My Diary

1 Malam 2 Hari Untuk Ukhuwah (Mabit SMAN 1 Wonosari)

Jogja, 10 Mei 2014

Wajah-wajah itu nampak asing. Ada malu, senang, bercampur segan kudapati di sana, ada juga yang nampak biasa saja. Seragam batik masih melekat di tubuh mereka yang mulai lelah telah menempuh perjalanan selama dua jam dari Gunung Kidul ke Purwosari, Yogyakarta.

Aku dan teman-teman akhwat yang lain baru saja tiba di masjid. Seharusnya kamilah yang tiba lebih dulu menyambut mereka sebagai tamu. Tapi, kadar Allah kami terlambat entah berapa menit. Beruntung para ikhwan sudah menjamu, menyambut mereka di dalam masjid megah nan kokoh, masjid yang diluar ekspektasiku. Tadinya kukira kami akan bermalam di sebuah masjid kecil layaknya masjid-masjid perkampungan. Tapi aku salah. Masjid yang ini memang berada di tengah desa tapi arsitekturnya seperti di Madinah, Subhanallah.

Kami bergegas menuju lantai dua Masjid Al-Hidayah, tempat khusus para akhwat. Nampak beberapa karpet telah terbentang rapi. Aku tersenyum, di situlah malam ini mereka akan tidur bersama kami, adik-adik siswi SMAN 1 Wonosari. Hanya beberapa akhwat yang turun ke lantai satu mendampingi para siswi yang mengikuti pembukaan mabit hari ini. Mabit yang akan dipandu dan didampingi oleh kami, kakak-kakak dari MSC dan Lidmi.

Matahari sedikit demi sedikit nampak menghilang di sebelah barat. Petang mulai datang dan adik-adik sudah bersiap untuk shalat maghrib berjama’ah. Begitupula kami, bergegas menyiapkan diri sembari menyapa ramah mereka dan berkenalan ringan layaknya dua orang yang baru bertemu dan akan selalu bertemu dua hari satu malam ini.

Setelah shalat maghrib, adik-adik siswi diikutkan pada kajian rutin Masjid Al-Hidayah sementara yang laki-laki diajak silaturahim ke asrama pondok Mahasiswa Al-Madinah, begitulah yang aku tahu. Tepat saat kajian akan dimulai, aku berjalan masuk dan duduk di dekat seorang adik berkacamata. Ia tersenyum dan menyapaku ramah. Kami pun berkenalan singkat, dia menyebut namanya dan aku menyebutkan namaku. Amel, begitulah ia sering dipanggil. Di perkenalan dan pertemuan pertama kami, adik manis itu langsung menyerangku dengan sebuah pertanyaan…

“Mbak, gimana sih caranya biar istiqamah berhijab (berjilbab)?”

Aku tersenyum menatapnya. Ada semangat kebaikan yang memancar dari binar matanya. Kujawab pertanyaannya semampuku.

“Hem, caranya banyak Dek. Salah satunya adalah menuntut ilmu agama. Kalau kita ingin istiqamah berjilbab, harus tahu dulu ilmunya, kenapa adek harus berjilbab? Dalilnya apa? Dan jilbab yang syar’i itu seperti apa? Intinya, ilmu dulu baru beramal karena dengan ilmu kita bisa tetap istiqamah beramal di manapun, baik sedang berada bersama orang-orang yang shaleh atau di tengah-tengah orang awam bahkan non muslim sekalipun.”

Begitulah perkenalan kami, perkenalan yang tentu saja tidak akan terlupa. Bagiku yang pertama selalu mendapat tempat istimewa. Kemudian kami sama-sama khusyuk mendengarkan isi pengajian yang dibawakan oleh Ummu Habibah. Pengajian tersebut berlangsung tidak lama, dari ba’da maghrib hingga isya tiba.

Rakaat demi rakaat telah terlaksana. Setelah shalat isya, adik-adik perempuan kembali ke lantai dua. Dan di sinilah peran kami sebagai pendamping mereka, mengajak mereka berkenalan secara resmi, mengajak mereka bermain, dan membuat mereka senyaman mungkin dengan kami, bahwa saat ini kamilah saudara mereka, kakak-kakak mereka yang siap membantu dan membimbing dalam segala hal.

Lingkaran telah terbentuk. Kami duduk bersila bersama adik-adik yang nampak semakin lelah. Di awal, aku dan Mega berperan sebagai MC-nya, berupaya untuk menghidupkan dan memeriahkan suasana, menghilangkan penat berganti senyum dan tawa.

Nisa adalah orang pertama (pendamping adik-adik) yang kami dapuk untuk memperkenalkan diri. Akhwat manis ini menyebutkan nama lengkap, nama panggilan, tempat ia kuliah, jurusan yang ia pilih, dan asal daerah. Begitu pula ketika tiba giliran akhwat yang lain. Sementara jika adik-adik SMAN 1 Wonosari yang mendapat gilian, maka mereka akan menyebutkan nama lengkap, nama panggilan, kelas, dan cita-cita mereka.

Setiap kali ada adik yang memperkenalkan diri, setiap kali itu pula aku akan berusaha membalasnya dengan tiga kata; Halo + Dek + Nama panggilan mereka, seperti Halo Dek Amel, Halo Dek Puji, Halo Dek Fionikan, dll. Sepanjang sesi ta’aruf, kami (terkhusus aku) berupaya untuk selalu membuat suasana menjadi menyenangkan. Guyonan-guyonan terlontar begitu saja tanpa terencana. Aku ingin adik-adik tetap mengenang malam kebersamaan kami, tidak sekedar lewat dan terlupakan begitu saja meski jelas pertemuan ini amatlah singkat.

Kegiatan selanjutnya adalah makan malam. Kami duduk di sisi-sisi masjid lantai dua. Berjama’ah menikmatai menu seadanya sembari mengenal lebih jauh satu dan yang lainnya. Setelah sukses mengisi perut, adik-adik turun ke lantai satu bergabung dengan para siswa untuk menerima sebuah materi yang dibawakan oleh Ust. Agung yang jika tidak salah ingat beliau adalah seorang dosen, alumni UGM dan alumni salah satu Universitas di Jepang. Beliau membawakan materi tentang pentingnya menuntut ilmu agama.

Sementara adik-adik sibuk mendengarkan dan mengikuti materi pertama di lantai satu, kami di lantai dua sibuk membubuhi kalimat-kalimat nasehat dan motivasi di lembar pertama buku saku yang akan menjadi hadiah kecil dari kami untuk mereka. Judul bukunya beragam dan jumlahnya lebih dari 40 buah.

Tidur, itulah yang mereka dan kami lakukan saat materi pertama telah usai. Jam di hape menunjukkan pukul sebelas lewat pertanda mata sudah harus mendapatkan haknya, terpejam. Sama seperti sebelum makan, sebelum tidur pun adik-adik diajarkan tentang apa saja adab-adab ketika akan tidur; dianjurkan berwudhu, membaca ayat kursi, surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Naas, membaca doa sebelum tidur lalu kemudian ditiupkan ke telapak tangan dan dari telapak tangan diusapkan ke wajah, tangan, dan juga kaki. Lalu disunnahkan tidur menghadap ke sebelah kanan.

Sunyi. Yang tersisa hanyalah suara-suara dengkuran halus dari adik-adik. Mereka nampak begitu lelap, tidur terlentang di atas karpet masjid. Aku dan akhwat yang lain juga sama, tidur di salah satu sudut masjid beralaskan tikar rotan dan sebuah karpet beludru hijau. Masing-masing menyetel alarm di hape agar terbangun saat akan shalat tahajud berjama’ah.

Jogja, 11 Mei 2014

“Allahu Akbar…”

Suara sang imam terdengar syahdu. Membelah waktu yang belum subuh. Seperti yang sudah dijadwalkan, kami semua bangun sekitar jam 3 pagi. Bergegas menambil air wudhu dan shalat tahajjud berjama’ah. Sebagian besar adik-adik turun memenuhi lantai satu. Aku dan beberapa akhwat memilih tetap di lantai dua. Alasan pribadiku hanya satu tetap ingin menjaga hijab dan tak ingin tahu siapa pemilik suara merdu itu.

Ayat demi ayat imam lantunkan. Bacaannya lantang dengan tajwid yang benar. Mahrajnya baik dan sangat lugas. Juz pertama ia khatamkan dan kami serasa sedang di bulan Ramadhan. Subhanallah, air mata tegenang, mengembun membuat penglihatan sedikit kabur. Kuusap pelan butiran hangat itu dengan ujung jilbabku. Bacaan dan suaranya membuatku rindu pada rumah Allah, Ka’bah.

Adzan subuh telah berkumandang. Setelah shalat tahajjud delapan rakaat dan ditutup dengan shalat witir, kami melanjutkan dengan shalat subuh. Banyak dari adik-adik yang terkantuk-kantuk. Wajar, mungkin karena tidak biasa, mungkin juga karena masih lelah.

Pagi ini Masjid Al-Hidayah nampak berbeda. Keriuhan terdengar di setiap sudut ruangan. Biasanya hanya ada beberapa jama’ah yang mengisi lantai satu, tapi hari ini bahkan sejak kemarin sore, lantai dua pun ikut terisi penuh. Hampir semua penghuninya kompak memegang Al-Qur’an. Kami melanjutkan bacaan sementara adik-adik mendapat tugas menghafal surah As-Shaf ayat satu sampai empat.

Setelah mendengarkan beberapa adik menyetorkan hafalan, aku dan beberapa akhwat yang lain harus meninggalkan mereka untuk sementara waktu. Amanah dan kewajiban lain sudah menunggu, membagikan ilmu pada adik-adik yang lain di Maskam UGM tepat setelah kajian rutin Ahad Pagi.

Hari sabtu dan ahad adalah hari yang aku sukai. Sejak sabtu pagi hingga ahad sore benar-benar diisi dengan kegiatan yang menyejukkan hati. Dan untuk minggu ini, agenda sabtu dan ahad bertambah dengan kegiatan mendampingi Mabit adik-adik SMAN 1 Wonosari.

Sekitar jam sebelas, aku dan Mega sudah tiba kembali di Masjid Al-Hidayah. Nisa, Rini, Tati, serta Dede menatap kami setengah takjub, setengah heran, setengah tak percaya kalau kami datang dengan bersepeda. Kami membalas tatapan mereka dengan senyuman dan beropini bahwa naik sepeda dari Maskam UGM ke Masjid Al-Hidayah bukanlah jarak yang jauh, yang tidak memerlukan bantuan mereka untuk menjemput kami, meski kami tahu betul mereka siap menjemput kami kapan pun.

Aku dan Mega datang tepat pada waktunya, tepat saat adik-adik sudah akan berkemas untuk kembali ke Wonosari karena acara sebentar lagi berakhir. Setelah shalat dan makan siang, adik-adik kami kumpulkan kembali sama seperti pertama kali berkenalan semalam, membentuk lingkaran besar dan sedikit bermain game, meminta satu dari mereka menyampaikan kesan mereka selama Mabit 2 hari 1 malam ini.

Acara perpisahan antara kami dan adik-adik berlangsung sederhana. Tak ada tangis-tangisan tentu saja. Sedih? Ya, pasti. Masih banyak yang ingin kami bagi untuk mereka tapi waktu tidak mencukupi. Karena itulah kami hanya bisa mengandalkan persembahan terakhir, buku saku dan pembatas buku yang keduanya telah kami selipi nasehat-nasehat kecil namun menyimpan makna yang besar.

Begitulah. Akhirnya Mabit yang dimulai sejak sabtu sore berakhir di ahad siang. Aku dan akhwat-akhwat yang lain pulang dan meninggalkan Masjid Al-Hidayah hampir bebarengan dengan rombongan adik-adik. Yang kami tahu, inilah pertemuan pertama dan terakhir kami dengan mereka, tapi yang kami tidak tahu adalah takdir Allah kedepan. Bisa jadi, esok hari entah itu kapan Allah kembali mempertemukan kami. Jika saat itu tiba, satu pesan kami Dik, jangan sungkan untuk menyapa, barangkali kami tidak bisa mengingat kalian semua yang ber-42.

Sebelum benar-benar mengakhiri tulisan ini, ada seuntai pesan yang ingin aku tuliskan untuk mereka, untuk kalian adik-adikku nun jauh di sana.

Dik, ada satu kelebihan yang kalian punya dan tidak kami miliki yaitu usia muda. Kalian masih muda, masa yang menjadi penentu kehidupan kalian beberapa puluh tahun ke depan. Di usia mudahlah waktunya kita menanam banyak bibit kebaikan agar di usia tua nanti bahkan di akhirat kelak kita tinggal memetik hasilnya.

Dik, jangan sia-siakan waktu yang kalian miliki. Isilah dengan hal-hal yang bermanfaat dan yang dicintai Allah. Teruslah bersemangat menuntut ilmu agama dan jangan lupa untuk terus tolong-menolong dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.

Terucap doa untukku dan untuk kita semua:

Ya Rabb, Yang Maha Memalingkan hati manusia. Palingkanlah hati kami pada kebenaran dan istiqamahkan kami di jalan-Mu hingga nyawa kami meninggalkan jasad. Pertemukanlah kami kembali di Surga Firdaus-Mu, Aamiin Ya Rabbal Aalamin… ^_^

_Nurhudayanti Saleh_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s