antaranya pada surah Al-Anbiya: 76.

“Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdoa, dan Kami memperkenankan doanya, lalu Kami selamatkan dia beserta keluarganya dari bencana yang besar.”

Lalu kemudian pada ayat-ayat berikutnya, bagaimana Nabi Ayub berdoa untuk kesembuhannya kemudian Allah mengabulkan doanya. Lalu Nabi Zakaria yang berdoa agar diberikan anak diusia tuanya, maka Allah serta-merta mengabulkan doanya dengan memberikan seorang anak yaitu Nabi Ayub.

Hal ini menegaskan bahwa jika kita mau berdoa, maka niscaya Allah akan mengabulkan doa kita.

Maka dari itu, berdoalah agar Allah memberikan pemimpin yang shalih karena pemimpin yang shalih akan menshalihkan masyarakatnya.

  1. Tolonglah agama Allah, niscaya Allah akan menolongmu.

Allah berfirman dalam surah Muhammad: 7.

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

Menolong agama Allah berarti menegakkan agama Allah, berjuang dalam menyebarkan agama Allah, berjihad melawan musuh-musuh Allah dalam bentuk apapun termasuk salah satu bentuknya adalah dengan memilih pemimpin yang shalih. Allah berfirman:

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, …” (An-Nur: 55)

Ketika kaum muslimin yang memimpin, maka yang muslim akan sejahtera dan yang kafir pantang dizhalimi, karena Islam adalah agama yang adil.

  1. Pemimpin adalah cerminan rakyatnya.

Allah berfirman:

“Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (Al-An’am: 129)

Hal ini mengisyaratkan bahwa jika masyaraknya dzalim, maka pemimpinnya pun akan dzalim.

Jadi, jika ingin pemimpin yang tidak berbuat dzalim, maka kita sebagai rakyat jangan berbuat dzalim. Ingin pemimpin yang jujur, maka kita sebagai masyarakat harus bersikap jujur.

Jangan berfikir kalau perbuatan rakyat tidak ada kaitannya dengan pemimpin. Sebagaimana sikap kita, maka begitulah pemimpin kita. Maka mari berbuat baik, agar kita mendapat pemimpin yang baik.

Nasehat:

–       Ketika menasehatkan seseorang untuk memilih salah seorang pemimpin maka cukuplah kita menyampaikan kriteria pemimpin yang baik. Jangan sampai kita terjatuh dalam gibah, mengumbar aib salah seorang calon pemimpin yang kita tidak senang jika orang lain memilihnya. Bukankah telah banyak media yang mengungkapkan setiap kelebihan dan kekurangan calon pemimpin yang darinya orang bisa menilai siapa yang lebih condong pada Islam dan siapa yang jauh, maka tak perlulah kita ikut dalam hal tersebut.

Menjawab Pertanyaan:

T: Bagaimana menyikapi perbedaan pendapat tentang keikutsertaan seseorang dalam pemilu. Sebagaian ulama membolehkan, sebagian lagi melarang?

J: Menyikapinya tentu dengan ilmu. Jangan hanya karena perbedaan tersebut lalu kita terpecah belah sampai menuduh kelompok yang berseberangan dengan kita sebagai keompok yang telah keluar dari ahlu sunnah bahkan kafir. Mereka yang ikut memilih tentu punya dalil yang kuat, yang tidak ikut memilih pun demikian. Maka cukuplah kita saling menghormati. Jika memang tak ikut memilih, maka maksimalkan pada doa. Jangan pula tak ikut memilih lantas tak ikut berdoa.

T: Ada yang mengatakan mereka tidak ikut memilih karena sistem yang dianut adalah demokasi yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulllah. Lalu apakah yang ikut memilih termasuk melakukan dosa?

J: Tidak ada perbedaan pendapat para ulama tentang sistem demokrasi. Semua bersepakat bahwa hal tersebut adalah warisan orang-orang kafir yang tidak bole kita ikuti. Yang menjadi perbedaan adalah apakah kita harus golput atau ikut memilih. Kembali lagi, bahwa kelompok yang ikut memilih tentu memiliki dalil, yang mana hal tersebut berkaitan dengan kemaslahatan ummat. Dikatakan bahwa; jika ada dua keadaan dimana salah satunya akan menimbulkan kemudharatan yang lebih besar ketika kita tidak memilih, maka kita harus memilih keadaan yang mudharatannya lebih sedikit dan kemaslahatan yang lebih banyak. Bukankah telah diketahui bahwa Agama ini (Islam) dibagun atas dasar kemaslahatan dalam penetapan syariatnya dan untuk menolak kerusakan.

Jadi, ketika tidak ikut memilih akan menimbulkan lebih banyak kemudharatan yaitu terpilihnya pemimpin yang jauh dari Islam, maka ikut memilih adalah langkah bijak untuk menghindari situasi tersebut. Dan hal tersebut bukan sebuah dosa. Wallahu’alam.

*Disadur dari: http://www.radiorodja.com/kami-bukan-politikus-ustadz-ahmad-zainuddin-lc/

_Nurhudayanti Saleh_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s